Rabu (4/11) Program Studi Pendidikan Sejarah bekerjasama dengan Pusat Kajian Demokrasi dan Hak-hak Asasi Masyarakat (PUSDEMA) mengadakan seminar dengan tema “Peran Novel Sejarah dalam Pembelajaran Sejarah” di ruang Seminar LPPM, Universitas Sanata Dharma. Pembicara seminar ini adalah Drs. Yohanes Rasul Subakti, M.Pd, dosen Pendidikan Sejarah, dan Dr. Yoseph Yapi Taum, M.Hum, dosen Sastra Indonesia.
Diskusi dalam seminar ini diawali dengan presentasi dari Yoseph Yapi Taum mengenai kekaburan antara fakta dan fiksi. Sastra adalah fiksi, dan sejarah adalah fakta. “Tetapi, sering sastra justru berbicara fakta lebih banyak dari sejarah.” katanya. Mengutip Brannigan, ia menulis dalam makalahnya bahwa “kaitan antara sastra dan sejarah bukanlah studi teks (sastra) dan konteks (sejarah), bukan pula studi sastra dan sejarahnya, melainkan studi sastra di dalam sejarah (literature in history)”.
Yoseph Yapi Taum membicarakan cukup banyak mengenai hasil disertasinya yang membahas representasi tragedi 1965 dalam sastra. Pada masa Orde Baru, yang merupakan waktu terjadinya tragedi itu, kebenaran sejarah adalah monolitik (tunggal). Pemerintahan Orde Baru mempropagandakan mengenai PKI sebagai pelaku utama G30S, dan kebenaran inilah yang banyak dianut dan membekas dalam ingatan bangsa Indonesia. Kemudian, melalui perspektif New Historicism, ia merekonstruksi ulang kejadian itu, dengan melihat dunia Orde Baru dalam sastra.
Kemudian, Yohanes Rasul Subakti memberikan sebuah pemaparan model pengajaran mengenai penggunaan sastra dalam mengajarkan sejarah. Hal ini berangkat dari sebuah kenyataan lapangan bahwa mata pelajaran Sejarah di sekolah-sekolah adalah “Membosankan. Remeh. Formal. Hapalan sejak SD. Tidak paham makna dan manfaatnya.” seperti yang ditulis olehnya dalam makalahnya. “Novel dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah untuk membangun emosi, menumbuhkan minat siswa, dan menjadi sarana pembelajaran.” jelasnya.
Dalam presentasinya mengenai pembelajaran sejarah berbasis novel sejarah, ia menggunakan model Project Based Learning (Model Pembelajaran Berbasis Proyek). Melalui model ini, pembelajaran bisa menjadi lebih interaktif dan siswa bisa menjadi aktif, kritis, dan mandiri.
Sisko, salah seorang peserta seminar, menanggapi, “Siswa tidak akan menjadi rajin membaca jika gurunya tidak rajin membaca.” Sehubungan dengan penggunaan karya sastra dalam pembelajaran sejarah, ia menambahkan bahwa sering ada kotak-kotak antara satu mapel dengan mapel lainnya. “Perlu ada sinergitas antara para guru.” katanya. Hal ini pun ditanggapi secara postitif oleh para pembicara.
Melalui seminar inilah ada dialog antara sastra dan pendidikan sejarah. Pendidik, sebagai garda depan untuk menyampaikan ilmu kepada generasi muda, memang memerlukan dialog dengan mata pelajaran yang lain agar murid bisa menjadi pembelajar yang aktif, kritis, dan mandiri. Meski isu sejarah yang diangkat dalam novel sejarah adalah isu sensitif, namun bangsa Indonesia perlu berani untuk tahu sejarahnya agar berani melangkah ke masa depan. (GMP)




