USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

STEPHANUS SUWARSONO DIKUKUHKAN SEBAGAI GURU BESAR

diupdate: 18 tahun yang lalu

Prof. St. Suwarsono, Ph.D. dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Pendidikan Matematika pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma di hadapan Senat USD, civitas akademika, dan tamu undangan Sabtu (23/5) di Kampus 3 USD Paingan. Pengukuhan ini dipimpin langsung oleh Rektor USD Dr. P. Wiryono Priyotamtama, S.J. Dalam kesempatan ini pula guru besar lulusan Monash University Austalia kelahiran 26 Juli 1949 ini menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul "Guru sebagai Agen Transformasi Budaya dengan Tinjauan Khusus Peranan Pendidikan Matematika dalam Transformasi Tersebut". Pak Warsono, demikian dosen ini sering disapa, dalam orasi ilmiahnya menegaskan alasan mengapa guru dipandang cocok sebagai agen transformasi budaya. Menurut beliau, dari segi potensi yang dimiliki, guru (sebagai suatu korps atau profesi) mempunyai potensi yang besar untuk menjadi agen, atau kekuatan pendorong, dari transformasi budaya. Transformasi budaya tersebut mula-mula dilakukan pada peserta-peserta didiknya, tetapi kemudian secara informal juga dapat dan perlu menyebar ke dalam masyarakat dengan melalui keterlibatan-keterlibatan guru pada kegiatan RT, RW, LKMD, dan sebagainya. Potensi guru untuk menjadi agen atau kekuatan pendorong tersebut besar, dengan alasan-alasan: (1) Jumlah guru di Indonesa cukup besar. Berdasarkan data tahun 2007, jumlah guru di Indonesia ada 2,3 juta, (2) Latar Pendidikan mereka secara umum relatif baik, setidak-tidaknya di atas SMA/SMK. Bahkan, menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional RI Nol 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, para guru nantinya semua harus berlatar belakang DIV atau S1. Berdasarkan data tahun 2007, dari 2,3 juta jumlah guru yang disebut di atas, 37% telah memiliki kualifikasi DIV atau S1; (3) Mereka berada dalam suatu korps dengan suatu struktur organisasi yang jelas, yang terkait dengan struktur organisasi persekolahan; (4) Para guru tugasnya memang menjadi pendidik, bukan sekedar pengajar, sehingga mereka memang mempunyai tugas untuk mengembangkan kepribadian siswa, terlepas dari mata pelajaran apapun yang dipegangnya; (5) Dalam pelaksanaan tugasnya, para guru sudah terbiasa bekerja keras, dengan remunerasi yang seringkali tidak sesuai dengan beratnya tugas; dan (6) Sesuai dengan hasil penelitian di banyak tempat, kepuasan guru dalam bekerja pada umumnya lebih disebabkan oleh kepuasan guru dalam bekerja pada umumnya lebih disebabkan oleh kepuasan dalam melihat siswa yang dididiknya berhasil, daripada disebabkan oleh gaji yang tinggi, meskipun tidak berarti bahwa guru tidak perlu digaji secara layak. Lebih lanjut Pak Warsono secara khusus menguraikan peranan pendidikan matematika dalam transformasi budaya manusia Indonesia. Ditegaskannya bahwa berdasarkan karakteristik matematika sebagai suatu ilmu dan juga berdasarkan objek-objek langsung maupun objek-objek tidak langsung, serta berdasarkan kajian tentang peranan matematika dalam kehidupan manusia di dunia nyata, dapat disimpulkan bahwa matematika dapat digunakan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan tertentu dalam diri manusia, antara lain: kemampuan mengamati pola atau struktur dari suatu situasi, kemampuan membedakan hal-hal yang relevan dan hal-hal yang tidak relevan pada suatu situasi atau suatu permasalahan, kemampuan menalar secara logis, kemampuan berpikir dan bertindak secara konsisten, kemampuan membuat prediksi atau perkiraan tentang sesuatu hal berdasarkan data-data yang ada, kemampuan berpikir dan bertindak secara mandiri, kemampuan berpikir kreatif, dan kemampuan memecahkan masalah dalam berbagai situasi. Dari pemerolehan kemampuan-kemampuan tersebut, tampak bahwa pendidikan matematika sangat berperan dalam transformasi budaya di kalangan para siswa, yaitu transformasi dari situasi ketika kemampuan-kemampuan tersebut belum dimiliki secara memadai oleh para siswa ke situasi ketika kemampuan-kemampuan tersebut telah dimiliki secara memadai oleh para siswa. (Atk)

  kembali