Program studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma baru saja merayakan dies natalis yang ke-25 tahun. Dalam rangka merayakan hari jadi tersebut, program studi BK USD menyelenggarakan sebuah seminar Konselor di Tengah Pergulatan Moral Seksualitas Remaja. Seminar diselenggarakan pada hari Jumat, 20 November 2015 di Ruang Seminar Kepodang, Gedung Percetakan Penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Seminar ini diikuti oleh para mahasiswa BK dan para guru BK dari Sekolah Mitra PPL dan magang di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Panitia mengangkat tema moral seksualitas remaja, sebagai bentuk keprihatinan prodi BK, akan maraknya kasus-kasus pelanggaran nilai moral seksualitas yang dilakukan oleh para remaja Yogyakarta dan sekitarnya. Kasus-kasus tersebut seperti: ditemukannya siswi Sekolah Menengah yang menyambi sebagai pekerja seks komersial, maraknya penyebaran video porno oleh para remaja Sekolah Menengah, ditemukannya remaja yang membintangi video porno, merebaknya kasus berpacaran di luar batas (sudah melakukan hubungan suami-istri di luar nikah), hingga kasus hamil dan menghamili di luar nikah di kalangan remaja Sekolah Menengah.
Berangkat dari keprihatinan tersebut, seminar ini bertujuan mengajak guru BK dan mahasiswa BK sebagai calon guru BK, agar memiliki pemahaman terkait dengan teori, kesiapan mental, serta kemampuan atau keterampilan khusus untuk menangani kasus-kasus terkait pelanggaran moral seksualitas remaja, seperti disebutkan di atas. Sebagai konselor sekolah, peran seperti apa yang bisa saya ambil dalam rangka membantu siswa menyelesaikan persoalan semacam itu? Pemahaman dan kemampuan apa yang sebaiknya saya kuasai? Reaksi seperti apa yang sebaiknya saya munculkan ketika pertama kali mengetahui ada siswa yang mengalami persoalan semacam itu? Seminar ini diharapkan dapat membuka mata, hati, dan pikiran peserta.
Sejalan dengan tujuan seminar di atas, sebagai pembicara pertama, Prof. Dr. H. Syamsu Yusuf L. N., M. Pd. mengulas tuntas peran konselor di tengah pergulatan moral seksuailitas remaja dari perspektif pendidikan. Secara detail dan bertahap, beliau memaparkan mulai dari faktor-faktor yang memicu pelanggaran moral seksualitas remaja, dampak-dampak yang akan dialami remaja, hingga alternatif pendekatan yang dapat dilakukan guru BK dalam menangani persoalan tersebut.
Sebagai pembicara kedua, Dr. R. Rubiyatmoko, Pr. melengkapi seminar ini dengan mengulas peran konselor di tengah pergulatan moral seksualitas remaja, dari perspektif moral keluarga. Romo Rubi menyampaikan bahwa, sebesar 70% pendidikan seksualitas dalam keluarga, mempengaruhi keadaan moral seksualitas remaja.
Seminar ini menjadi semakin hidup ketika pertanyaan-pertanyaan para mahasiswa dan guru BK mulai dilontarkan pada sesi tanya jawab. Antusiasme yang sedemikian besar dari peserta, menunjukkan kepada kita semua bahwa bahasan tentang peran konselor di tengah pergulatan moral seksual remaja, sungguh menjadi kebutuhan masa kini. Pemahaman akan kebutuhan itu semakin dikuatkan ketika bertanya, para guru dan mahasiswa menceritakan berbagai macam fakta, kasus-kasus di lapangan (sekolah) terkait pelanggaran moral seksualitas remaja (siswa).
“Seminar ini menjadi sungguh istimewa, karena jarang ada seminar tentang seksualitas yang dibahas secara mendalam, terutama dari sudut pandang moral keluarga.” ungkap ibu Prias Hayu Purba Ningtyas, M. Pd., dosen prodi BK USD. Seminar yang sungguh istimewa ini ditutup dengan pernyataan moderator seminar, bapak Nasarius Sudaryono, M. Hum yang menyimpulkan bahwa minimal ada dua alternatif utama yang dapat dilakukan guru BK dalam rangka pergulatannya di tengah pelanggaran moral seksualitas remaja yang marak. Alternatif pertama yaitu, guru BK hendaknya menjalin kerjasama yang kooperatif dan konstruktif, dengan pihak sekolah, keluarga, dan lingkungan sebaya siswa, dalam rangka menangani persoalan terkait. Kemudian alternatif kedua yaitu, pendidikan seksualitas di sekolah maupun keluarga, dapat menjadi upaya preventif dalam menangani kasus pelanggaran moral seksualitas remaja; dengan catatan bahwa, hakiki dari pendidikan seksualitas adalah penanaman nilai-nilai, serta diberikan secara mendalam dan personal, kepada para remaja (siswa Sekolah Menengah). (CV)




