Universitas Sanata Dharma (USD) bersama Asisiasi filosof Katolik Indonesia (AFKI) pada hari Jumat (11/09/2015) menggelar seminar kebangsaan dengan tema: “Menggali Nilai-nilai Kebangsaan dan Pancasila” dengan melibatkan sekitar 150 orang yang terdiri dari dosen dan para mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Rektor Universitas Sanata Dharma Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. dalam sambutannya mengatakan menggali nilai-nilai pancasila sangat tergantung dari cara kita memahami nilai-niali pancasila tersebut. “Saya merasa bangga dan senang ketika Universitas Sanata Dharma mendapatkan dukungan dan mendapat tempat yang cukup layak untuk memasuki pembicaraan ini. Dengan demikian dapat mencoba untuk menghubungkan bagaimana nilai-nilai pancasila yang sudah dirumuskan oleh para pendiri bangsa yaitu lima sila yang kita yakini dan kita akui dan membela secara mati-matian atas nama kesaktian pancasila tersebut.” demikian ungkap Rektor.
Sementar itu narasumber Prof. Dr. Amanda Rianto menjelaskan pengalamannya ketika ada satu mahasiswa asal Papua bertanya kepadanya yang pada waktu itu kesulitan untuk menjawab yaitu pancasila begitu indah dan luar biasa, tetapi apakah pancasila tidak dimiliki oleh orang-orang Papua, sebab di Papua yang ada hanyalah kecemasan, kemiskinan, dan kekerasan. Ada dua poin penting yang disampaikan oleh kawan-kawan Papua di atas (1) Pancasila tidak dimiliki oleh kawan-kawan Papua, (2) Pancasila diidentikkan dengan keadilan dan kebersamaan. Kemudian Prof Dr Amanda Rianto menyampaikan bahwa Pancasila tidak hanya dimiliki masyarakat Jawa, Sumatera, Kalimantan, melainkan dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia termasuk pulau terpencilpun.
Narasumber Dr. Anton Haryono, M.Hum. menjelaskan bahwa masyarakat super majemuk yang mendiami kepulauan Nusantara mampu berintegrasi ke dalam bangunan negara republik kesatuan. Meskipun demikian, kita tidak boleh menutup mata bahwa selama ini kita menghadapi persoalan-persoalan kebangsaaan (keindonesiaan) ataupun kemanusiaan yang sedemikian krusial. “Negeri berbasis pancasila berbagai bentuk diskrimnasi terus terjadi, rezim penguasa yang toriter dan represif sedemikian mudah tumbuh.” demikian pungkasnya. (SI)




