USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Mempertemukan Seni dengan Orang Muda
Melalui Bincang-Bincang Seni Budaya Humaniora

diupdate: 11 tahun yang lalu


Setelah sukses mengadakan sarasehan bertajuk Rasa(h) Kuliah dan Rasa(h) Ngibing beberapa bulan yang lalu, Kementrian Pemberdayaan Sumber Daya Manusia, Badan Eksekutif Mahasisa (BEM) USD kembali mengadakan sebuah sarasehan dengan tema Artivisme, Seni Budaya Yang Memanusiakan. Sarasehan yang merupakan salah satu rangkaian acara Festival Sanata Dharma ini diselenggarakan pada hari Minggu, 25 Oktober 2015. Acara bincang-bincang yang mengambil tempat di Auditorium Driyarkara USD ini pun berhasil menghimpun peserta yang hampir memenuhi seluruh kursi Auditorium. Mahasiswa USD dan non USD, para aktivis, pemerhati lingkungan, dan warga sekitar USD terlihat antusias mengikuti seluruh sesi sarasehan artivisme dari awal hingga akhir.
Hepi Pionery, salah satu penanggung jawab acara, mengatakan bahwa pemilihan tema Artivisme ini dilatarbelakangi harapan pada masyarakat sekitar dan mahasiswa USD khususnya agar bisa lebih kritis dalam menanggapi isu-isu yang beredar di masyarakat. Namun demikian, kritis yang dimaksud di sini bukanlah kritis yang anarkis. Sifat kritis yang dimaksud salah satunya adalah dengan berpandangan terbuka terhadap permasalahan yang terjadi di sekitar. Keanarkisan tersebut harus dihindari dan sebaliknya dicarikan sarana penyaluran. Salah satu media penyaluran kekritisan yang diharapkan dimiliki oleh kaum muda adalah seni. Seni dipilih karena mempunyai beberapa fungsi. Selain menjadi sarana entertainment, seni juga mampu menggerakan jiwa artivisme itu sendiri.
Berlatar belakang keinginan tersebut, panitia mendatangkan I Gede Ari Astina, drummer band Superman Is Dead (SID) dan Andrew Lumban Gaol dari Anti Tank Project street artist sebagai narasumber acara dan Kiki Pea, vokalis Kiki and the Klain yang juga seorang jurnalis, sebagai moderator sarasehan. Para pembicara ini dipilih karena beliau dipandang sebagai seniman yang tidak hanya mengedepankan nilai komersil namun juga nilai sosial.
Dalam acara bincang-bincang orang muda yang berlangsung selama kurang lebih tiga jam ini, Jerinx, sapaan I Gede Ari Astina, dan Andrew menceritakan keprihatinan mereka akan permasalah-permasalahan sosial. Keprihatinan mereka ternyata dilatarbelakangi oleh semangat yang sama. Mereka mengungkapkan bahwa hidup manusia tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga bagi orang lain. Keprihatinan Jerinx dan Andrew pun tertuang pada karya-karya seni yang dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Jerinx, yang juga dikenal sebagai aktivis Bali Tolak Reklamasi Teluk Banda, menyuarakan kekritisannya melalui seni musik bersama rekan-rekannya di SID. Sedangkan Andrew, yang tergabung dalam aktivis Warga Berdaya Jogja, menyuarakan keprihatinannya melalui seni mural. Karya-karya para seniman ini pun dapat dinikmati dalam alunan lagu-lagu SID dan coretan-coretan sarat makna di beberapa dinding pinggir jalan di Yogyakarta.
Setelah seluruh materi selesai disampaikan oleh para narasumber, peserta yang hadir pun diberi kesempatan untuk memberikan tanggapan dan pertanyaan. Antuasiasme dan kekritisan para peserta begitu terasa memenuhi Auditorium USD. Para penanya ternyata tidak hanya menyoroti permasalahan yang ada di Bali dan Yogyakarta seperti fokus utama Jerinx dan Andrew. Beberapa dari mereka menyampaikan keprihatinannya akan permasalahan sawit di Palangkaraya, penekanan gerakan-gerakan daerah di Siantar, cara mengajak orang muda yang kian hari dinilai makin apatis terhadap lingkungan sekitar, dan berbagai permasalahan di berbagai daerah di Indonesia lainnya.
Dalam acara ini pula, Jerinx mengajak orang-orang muda yang hadir untuk menjadi lebih peduli terhadap permasalahan di sekitarnya. Beberapa aksi nyata yang dapat dilakukan orang muda, ungkap Jerinx, adalah dengan membuat organisasi yang tidak bergantung pada pemerintah dan dengan bersifat selektif dalam membaca berita agar tidak mudah ter-brainwash. Jerinx, di akhir pemaparan materinya,  juga mengajak penggiat band di Yogyakarta untuk turut serta menyuarakan keprihatinannya akan permasalahan sosial.
Setelah acara ini dan setelah bertemunya anak muda dan seni ini, Kementrian PSDM akan mewujudkan sebuah aksi nyata untuk mewadahi kekritisan anak muda. Acara pemutaran film “Belakang Hotel” pun telah disusun agar apa yang menjadi harapan terselenggaranya acara sarasehan ini dapat selalu terawat baik dan pada akhirnya disemai di masyarakat. (mdr)

  kembali