Seminar Sanata Dharma Berbagi kali ini mengangkat tema “Narasi Sebagai Media Transformasi”. Berlokasi di Ruang Seminar Gedung LPPM Universitas Sanata Dharma, seminar ini dihadiri oleh sejumlah tamu undangan. Dua pembicara dalam seminar ini adalah dua orang doktor muda di Universitas Sanata Dharma, mereka adalah Y.B. Cahya Widiyanto dari Psikologi dan Hongki Julie dari Pendidikan Matematika. Jalannya seminar dipandu oleh Dr. Marcellinus Andy Rudhito, S.Pd. selaku moderator.
“Merupakan suatu kebanggaan karena pada kesempatan ini, seminar akan dibawakan oleh dua orang dosen Universitas Sanata Dharma yang baru saja berhasil memperoleh gelar doktor. Salah satu latar belakang diadakan seminar dengan tema “Narasi Sebagai Media Transformasi” ini adalah perkembangan Universitas Sanata Dharma yang belum sebaik perkembangan yang telah dialami di luar negeri. Sebelumnya kita berkaca dulu dari perkembangan pendiddikan di Indonesia. Sebagai contoh, hingga saat ini Indonesia baru berhasil mempublikasikan 5.000 karya ilmiah, sedangkan Malaysia sudah mencapai 25.000 karya ilmiah. Berangkat dari hal ini, kita berkumpul bersama dalam seminar ini sebagai respon atas keprihatinan yang terjadi, mari bersama kita lakukan pembangunan etos akademik. Lewat seminar ini, serta dalam rangka perayaan 60 tahun Universitas Sanata Dharma semoga ruang-ruang kondusif dapat semakin tercipta sehingga suasana akademik yang bermutu dan nyaman berhasil dibangun bagi para peserta didik.” ungkap Rektor USD Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. dalam kata sambutannya.
Pembicara pertama, Bapak Y.B. Cahya Widiyanto mengangkat topik “Power of Narrative”. Narasi sebagai pelopor yang melahirkan pemaknaan pelaku yang diartikulasikan melalui tindakan yang mengkontruksi realitas sosial. Narasi yang berisi pengalaman, nilai yang transformatif akan menghasilkan transformasi. Sebaliknya, narasi yang berisi pengalaman sumir tentang pengalaman nilai dan identitas akan menciptakan realitas sosial yang penuh kecemasan dan gamang. Dari penelitian yang bertajuk “Penelitian Kolaboratif: Membangun Kembali Keterlibatan Subjek dalam Transformasi”, beliau berbagi tentang penelitian kolaboratif yang ia lakukan antara beliau (peneliti) dan petani dalam melakukan gerakan revitalisasi petani. Mengangkat tajuk ini karena beliau melihat adanya realitas bahwa sebagian besar petani seakan “malu” akan profesinya, ditunjukkan dengan jarangnya profesi petani tercantum dalam kartu identitas para petani, para petani umumnya menulis profesi mereka sebagai swasta. Sebagian besar petani yang telah diajak berdialog dengan pak Cahya juga tidak ingin anak-anak mereka meneruskan pekerjaan mereka sebagai petani sehingga petani terancam mengalami depopulasi.
Pak Cahya ingin membangun suatu narasi “creative return to the past” untuk menanggulangi paradigma “future power to the village” seperti yang selama ini terjadi. Metode yang dilakukan pak Cahya juga didukung dengan kondisi petani yang well educated, di mana mereka paling tidak telah menempuh pendidikan setingkat SMP maupun SMA. Beliau melangsungkan penelitiannya dengan membangun hal yang paling mendasar dan esensial yakni membangun relasi dengan subyek (petani). Pak Cahya bercerita, kemudian para petani juga bercerita, selanjutnya mereka berdiskusi dan membangun suatu strategi yang disepakati bersama. Penelitian kolaboratif ini juga dilakukan dengan metode etmografi (membuat tulisan), sehingga peneliti dapat mengetahui strategi dan perkembangan dari narasi subjek. Terdapat beberapa langkah unik yang dilakukan oleh pak Cahya, di antaranya menyetelkan film tentang gerakan perjuangan petani, sebuah film yang merefleksikan kehidupan petani sebagai bentuk “provokasi” sehingga dapat membakar semangat para petani. Beliau juga mengungkapkan bahwa tindakan sosial tidak harus interogatif, jadi ketika berdialog, peneliti perlu memahami permainan bahasa sehingga informasi dapat diperoleh tanpa harus menanyakan banyak sekali hal. Suatu metode dialogis juga tidak menggurui, melainkan sharing jadi peneliti mendengarkan saja apa yang disampaikan oleh subyek tanpa memberi pengajaran atau berusaha memberi saran ketika dalog terjadi. Hasil penelitian kolaboratif beliau terlihat hingga saat ini, dimana petani yang menjadi subyek penelitian beliau telah memiliki inovasi sumber penghasilan yang menjanjikan yakni bertani jamur.
Pembicara kedua, Bapak Hongki Julie mengangkat topik “Workshop dan Sumber Belajar Sebagai Narasi”. Kedua sarana ini (workshop dan sumber belajar) dipakai dalam usaha mentransformasi pengetahuan guru terkait dengan pendekatan realistik. Subyek yang dipilih oleh bapak Hongki adalah guru SD karena bagi bapak Hongki, guru SD memiliki peran teramat penting karena merekalah yang mengajarkan ilmu-ilmu dasar bagi seorang siswa, jika sejak awal pondasi dasar tidak kuat, tentu akan sulit bagi siswa tersebut dalam pendidikannya di tahap selanjutnya.
Narasi dalam bentuk sumber belajar adalah narasi ilmiah tertulis yang mencoba untuk mendeskripsikan tentang filosofi, prinsip, dan karakteristik Pendidikan Matematika Realistik. Matematika sendiri perlu dipahami sebagai cara menggunakan pikiran manusia yang sangat tergantung kekuatan cara berfikir manusia. Matematika perlu diajarkan dengan cara-cara yang memungkinkan siswa untuk menggunakan kecerdasan mereka, bukan hanya menghafal.
Harapan dari penelitian ini tentunya terjadi peningkatan pengetahuan. Jika terjadi peningkatan pengetahuan, maka bisa dikatakan bahwa narasi tersebut dapat membantu guru mentransformasi pengetahuan yang mereka miliki untuk mengakomodasi pengetahuan baru. Dalam penelitiannya, pak Hongki membuat buku tentang teori pendidikan matematika realistik untuk para guru SD. Penelitian beliau juga melihat dampak narasi yang diterjemahkan dalam bentuk tindakan, yaitu workshop. Worskhop dapat menunjukkan implementasi guru yang menjadi subyek.
Lewat penelitiannya pak Hongki ingin membuat para guru memahami materi secara teoritis dan dapat mengimplementasikannya, namun lewat hasil penelitian beliau didapatkan bahwa sebelum dan sesudah subjek memperlajari bahan ajar pendidikan matematika realistik (PMR), banyak indikator kemunculan tiap karakteristik PMR sama banyak antara sebelum dan sesudah mempelajari sumber belajar PMR. Pelatihan pendidikan matematika realistik ini tidak hanya berhenti di ranah penelitian saja. Workshop PMR telah diselenggarakan oleh pak Hongki dan rekan-rekannya di beberapa tempat, khususnya di Universitas Sanata Dharma workshop juga dilaksanakan dalam waktu dekat. (EEN)




