USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Remembering Past Human Rights: Involving the Next Generation

diupdate: 11 tahun yang lalu


Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Kata-kata Bung Karno yang masih sangat sering dikumandangkan hingga saat ini. Tampaknya kata-kata tersebut juga yang menyemangati Pusdema (Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Manusia) Universitas Sanata Dharma untuk menyelenggarakan diskusi bertema “Remembering Past Human Rights: Involving the Next Generation”. Diskusi yang diadakan pada hari Senin (23/11/15) di Gedung Pascasarjana USD tersebut merupakan hasil kerjasama Pusdema dengan AIFIS (The American Institute for Indonesian Studies). Diskusi ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa S1 USD maupun luar USD, S2, staf pengajar USD, hingga korban salah satu kejadian sejarah paling kelam di Indonesia, yaitu korban peristiwa 1965.
Tema diskusi kali ini muncul karena isu HAM kembali timbul baik di tingkat nasional maupun tingkat internasional. Salah satu isu HAM Indonesia yang dibahas di tingkat internasional tampak dari diselenggarakannya Pengadilan Rakyat Internasional (International People’s Tribunal/IPT) mengenai peristiwa 1965 di Den Haag, Belanda pada hari Selasa (10/11/15) hingga Jumat (13/11/15) lalu. Munculnya kembali isu-isu HAM saat ini mengindikasikan bahwa isu-isu tersebut belum sepenuhnya terselesaikan. Di sisi lain, munculnya isu-isu HAM tersebut tentu membuat para pemuda saat ini merasa bingung. Kebingungan ini dirasa wajar karena pemuda saat ini tidak terlalu tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu negara ini. Terlebih, ada kecenderungan dari pemerintah untuk menutup-nutupi sejarah negara ini. Begitu isi sambutan Rm.            Dr. F.X. Baskara Tulus Wardaya, S.J., M.A. selaku Ketua Pusdema USD yang sekaligus menjadi pembuka diskusi kali ini.
Dr. Elizabeth Drexler dari Michigan State University sebagai pemateri pertama mengungkapkan bahwa generasi saat ini bisa disebut sebagai generasi ke-3 atau generasi cucu dari para korban peristiwa 1965. Menurutnya, generasi ini sudah mendapat kemudahan berupa akses informasi, namun pengetahuan sejarah generasi ini dirasa kurang. Oleh karena itu, muncul gerakan-gerakan untuk setidaknya mengenalkan sejarah Indonesia kepada para pemuda melalui cara-cara yang dianggap ‘anak muda’, salah satu contohnya adalah peluncuran album berjudul ‘Prison Songs: Nyanyian yang Dibungkam’ oleh Koalisi Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) dan Taman 65 pada tanggal 21 Agustus 2015. Album ini berisi lagu-lagu yang diciptakan oleh para tahanan politik peristiwa 1965. Pembuatan album ini melibatkan beberapa musisi tanah air, di antaranya adalah Jerinx, penabuh drum band Superman is Dead, dan band indie yang saat ini sedang naik daun, Banda Neira.
Kemudian, Dr. Vissia Ita dari Universitas Sanata Dharma sebagai pemateri kedua mengangkat fenomena memorialisasi untuk para korban Holocaust di Jerman. Dr. Vissia Ita bercerita mengenai pengalamannya melihat langsung instalasi yang terpasang hampir di setiap sudut kota tempat ia menuntut ilmu di Jerman. Instalasi bernama ‘stolpersteinen’ tersebut merupakan karya seni yang ditujukan untuk mengenang dan menghormati para korban Holocaust yang dibunuh secara massal sepanjang 1933-1945. Instalasi yang terpasang di tempat-tempat umum mengundang para penduduk untuk setidaknya melirik tulisan yang tertera di instalasi tersebut. Oleh karena itu, para penduduk setidaknya bisa terpancing rasa ingin tahunya untuk menggali informasi mengenai sejarah Jerman, khususnya tentang Holocaust. Menurut Dr. Vissia Ita, hal tersebut bisa ditiru untuk menginformasikan kepada pemuda saat ini mengenai sejarah kelam yang pernah terjadi di Indonesia.
Diskusi kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung cukup hidup. Yang cukup menarik dalam diskusi kali ini adalah hadirnya beberapa korban peristiwa 1965 yang memberi kesaksian mengenai apa yang terjadi pada mereka pada tahun-tahun berdarah tersebut. Kesaksian yang diberikan membuat suasana diskusi menjadi hening seketika. Setelah selesai memberi kesaksian, diskusi akhirnya ditutup oleh Rm. Baskara yang membacakan rangkuman isi diskusi. Harapannya, adanya pengungkapan kebenaran dengan cara apapun, baik diskusi semacam ini atau pembuatan karya seni yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang sejarah kelam Indonesia, bisa membuat kita belajar dari sejarah sehingga apa yang terjadi di masa lalu tidak terulang lagi di masa depan. (rz)

  kembali