Pada hari Jumat, 27 November 2015 pemandangan berbeda terlihat di Panggung Terbuka Kampus 2 Universitas Sanata Dharma (USD). Dalam rangka merayakan Dies Natalis USD yang ke-60/Lustrum ke-12, paguyuban Ketoprak Sadhar Budaya mempersembahkan sebuah pementasan dengan lakon “Mentari pagi di Bumi Wilwatikta”.
USD memang terkenal dengan Indonesia mininya, sehingga meskipun ketoprak merupakan salah satu seni kebudayaan yang berasal dari suku Jawa, namun para pemain yang terlibat sebagai pengisi dalam acara ini berasal dari berbagai suku yang ada di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa siapapun dan apapun latar belakang kita, namun kita tetap satu Indonesia. “Pagelaran ketoprak tahun 2015 dalam rangka Dies Natalis USD ke-60 ini berbeda dengan tahun sebelumnya karena tidak menggunakan bahasa Jawa melainkan menggunakan bahasa Indonesia. Mengapa bahasa Indonesia? karena pemain dan pengisi yang terlibat dalam pagelaran ini tidak hanya orang yang memiliki latar belakang suku Jawa saja, melainkan orang-orang dengan latar belakang berbagai suku di Indonesia seperti Sumatra, Flores, dan bermacam- macam. Sehingga harapannya ketoprak menjelma menjadi kebudayaan yang dimiliki Indonesia, bukan hanya kebudayaan Jawa saja.” tutur Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D., Rektor Universitas Sanata Dharma dalam membuka pagelaran ketoprak ini.
Lakon “Mentari pagi di Bumi Wilwatikta” tersebut bercerita tentang intrik yg berkecamuk dalam istana yang didalangi oleh Mahapati karena ketidakpuasannya terhadap keputusan Raja Jayanegara yang lebih memilih Nambi untuk diangkat sebagai Mahapatih Hamangkubumi (Patih Utama). Ketika Nambi harus kembali ke Lumajang karena ayahandanya meninggal, kesempatan itu digunakan Mahapati untuk memfitnah Nambi. Dia melaporkan bahwa Nambi sedang menggalang kekuatan utk menyerang Majapahit. Saking licinnya mulut Mahapati,dan saking gampangnya Jayanegara dihasut,Nambi tersudut dan akhirnya tewas oleh kaki tangan Mahapati. Ra Kuti dan Ra Semi yg selama ini berada di pihak Nambi tidak terima dan melakukan pembalasan hingga ajal menjemput Mahapati.
Pagelaran ini melibatkan talent dari kalangan para dosen, karyawan, mahasiswa, dan alumni USD. Dengan disutradarai oleh Dalijo Angkring, pelawak dan aktor dari TVRI, pentas ketoprak ini sukses memukau dan menghipnotis para pengunjung yang hadir pada malam itu. Iringan musik gamelan Jawa nan merdu yang dibawakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Karawitan USD. Kisah yang menceritakan tentang perebutan kekuasaan dan tahta di kerajaan Wilwatikta (Majapahit) ini pun juga didukung para penari dari UKM Gerak dan Tari Sanata Dharma (UKM Grisadha). (TKAP)




