Dalam usianya yang ke-25, Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) telah bertumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang besar. Perkembangan ini juga disertai dengan sehatnya organisasi dan semangat gotong-royong dan bahu membahu dalam mengembangkan pendidikan tinggi di Indonesia. Demikian rangkuman sambutan Ketua Badan Pengurus APTIK Drs. R. Djokopranoto dalam acara pembukaan Rapat Umum Anggota APTIK di Kampus III USD Paingan Senin (2/3). "Sifat kegotongroyongan sebagai salah satu budaya Indonesia tampak menonjol dalam kerja sama, bantu membantu, khususnya yang kuat membantu yang lemah", tambahnya. APTIK saat ini telah beranggotakan 16 yayasan penyelenggara perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa sekitar 65.000. APTIK yang lahir dari embrio Majelis Perguruan Tinggi Katolik (MPTK) yang kemudian berubah menjadi Yayasan Kerjasama Perguruan Tinggi Katolik (YKPTK) dirintis oleh 4 perguruan tinggi Katolik, yaitu Universitas Atmajaya Jakarta, Universitas Parahyangan Bandung, Universitas Widya Mandala Surabaya, dan IKIP Sanata Dharma. YKPTK berubah menjadi APTIK pada tanggal 25 Februari 1984. Menurut Bp R. Djokopranoto, APTIK bisa dikatakan sebagai asosiasi modern karena memiliki kriteria modern dalam bidang organisasi, kepengurusan, keuangan, dan kegiatan. Sementara itu Koordinator Kopertis Wilayah V Prof. Dr. Ir. Budi Santoso W, Dip. HE sangat mendukung dan menyambut baik asosiasi ini karena sebagai organisasi yang bernafaskan keagamaan yang memiliki spirit dan moralitas tinggi APTIK diharapkan mampu menegakkan azas pendidikan yang benar. Rapat Umum Anggota APTIK berlangsung 4 hari (2-5 Maret 2009) dengan tema "Membangun Karakter Paguyuban Widayani APTIK Berdasarkan Semangat Ex Corde Ecclesiae" akan membahas beberapa agenda. Komisi Pendidikan KWI akan memaparkan pandangannya melalui presentasi dengan judul "Pengetrapan Ex Corde Ecclesiae di Perguruan Tinggi Katolik". Krisis Keuangan dan Prospek Ekonomi yang akan Datang akan dibahas oleh Dr. Prasetyantoko. Sementara penjelasan UU BHP akan diberikan oleh Prof. Dr. Thomas Suyatno. (Tti)




