USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Ketika Matahari Merepresentasikan Jawa

diupdate: 18 tahun yang lalu

Pada awalnya kesenian Jawa dan Bali dipandang sebagai suatu tontonan yang datang dari jauh. Namun demikian, mulai awal Abad ke-20 orang Eropa, Amerika, India serta bangsa-bangsa lain mulai belajar menafsirkan sendiri seni tari, musik dan pedalangan yang berasal dari Nusantara. Sementara itu sejumlah orang Indonesia seperti Raden Mas Jodjana dan Dewi Dja mulai menetap di tanah luar air dan menjalani profesi sebagai seniman. Kenyataan ini mendorong perlunya mengangkat sejarah seni pentas Indonesia dari perspektif transnasional. Butir-butir pemikiran di atas mengemuka dalam acara Proseminar Terbatas yang dibawakan oleh Dr. Matthew Cohen, dosen senior di Jurusan Drama dan Teater, Royal Holloway, Universitas London, Inggris, yang sekaligus adalah seorang dalang wayang kulit. Proseminar diselenggarakan selama dua hari di Kampus Pasca-Sarjana USD tanggal 17-18 April 2009 dan terselenggara berkat kerjasama antara PUSdEP (Pusat Sejarah dan Etika Politik) dan Anjani (Pusat Studi Perempuan, Media, dan Seni) USD. Topik yang dibahas adalah “Performing Otherness: Pementasan Jawa dan Bali di Luar Indonesia, 1905-1952”. Acara ini dihadiri oleh sejumlah dosen dan mahasiswa USD, khususnya para peminat sejarah dan seni. Dikemukakan oleh Cohen, salah seorang yang sangat terkenal dalam upaya merepresentasikan budaya Jawa di Eropa pada awal Abad ke-20 adalah orang yang menyebut dirinya sebagai “Mata Hari”. Bernama asli Margaretha Geertruida Zelle, Mata Hari pernah tinggal di Hindia Belanda antara tahun 1897 hingga 1902 sebagai istri seorang tentara KNIL (Tentara Kolonial Belanda) bernama John MacLeod. Pada tahun 1905, setelah bercerai dengan MacLeod, Zelle pergi ke Paris untuk bekerja di sana dan mengklaim diri sebagai seorang penari Jawa, meskipun sebenarnya dia sama sekali tidak pernah belajar menari Jawa secara formal. Tarian-tariannya dibuat se-eksotis mungkin (dengan segala pernik-pernik yang berbau “Timur”) dan ternyata cukup meyakinkan publik Eropa waktu itu. Iapun mengambil nama yang kedengaran eksotis pula, yakni Mata Hari. Antara lain melalui apa yang dilakukan oleh Mata Hari inilah budaya Jawa dikenal dan dipersepsi oleh masyarakat Eropa waktu itu. Ketenaran Mata Hari di atas panggung ternyata diikuti ketenaran serupa di luar panggung. Bak gayung bersambut, Mata Hari menyukai hal itu dan bahkan bersedia tidur dengan orang dari kebangsaan apapun asal bayarannya tinggi. Bukan masalah baginya kalau malam ini harus tidur dengan orang Perancis dan besuk dengan orang Jerman. Ketenaran dan uang, itulah yang penting baginya. Apa boleh buat, gara-gara pernah tidur dengan tentara Jerman, ketika pecah Perang Dunia Pertama oleh Perancis (di mana Jerman dan Perancis saling bermusuhan) ia dituduh sebagai mata-mata Jerman. Pada tahun 1917 ia ditembak mati oleh militer Perancis. Kisah tentang Mata Hari begitu menakjubkan banyak orang, hingga tak lama setelah meninggalnya mulai dibuatlah berbagai cerita dan film tentang dia. Hingga sekarang sudah ada belasan atau mungkin bahkan puluhan film berbagai jenis dibuat tentang Mata Hari. Meskipun di Jawa sendiri tokoh Mata Hari ini kurang dikenal, di luar Indonesia kisah tentang Mata Hari selalu dikaitkan dengan eksotisme budaya Jawa. (BTW) Selain berkisah tentang Mata Hari, Dr. Cohen juga secara menarik menyampaikan kisah-kisah lain tentang upaya merepresentaikan budaya Jawa di luar negeri. Saking menariknya para peserta meminta supaya Proseminar dilanjutkan. Dr. Cohen bersedia. Proseminar lanjutan akan diadakan pada Jumat-Sabtu tanggal 22-23 Mei 2009 jam 13:00 di Kompleks Pasca Sarjana USD. (Lisa/BTW)

  kembali