USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pagelaran Wayang Kulit Semar mBangun Kahyangan: Mencapai Kesejatian Jiwa

diupdate: 11 tahun yang lalu


Dalam rangka Dies Natalis ke-60 tahun, Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Jumat, 13 November 2015 menggelar wayang kulit di Kampus III USD Paingan Maguwoharjo. Pagelaran wayang kulit ini didalangi oleh Ki Wisnu Hadisugito yang adalah putera dari Ki Hadisugito, maestro pewayangan klasik Yogyakarta.
Tema yang diangkat dalam pagelaran wayang kulit ini adalah “Semar mBangun Kahyangan”. Yang menarik di dalam acara ini adalah peserta atau penonton yang terlibat tidak hanya berasal dari lingkungan keluarga USD saja, tetapi acara ini mengundang masyarakat sebanyak tiga RT di sekitar Kampus III USD. Sebagaimana diungkapkan oleh Wakil Rektor IV USD, FX. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D, bahwa kegiatan ini didesain untuk mempererat hubungan dengan masyarakat di sekitar lingkup Kampus III USD. Maka sebagai bentuk rasa kekeluargaan, USD mengumpulkan dan menyediakan berbagai hidangan dan hadiah hiburan berupa doorprize.
Diungkapkan oleh beliau selanjutnya bahwa wayang diyakini sebagai bentuk pendidikan, di mana Semar yang diangkat sebagai lakon pewayangan yang mbangun kahyangan ini mengajak dan menginspirasi masyarakat sekitar USD untuk membangun masyarakat. Kiranya tujuan dari pagelaran wayang kulit ini selaras dengan cita-cita USD. Selain itu, hal kedua yang ingin dicapai adalah USD ingin nguri-nguri seni tradisi Jawa di era modern ini. Hal ini kiranya tepat dalam rangka 60 tahun USD, ada banyak kegiatan kesenian mulai dari pagelaran wayang lakon dan wayang kulit ini.
Ki Wisnu Hadisugito memainkan pewayangan yang begitu menghiburkan dan sarat dengan makna di dalamnya. Lewat goro-goro yang memainkan peran Petruk yang Jenaka, Ki Wisnu Hadisugito menggambarkan masyarakat kita saat ini yang ragu memperjuangkan keadilan dan kebenaran bila tidak memiliki kekuatan. Melalui lakon Semar mbangun kahyangan ini, Semar mengajak Pandhawa sebagai pemimpin rakyat suatu kerajaan untuk melakukan refleksi pertapaan terhadap keberadaan Pandhawa. Dalam pengertian ini, Kahyangan diartikan bukan sebagai suatu bentuk fisik tempat atau lingkungan tetapi kedalaman jiwa diri untuk menyadari keberadaan diri, yang bisa dibangun dengan spiritualitas maka Pandhawa diajak untuk bersemedi bersama yaitu membangun diri sendiri yang berarti kahyangan adalah simbol diri sendiri. Semar mengajak Pandhawa untuk retret bersama melihat kedalaman jiwa bahwa menjadi penguasa itu harus melebur menjadi orang biasa yang menyatu dengan rakyat biasa. Kekuasaan yang diamanatkan kepada Pandhawa adalah titipan dari Yang Mahakuasa.
Tetapi tentu melakukan sebuah perubahan tidak lepas dengan yang namanya tantangan dan rintangan. Salah satu lakon Pandhawa yang bernama Kreshna bahkan wadhul dengan para dewa yang ada di kahyangan bagaimana Semar yang disimbolkan sebagai abdi dari Pandhawa mampu membangun kahyangan bagi Pandhawa. Kekuatan dan kekuasaan terkadang membutakan diri menjadi lebih hebat dan luar biasa dibandingkan yang lain. Lewat pencapaian kesejatian diri ini, Semar ingin mengajak Pandhawa untuk mampu dan mau menghilangkan sikap kesombongan yang mampu menghancurkan diri sendiri dan orang lain.
Sebagaimana diungkapkan oleh konseptor dari pagelaran pewayangan kulit ini, Pius Nurwidasa Prihatin, Ed.D., bahwa kiranya lakon Semar tidak hanya mengajak Pandhawa saja untuk mencapai kedalaman jiwa tetapi kita semua yang diundang menjadi penonton di dalam pagelaran wayang ini. Membangun kahyangan adalah membangun kedalaman jiwa diri untuk semakin rendah hati dan mau dan mampu melayani sesama (man for others). Hal ini selaras dengan pedagogi Ignasian yang dihidupi oleh USD sebagai semangat untuk selalu mengajak kita berefleksi. “Semoga wayang klasik yang dihadirkan pada malam hari ini tidak terlepas dalam budaya kita dan kekuatan wayang klasik yang sarat dengan makna ini telah nampak dari dalang Ki Wisnu Hadisugito yang diturunkan oleh ayahnya Ki Hadisugito.” demikian ungkapnya. (FXAP)

  kembali