“Seni itu tidak bisa tidak diekspresikan, dan kegiatan ini adalah salah satu wujud nyata dari ungkapan tersebut.” Begitulah petikan sambutan yang dibawakan oleh Bapak F.X. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D. selaku Ketua Panitia Dies Natalis USD yang ke-60, saat membuka acara pergelaran sendratari 2015 pada hari Sabtu (3/10). Pergelaran sendratari yang membawakan kisah berjudul Ketangguhan di Balik Sampul Kecantikan “RORO MENDUT” ini berjalan dengan sukses dan mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari para penonton.
Pada tahun 2015 ini, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Group Tari Sanata Dharma (Grisadha) dan UKM Seni Karawitan kembali berkolaborasi dalam mengadakan kegiatan pergelaran sendratari. Kegiatan yang telah memulai persiapannya pada bulan November 2014 ini merupakan kali ketiga diadakan di USD. Faustina Monika Averia Sarasakti, selaku Ketua Panitia Pergelaran Sendratari 2015, mengungkapkan bahwa pergelaran ini merupakan salah satu bukti bahwa mahasiswa non-seni pun mampu untuk menyuguhkan sebuah pergelaran sendratari yang tidak kalah dengan yang lainnya. “Kami juga ingin melestarikan kesenian tradisional yang dewasa ini mulai terlupakan oleh kalangan remaja.” tambah Monik. Dalam sambutannya, Bapak Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. selaku Rektor USD mengungkapkan rasa syukur bahwa pergelaran yang bertepatan dengan rangkaian perayaan Dies Natalis USD yang ke-60 ini bisa dilaksanakan dengan baik di gedung Auditorium Driyarkara USD.
Pergelaran sendratari dibuka dengan tiga tarian yang memukau. Tarian pertama yaitu Yu Warni Emprit; tarian yang berkisah tentang ibu-ibu penjual burung pipit yang ramah, cantik, dan energetik. Tarian yang membawa UKM Grisadha menuju posisi pertama dalam ajang Peksimida 2014 ini membuat para penonton tak henti-hentinya berdecak kagum melihat keluwesan para yu yu (istilah bagi ibu-ibu dalam Bahasa Jawa) dalam menari. Selanjutnya, tarian kedua adalah Jagones, Jamu Gendong Kenes, tarian yang berkisah tentang
penjual jamu yang kenes (cantik) dan centil. Penonton tak kuasa menahan gelak tawa menyaksikan tingkah para penjual jamu dalam menawarkan dagangannya. Pembukaan pergelaran sendratari malam itu ditutup dengan tarian Jaipong yang mengkisahkan para wanita yang lincah dan cantik dengan senyum yang menggoda.
Setelah dibuka dengan tiga tarian yang luar biasa, tibalah saat yang dinanti. Pergelaran Sendratari dimulai dengan adegan sosok seorang gadis yang menari
dengan luwesnya di balik kain putih yang terbentang dari atas atap hingga menutupi sekujur tubuhnya. Gadis itu tak lain adalah Roro Mendut yang sungguh mencintai Pranacitra, kekasihnya. Malang, kisah romansa kekasih tersebut terusik oleh kehadiran Wiraguna yang juga mencintai Roro Mendut. Pranacitra berusaha melindungi Roro Mendut, namun kehebatan Wiraguna tak mampu dihadapinya. Roro Mendut pun diculik dan Pranacitra harus merelakan kekasihnya dibawa pergi oleh Wiraguna. Tidak berhenti di situ, Pranacitra terus berjuang untuk mendapatkan kembali Roro Mendut. Lagi, malang nasib kisah sepasang kekasih tersebut, Pranacitra gugur dalam pertandingan dengan Wiraguna yang dibantu oleh para prajuritnya. Roro Mendut yang mengetahui kejadian tersebut tak kuasa menahan duka dalam hatinya dan memutuskan untuk turut pergi meninggalkan dunia ini untuk bersatu dengan pujaan hatinya. Wiraguna yang terkejut menyaksikan hal tersebut merasa sedih dan kecewa.
Para penari dari Grisadha menampilkan tarian-tarian yang luar biasa nan jenaka, sehingga mengundang gelak tawa dan membuat para penonton tak henti-hentinya takjub. Emosi penonton pun mampu diaduk oleh alunan musik tradisional yang dibawakan dengan istimewa oleh Seni Karawitan. Untuk ke depannya, Monik berharap bahwa pengunjung dari luar kampus menjadi semakin tertarik untuk menyaksikan pergelaran yang disajikan dan bagi penampil, semoga semakin giat dalam berlatih sesuai dengan keahlian masing-masing dan bisa belajar dari pengalaman sehingga ke depannya dapat menampilkan pergelaran yang lebih mengangumkan. (k_ant)




