USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Diskusi Panel Lingkar Studi USD: Ensiklik Laudato Si Melalui Perspektif Ilmu-Ilmu

diupdate: 11 tahun yang lalu


Pada (18/6) 2015, Paus Fransiskus mengeluarkan surat ensiklik yang berjudul Laudato Si’, dengan subjudul Tentang Perhatian kepada Rumah Kita Bersama. Laudato Si’ memiliki makna ‘Terpujilah Engkau’, yang dikutip dari doa pujian St. Fransiskus Asisi. Ensiklik ini berisi kritik dan perhatian Paus Fransiskus tentang budaya konsumtif, pembangunan yang tidak bertanggungjawab, degradasi lingkungan, pemanasan global, dan ajakan kepada masyarakat dunia untuk memberikan perhatian kepada lingkungan.
Berdasarkan Laudato Si’ inilah Lingkar Studi Universitas Sanata Dharma mengadakan diskusi panel dengan judul Ensiklik Laudato Si Ditinjau dari Perspektif Ilmu-Ilmu pada Kamis, (3/9) di Ruang Koendjono, Gedung Pusat Kampus 2 USD. Melalui diskusi ini, para dosen USD mencoba menelaah Ensiklik Laudato Si dengan memposisikan kepedulian USD terhadap lingkungan dan hubungan ensiklik itu dalam lingkup tri dharma perguruan tinggi (pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat).
Dalam diskusi ini, Lingkar Studi Universitas Sanata Dharma mengundang beberapa dosen USD yang merupakan ahli dalam bidang-bidang biologi, sastra, ekonomi, teknik informatika, farmasi, dan psikologi. Mereka adalah Dr. P. Wiryono Priyotamtama, SJ (Dosen Program Studi Pendidikan Biologi), Dra. Novita Dewi, M.S., M.A. (Hons.), Ph.D. (Dosen Program Magister Kajian Bahasa Inggris), Dr. Fr. Ninik Yudianti, M. Acc. (Dosen Program Magister Manajemen), Dr. Anastasia Rita Widiarti, M. Kom. (Dosen Program Studi Teknik Informatika), Dr. Christine Patramurti, M.Si., Apt. (Dosen Program Studi Farmasi), dan Dr. Tjipto Susana (Dosen Program Studi Psikologi).
Saat ini, dunia memang sedang melaju begitu cepat. Manusia dituntut untuk semakin efisien dan semakin efektif agar tidak kalah dari persaingan yang ada. Pembangunan terjadi di mana-mana: mall-mall, pabrik industri, dan sebagainya. Di satu sisi, ini adalah sebagian dari kemajuan peradaban manusia. Akan tetapi, di balik itu ada pencemaran limbah pabrik yang berdampak negatif terhadap lingkungan hidup, dan pada akhirnya manusia.
Sumber daya alam di bumi memang tidak terbatas, ia selalu bisa tumbuh kembali. Tetapi, ia menjadi terbatas oleh karena keegoisan dan keserakahan manusia. Tjipto Susana mengungkapkan hal ini seperti fenomena “narsistik”. Budaya konsumtif dan ekonomi kapitalis membuat manusia sering mengesampingkan perhatian terhadap lingkungan hidup. Berbagai cara bisa dilakukan untuk merawatnya, beberapa yang disebutkan adalah dengan melakukan penelitian dan menjalankan ekonomi yang mempertimbangkan kesehatan lingkungan, serta meningkatkan kepedulian terhadap alam melalui keluarga dan pendidikan.
Anastasia Rita Widiarti mengungkapkan hal yang menarik dalam presentasinya. Ia memaknai Laudato Si’ sebagai pemanfaatan yang arif terhadap empat elemen semesta: ibu bumi, pakde matahari, dan bude bulan, kakak air, dan paman angin. Bumi adalah satu-satunya tempat hidup kita, dan oleh karena itu adalah tanggung jawab kita untuk merawatnya. (GMP)

  kembali