Program Studi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma pada tanggal 11 September 2015 mengadakan HAKSI (Hari Akrab Sastra Indonesia) di Wisma Pojok, Depok, Sleman. Acara ini berlangsung selama dua hari dan diikuti oleh seluruh mahasiswa baru bersama panitia dan dosen pembimbing. Mengangkat tema “Semarak dalam Aksara, Berkumpul Bersama Keluarga”, acara ini diharapkan menjadi timbal balik positif Perayaan Hari Aksara Nasional yang jatuh pada tanggal 8 September 2015 yang lalu. Banyaknya aksara daerah yang ada di Indonesia dimaknai sebagai keberagaman asal daerah masing-masing keluarga baru di Prodi Sastra Indonesia Universitas Sanata Dharma.
Semua mahasiswa baru Program Studi Sastra Indonesia USD yang berjumlah 51 orang berangkat bersama dari Kampus 2 USD Mrican pada Jumat (11/8) pukul 18.00 WIB. Beberapa panitia mengawal keberangkatan dan bersiap di empat titik penting untuk menjaga kelancaran perjalanan. Sesi pertama acara HAKSI adalah bincang dengan alumni Sastra Indonesia USD. Alumni yang datang berusaha membuka pandangan mahasiswa baru bahwa kuliah Sastra Indonesia bukanlah hal yang keliru. Banyak peluang dan kesempatan kerja terbuka dari bidang sastra. “Kami para alumni juga membukakan link untuk lulusan USD di dunia kerja”, tutur Sapi salah satu alumni yang memberikan pengalamannya kuliah di USD.
Acara hari pertama ditutup dengan malam ekspresi di tengah taman Wisma Pojok yang asri. Lampu panggung yang disorotkan ke pohon cemara menambah nilai estetika yang ditawarkan panggung sederhana tersebut. Para mahasiswa baru dibagi menjadi empat kelompok dengan nama sastrawan-sastrawan Indonesia, seperti Sapardi, Arswendo, Rendra, dan Mangunwijaya. Masing-masing kelompok membuat penampilan yang menarik. Kelompok Sapardi membawakan karya Sapardi Djoko Damono yang legendaris berjudul Aku Ingin. Baris-baris sajak yang dialunkan secara akustik membuat penonton terpukau.
Hari kedua, para peserta dibangunkan pukul enam pagi dan diminta untuk berkumpul di halaman luar wisma. Mata mereka ditutup dan mereka diminta mengikuti teman di depannya. “Sebagai satu keluarga kalian harus dapat mempercayai satu sama lain dan tidak boleh menaruh curiga”, jelas Erlina Rizky panitia inti acara ini. Acara hari kedua diakhiri dengan permainan lapangan. Tiap kelompok mendatangi sebuah pos permainan dan wajib menyelesaikan tantangan pada masing-masing pos. Salah satu pos berisi tantangan untuk menebak wajah tokoh-tokoh sastra di Indonesia. Banyak peserta yang kesulitan untuk menebak mana wajah sastrawan yang bahkan karyanya pernah mereka baca sebelumnya. “Acara ini asyik dan menambah keakraban antar sesama mahasiswa baru dan juga dengan kakak angkatan yang menjadi panitia”, tutur seorang mahasiswa.
Acara ini sekaligus menampik kabar buruk tentang proses inisiasi yang penuh kekerasan fisik dan perpeloncoan di universitas. Sebagai universitas yang cerdas dan humanis, Universitas Sanata Dharma mencoba menghadirkan inisiasi yang menggunakan prinsip cura peronalis sampai ke tingkat prodinya. “Merujuk pada temanya, acara ini jelas berbasis kekeluargaan. Semua acara dibungkus dengan hangat dan melibatkan partisipasi setiap mahasiswa baru agar tercipta keluarga Prodi Sastra Indonesia USD yang solid”, tutur Gusti salah seorang panitia. (AR)




