USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Mahasiswa USD Adakan Longmarch dalam Rangkaian Festival Sanata Dharma

diupdate: 11 tahun yang lalu


Pada hari Jumat tepatnya 30 Oktober 2015, Festival Sanata Dharma atau Fesadha melakukan kegiatan Longmarch yakni menempuh perjalanan dari Kampus 3 Universitas Sanata Dharma (USD) di Paingan Maguwoharjo menuju ke Kampus 2 USD di Mrican dengan berjalan kaki. Para peserta longmarch tercatat berjumlah 200 orang yang terdiri dari berbagai mahasiswa aktif  USD.
Acara dimulai tepat pukul 07.00 WIB dengan titik kumpul di Hall utara Kampus 3 USD yang diawali dengan kegiatan berkunjung dan masuk ke sekolah-sekolah dasar untuk berdinamika bersama adik-adik dan bermain bersama. Para mahasiswa mengajak siswa sekolah dasar untuk tetap melestarikan permainan-permainan tradisonal yang lebih mendidik dibandingkan dengan bermain gadget atau smartphone karena akan menumbuhkan budaya individualis di tengah masyarakat Indonesia yang seharusnya berjiwa sosial karena kemajemukannya.
Longmarch sendiri merupakan rangkaian acara Fesadha yang bertujuan untuk mewujudkan nilai-nilai keIndonesiaan yang telah ditanamkan oleh seorang pendiri, guru besar, sekaligus panutan bagi Universitas Sanata Dharma yakni Driyakara. Mengindonesiakan Indonesia merupakan yel-yel atau ungkapan yang dibawa oleh para peserta longmarch untuk membakar semangat mereka dalam melayani dan terus dikumandangkan selama kegiatan berlangsung. Puncak acara adalah ketika secara simbolis seluruh peserta berjalan kaki dari paingan menuju mrican. Makna dari simbolisasi ialah meskipun USD terdiri dari beberapa kampus dan tersebar di beberapa titik di Yogyakarta, namun Universitas Sanata Dharma tetap berdekatan dan tetap satu bahkan dapat ditempuh dengan berjalan kaki. “Kegiatan berjalan kaki dari Kampus Paingan ke Kampus mrican ini berangkat dari keinginan untuk membuktikan kepada oknum-oknum yang mulai mengkotak-kotakkan mahasiswa USD dengan memberi label mahasiswa paingan ataupun mahasiswa mrican. Longmarch ini menunjukkan tidak ada yang namanya mahasiswa Mrican atau mahasiswa Paingan, yang ada ialah mahasiswa USD.” ungkap Faris Sanjaya selaku Ketua acara longmarch.
Sepanjang perjalanan, para peserta juga membagikan mainan tradisonal kepada anak-anak yang ditemui seperti otok-otok dan kincir angin plastik. Mainan ini dibagikan secara gratis dengan tujuan mengajak para anak-anak Indonesia tetap mencintai budaya dan melestarikan permainan tradisional. Memang di jaman modern seperti sekarang ini, banyak anak-anak kecil telah terbiasa bermain video game dan mengurung diri di rumah mereka melihat komputer atau gadget. Tidak seperti dahulu, ketika tertawa didapatkan karena bermain, bercanda, dan bersenda gurau bersama tetangga dan teman sepermainan. Faris Sanjaya juga mengatakan “Jika kita bermain video game, kita terluka, terjatuh tidak akan terasa. Namun jika kita keluar dan bermain bersama teman-teman, kita jatuh dan terluka pasti benar-benar ada rasanya”. Intinya adalah permainan jaman sekarang hanya memberikan pengalaman semu bagi anak-anak. Lewat kegiatan ini, mereka diajak untuk kembali bermain bersama teman-teman dan melestarikan permainan tradisional yang tentunya mmberikan pelajaran, pengalaman juga keceriaan yang nyata bagi generasi penerus bangsa. (TKAP)

  kembali