USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

FKIP USD berkolaborasi dengan ASJI selenggarakan Seminar Hari Guru

diupdate: 11 tahun yang lalu


Peringatan hari guru memang telah berlalu. Namun, kegiatan-kegiatan untuk memperingati jasa sang embun penyejuk dalam kehausan masih berlangsung di berbagai tempat. Universitas Sanata Dharma pun tidak mau ketinggalan. Pada hari Sabtu, 28 November 2015, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) USD bekerja sama dengan Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia (ASJI) menyelenggarakan Seminar Hari Guru. Seminar yang mengangkat tema “Pendidikan Humanis” ini ingin mengajak ratusan guru dari berbagai sekolah di Yogyakarta yang hadir untuk kembali mengingat inti dari pendidikan, yaitu adanya sisi humanisme.
Seminar Hari Guru ini memang diselenggarakan dalam waktu yang relatif singkat. Walaupun demikian, selama 4 jam berlangsungnya seminar, para peserta mendapat pemaparan tentang pendidikan humanis yang sangat kaya dari dua orang narasumber. Narasumber dalam seminar pendidikan humanis ini adalah Ki Purwanto Hudi R, seorang dosen dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa UST  dan Barli Bram, Ph. D., dosen program studi Pendidikan Bahasa Inggris USD.
Dalam presentasinya, ke dua narasumber mengangkat dua topik yang berbeda. Pak Purwanto, begitu sapaan akrabnya, sebagai seorang akademisi yang mendalami filsafat pendidikan dari bapak pendiri Taman Siswa, menyampaikan presentasi yang berjudul “Filsafat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara dalam Menyikapi Pendidikan Global”. Dalam penyelenggaraan organisasi Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara begitu menekankan pendidikan jiwa yang merdeka. Maka dari itu, beliau sangat menolak pendidikan gaya barat yang penuh dengan perintah, tekanan, dan tertib kaku. Pendidikan model seperti ini pada akhirnya akan berdampak kuat pada siswa pada penghilangan kemerdekaan atau kebebasan sesuai kodratnya dan keamanannya. Sebaliknya, pendidikan yang optimal menurut Ki Hadjar Dewantara adalah ketika anak didik merdeka batinnya, lahirnya, dan pikirannya. Kebebasan atau kemerdekaan ini kemudian akan memungkinkan anak didik untuk dapat mencari sendiri segala macam pengetahuan yang ia butuhkan dalam hidupnya dan akan membuat anak didik untuk tidak hanya sekadar mengikuti pemikiran orang lain. Selain pendidikan yang memerdekakan ini, pendidikan Tamansiswa juga dilaksanakan dengan tidak hanya mempertajam daya cipta (kognitif), namun juga daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif). Dengan menyelenggarakan pendidikan seperti di ataslah, para pelaku pendidikan dapat menyelenggarakan sebuah proses memanusiakan manusia yang mampu menjadi insan yang merdeka baik lahir maupun batinnya. Dengan melihat lebih dalam filsafat pendidikan Ki Hadjar Dewantara ini, para pelaku pendidikan diajak untuk mengatasi potret pendidikan zaman sekarang yang cenderung mengekang kemerdekaan siswa, cenderung biasa saja, dan cenderung membebani siswa.
Setelah pemaparan pendidikan humanis Ki Hadjar Dewantara dari Pak Purwanto, Pak Barli, sebagai seorang akademisi bahasa, menyampaikan pemaparan mengenai Bahasa dan Pendidikan Humanis: Dari Kintu ke Muntu. Kintu dan Muntu merupakan kata yang diambil dari Bahasa Kikonggo dari Afrika. Kintu yang berarti benda memiliki makna bayi yang baru lahir yang belum bisa berbahasa, sedangkan muntu yang berarti manusia memiliki arti manusia yang sesungguhnya karena sudah mampu berbahasa. Bahasa adalah alat dan juga senjata yang mampu berperan positif namun juga dapat berperan negatif. Maka dari itu, kita sebaiknya berhati-hati ketika mengarahkan dan menembakkannya karena dalam hidup manusia bahasa memiliki kedudukan dan peranan yang sangat penting. Oleh karenanya, para pendidik atau guru harus mampu menjadi fasilitator pembelajaran bahasa agar anak didik bisa menjadi manusia unik yang berpotensi, sebagaimana pengertian pendidikan humanis itu sendiri. Pemaparan mengenai bahasa dan pendidikan humanis pun menjadi penutup seminar hari guru ini.
Penyelenggaraan seminar hari guru ini ternyata tidak hanya sebagai peringatan hari guru, namun juga sebuah bentuk kontribusi USD dalam dunia pendidikan. USD melalui FKIP berharap agar melalui penyelenggaraan seminar ini para guru kembali mengingat inti dari pendidikan yang mana tidak hanya menekankan sisi kognitif maupun juga sisi humanis agar nantinya anak didik dapat menjadi manusia yang seutuhnya. Selain itu, seminar yang juga diselenggarakan dalam rangka Dies Natalis USD ke-60 ini, diharapkan dapat semakin membuat perayaan dies semakin hidup, sebagaimana dikutip dari sambutan Bapak Tarsisius Sarkim, Ph.D. untuk membuka rangkaian acara seminar. Selamat hari guru! (mdr)

  kembali