“Sekali anda menghindari kesempatan, maka anda akan menumpuk beban. Maka sebaiknya anda mencari kesempatan atau kalau perlu merebut kesempatan.” Begitulah ujar Gregorius Sukadi, dosen PBSID (Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah) USD Yogyakarta dalam “Workshop Public Speaking” yang diadakan oleh Lembaga Bahasa Universitas Sanata Dharma (LBUSD) di ruang seminar LSR kampus II Mrican. Kesempatan yang dimaksud tersebut tidak lain adalah kesempatan untuk tampil didepan umum. Faktanya, masih banyak orang yang merasa takut untuk tampil didepan umum. Tampil ddan berbicara di depan orang banyak juga dianggap sebagai momok yang sangat ditakuti. Bahkan kalau bisa mereka akan sebisa mungkin menghindari kesempatan untuk berbicara atau tampil didepan publik. Jangankan untuk tampil dan berbicara didepan umum, untuk mengangkat tangan untuk menyampaikan ide didalam kelas saja masih enggan dilakukan oleh sebagian orang. Padahal kesempatan untuk tampil didepan umum bisa jadi merupakan kesempatan yang langka sehingga sangat penting bagi kita untuk menanggapi kesempatan itu. Mengapa takut tampil? Gregorius Sukadi ,atau yang akrab disapa Pak Kadi, mengemukakan beberapa alasannya. Salah satu alasan mengapa orang takut tampil merujuk kepada macam pembicara yang mencerminkan karakteristik kepribadian orang tersebut. Ia kemudian membagi tipe “dosa asal” pembicara menjadi empat, yaitu tipe kelinci (kelinci takut sebelum mengetahui apa yang harus dikerjakannya), tipe kambing (siap tetapi tidak sungguh-sungguh), tipe burung merak (hanya mengutamakan penampilannya saja), tipe ayam jago (kepercayaan diri tinggi dan punya kecenderungan untuk meremehkan orang lain). Namun, disamping keempat tipe tersebut, ada satu tipe yang dianggap perlu untuk diperhatikan, yaitu tipe manusia (maju untuk tampil sebagai diri sendiri). Akan tetapi, kesadaran dan pengetahuan tidak dirasa cukup tanpa adanya usaha untuk tampil sebanyak mungkin dengan audience (baca hadirin, red) dan topic yang berbeda-beda. Dengan kata lain, dari yang ‘belum biasa’ menjadi ‘lebih biasa’. Selain pengaruh karakteristik kepribadian dan frekuensi tampil, kondisi pembicara sendiri juga dapat menimbulkan masalah. Menjaga dan mempersiapkan diri kita sendiri secara fisik, mental, dan rohani kemudian menjadi sangat penting untuk dilakukan. Dalam seminar yang diikuti oleh para instruktur, staff dan dosen LBUSD tersebut, pembaharuan terhadap paradigma keliru tentang Pblic Speaking juga menjadi sorotan utama. Pak Kadi, yang juga seorang penulis itu, menegaskan bahwa ada dua poin yang harus kita sadari saat tampil dan berbicara didepan publik. Poin pertama berkaitan dengan pandangan atau perspektif kita tentang audience. “Jangan menganggap audience itu bodoh, seperti batu nisan atau seperti kerbau yang dapat dikesampingkan begitu saja.” Ujarnya. Lebih daripada itu, audience adalah sesama kita dan mereka dapat dan mampu berpikir kritis terhadap ucapan serta tindakan kita. Akan tetapi, kita juga tidak boleh berlebihan dan menganggap bahwa kita akan dihakimi, dijelekkan, dan dinilai tanpa alasan yang logis dan sehat. Hal ini tentunya bisa menghancurkan diri kita sendiri. Pada intinya, seni tampil dan berbicara didepan umum atau Public Speaking adalah sebuah tantangan bagi semua orang agar lebih terbuka, maju, dan dinamis dalam menggali potensi diri. Jadi, masih takut? (Bunga&Novi)




