USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Service Learning Program 2015

diupdate: 11 tahun yang lalu


Rangkaian acara Service Learning Program 2015 (SLP 2015) resmi ditutup pada hari Jumat, 15 Agustus 2015. SLP 2015 yang berlangsung sejak tanggal 6 Agustus 2015 di Korea Selatan tersebut merupakan salah satu dari banyak program yang dicanangkan oleh Association of Jesuit Colleges and Universities-Asia Pasific (AJCU-AP). SLP merupakan sebuah kegiatan yang berfokus pada penyediaan wadah bagi universitas-universitas Jesuit di Asia Pasifik untuk menerapkan Pedagogi Ignasian dalam kehidupan sehari-hari melalui pelayanan komunitas (community service).
Pada tahun 2015 ini, SLP diadakan untuk kedelapan kalinya, dengan tuan rumah Sogang University, Korea Selatan. Adapun tema SLP 2015 ini adalah “Social Engagement Based on Justice through Serving and Caring”. SLP 2015 ini dihadiri oleh 19 orang delegasi dari Indonesia, Korea Selatan, Filipina, dan Jepang. Adapun para delegasi tersebut berasal dari Universitas Sanata Dharma, Sogang University (Korea Selatan), Ateneo de Davao (Filipina), Ateneo de Manila (Filipina), Ateneo de Zamboanga (Filipina), Xavier University (Filipina), dan Sophia University (Jepang).
Pada kesempatan ini, Universitas Sanata Dharma (USD) mengirimkan tiga orang delegasi dan seorang pendamping, yakni Ibu Fransisca Kristanti, S.Pd., M. Hum. Adapun ketiga delegasi dari USD adalah Tiffany Chandra (Psikologi 2012), Lenny Lawren (Psikologi 2012), dan Dyah Ayu Kusuma Wardani (Pendidikan Bahasa Inggris 2012). Sebelum berangkat ke Korea Selatan untuk mengikuti rangkaian program SLP 2015, para delegasi telah melakukan ­pre-project di Indonesia yang berfokus pada keadilan dalam bidang pendidikan di Indonesia.
Pre-project yang diadakan oleh tim SLP 2015 dari Indonesia tersebut diberi judul #PotretPendidikan. Dalam proyek tersebut, para delegasi mengumpulkan data-data berupa pengalaman masyarakat Indonesia terkait dengan keadilan dalam bidang pendidikan. Data-data tersebut dikumpulkan dalam bentuk video yang dapat diakses di alamat https://www.youtube.com/watch?v=2HAKw_VhDSs. Hasil pengumpulan data tersebut kemudian dibawa ke Korea Selatan, dan dibagikan sebagai salah satu problem terbesar yang dihadapi oleh negara Indonesia, dalam workshop yang diadakan di Sogang University pada hari Sabtu, 8 Agustus 2015.
Kegiatan immersion SLP 2015 sendiri dilaksanakan di Kkottongnae. Kkottongnae merupakan sebuah komunitas kasih yang menyediakan layanan kesejahteraan sosial yang komprehensif untuk membantu dan melayani orang-orang yang tidak memiliki siapapun sebagai tempat untuk bergantung (keluarga) serta orang-orang yang bahkan tidak memiliki kekuatan untuk meminta-minta (makanan). Para delegasi kemudian terlibat dalam sebuah program yang diadakan oleh Kkottongnae. Program tersebut, yang dinamakan “Love in Action Program” merupakan sebuah program yang diluncurkan untuk memperingati semangat “Love in Action” yang menjadi tema even internasional ICCRS tahun 2009.
Dalam program “Love in Action” tersebut, para delegasi berkesempatan untuk belajar cinta kasih yang otentik, seperti yang dipraktikkan oleh Yesus Kristus sendiri. Cinta kasih otentik tersebut diwujudkan melalui berbagai bentuk pelayanan terhadap para tunawisma di Seoul Station serta orang-orang yang diterima Kkottongnae dengan tiga syarat: tidak memiliki rumah, tidak memiliki keluarga, serta tidak memiliki uang. Orang-orang tersebut, yang disebut sebagai anggota keluarga Kkottongane, ditempatkan di berbagai fasilitas di Kkottongae yang berupa rumah-rumah, sanatorium, rumah sakit, dan sebagainya. Kkottongnae berdedikasi untuk melayani para anggota keluarganya, dari yang berusia 0 tahun hingga yang meninggal.
Dalam SLP 2015 ini, para delegasi berkesempatan untuk melayani para tunawisma di Seoul Station dengan cara memberi mereka makanan dan pakaian, serta mendoakan mereka. Selain itu, delegasi dari Indonesia juga berkesempatan untuk melayani di tiga fasilitas Kkottongnae, yakni House of Charity, House of Angels, serta Rumah Sakit.
House of Charity merupakan sebuah fasilitas yang diperuntukkan bagi tunawisma berjenis kelamin wanita. Di House of Charity tersebut, para delegasi dari Indonesia melayani anggota keluarga Kkottongnae yang ada di tempat itu dengan menghibur mereka, melayani mereka dalam kegiatan makan malam, memijat, dan lain sebagainya. Sementara itu, House of Angels berisi anggota keluarga Kkottongnae yang berusia 0 hingga 4 tahun, di mana para delegasi dari Indonesia menemani mereka bermain, serta membersihkan fasilitas tersebut bagi mereka. Para delagasi dari Indonesia juga melayani para anggota keluarga Kkottongnae di Rumah Sakit dengan memandikan, menghibur, mendoakan, hingga menyuapi mereka makan.
Pengalaman terkait dengan cinta kasih yang otentik tersebut kemudian menjadi bekal bagi para delegasi untuk melakukan aksi di negara masing-masing. Para delegasi dari Indonesia berencana untuk mengadakan sebuah post-project yang merupakan tindaklanjut dari kegiatan #PotretPendidikan. Post-project tersebut direncakan akan berbentuk diskusi terbuka yang dihadiri oleh berbagai komunitas yang bergerak dalam bidang pendidikan, para ahli pendidikan, serta psikolog pendidikan. Dalam diskusi terbuka tersebut, akan dibahas mengenai program pendidikan yang berlandaskan cinta kasih untuk Indonesia yang lebih baik. Post-project tersebut direncakan akan dilaksanakan pada 24 Oktober mendatang. (TC)

  kembali