Campus Ministry (CM) Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Kamis, 27 Agustus 2015 menggelar kegiatan forum berbagi kisah dan kasih yang bernama Convessar Arrupe di Angkringan Mojok, Banteng, Yogyakarta. Kegiatan yang dimulai pukul 18.30 – 21.00 WIB ini mengambil bagian dalam memperhatikan Rumah Kita bersama yaitu lingkungan Alam Bumi yang telah tercemar dan rusak oleh aktivitas manusia dan sekaligus dalam rangkaian perayaan ulang tahun ke 60 Universitas Sanata Dharma.
Dalam kegiatan ini, panitia mengundang tiga pembicara yaitu Daniek Hendarto (alumni FE USD) yang adalah aktivis centre for orangutan protection, Romo Krispurwana C, SJ yang adalah Pater Spiritualist Kolese St. Ignatius, dan Angga Dwi Putra (mahasiswa Psikologi USD) yang adalah peserta pesepeda #bikeforautismandmangrove Jogja-Bali. Kegiatan ini tidak hanya dihadiri oleh civitas academica USD saja tetapi juga aktivis lingkungan hidup dan civitas academica di luar USD.
Sebagaimana diungkapkan oleh Angga Dwi Putra sebagai pembicara pertama bahwa masyarakat kita semakin lama semakin kurang peduli pada para penderita Autism dan hutan mangrove. Perhatian kepada mereka yang menderita Autism ini merupakan tindak lanjut dari kegiatan PKM-Pengabdian Masyarakat. Perhatian pada Mangrove ini dilakukan karena semakin lama ekosistem laut Indonesia yang merupakan mayoritas wilayah Indonesia semakin rusak dan terabaikan oleh masyarakat. “Para penderita Autism adalah bagian di dalam anggota masyarakat kita. Mereka memiliki hak-hak yang sama dalam akses publik dan bukannya dikucilkan. Selain itu Mangrove adalah rumah bagi ekosistem laut kita. Maka dengan berkampanye, diharapkan semakin banyak masyarakat menumbuhkan kembali kepedulian dan rasa memiliki atas apa yang ada di sekitar kita.” demikian ungkapnya.
Hal yang senada juga diungkapkan oleh Daniek Hendarto sebagai pembicara kedua bahwa usaha untuk melindungi dan mengkampanyekan orang utan tidaklah mudah. Ketika mereka berada di lapangan, mereka yang punya niat untuk ikut serta dan terlibat dalam usaha ini, akan mengurungkan niatnya karena keadaan lapangan yang tidak bisa dijangkau oleh orang-orang pada umumnya. Maka ikut terlibat dan ikut serta di dalam usaha ini tidak harus di lapangan misal di Kalimantan, tetapi justru bisa mengadakan kampanye ke sekolah atau ikut komunitas di Yogyakarta. “Perlindungan satwa liar sangat dekat dengan kehidupan kita, contohnya dengan perlindungan ini memiliki efek positif untuk menanggulangi global warming. Hal ini belum mengena ke dalam pemahaman masyarakat luas. Perhatian ini kiranya penting dilakukan dalam gerakan akar rumput di mana gerakan bersama rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Semua bisa dilakukan bila punya niatan yg tulus.” demikian ungkapnya.
Daniek Hendarto juga menceritakan bagaimana dia belajar di USD. Dalam kepedulian dan keaktifannya dalam kegiatan centre for orangutan protection, dia mengemban tugas sebagai mahasiswa yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab dan tanpa pamrih apapun. Dan USD memberikan ruang baginya untuk menjalani dua fokus kegiatannya secara bersamaan. “Dosen-dosen USD sangat begitu pengertian dan berdialog dengan saya dengan apa yang saya lakukan, maka saya selalu mendapatkan kemurahan hati dengan apa yang saya tinggalkan. Tentu dengan niat yang tulus ada balasan yang setimpal dengan keseriusan yang kita perjuangkan.” demikian ungkapnya.
Sebagai penanggap dan penarik kesimpulan dari dua pembicara di atas, Romo Krispurwana Cahyadi, SJ mengungkapkan bahwa baru-baru ini Paus Fransiskus mengumandangkan surat ensiklik Laudato Si ke seluruh Gereja Katolik dunia untuk melindungi bumi kita. Paus mengajak kita untuk berdialog menemukan solusi yang terbaik untuk lingkungan kita. Lalu apa peran pendidikan Yesuit terhadap persoalan ini ? Sejak awal Yesuit mendidik peserta didik dengan semboyan man for others, intinya mendidik orang-orang muda supaya peduli, punya hati. “Para peserta didik tidak hanya belajar di dalam kelas. Para peserta didik juga diminta keluar, mengenal dunia sekitar supaya mengenal kehidupan dalam merasakan dan mengalami kehidupan di sekitarnya. Maka pendidikan bukan membuat pintar orang tetapi semakin menjadikan manusia untuk semakin peduli dengan manusia lain dan secara khusus peduli dengan alam.” demikian ungkapnya.
Romo Krispurwana Cahyadi, SJ menambahkan, USD sebagai Universitas Yesuit menjadikan para peserta didiknya, orang yang punya hati dan kepedulian. Dengan begitu peserta didik diajak untuk menanamkan kesadaran dan kebiasaan sehari-hari secara khusus bersahabat dengan alam. Maka pendidikan bukan menekankan aspek intelektual tetapi berkembang atau tidaknya diri. Pendidikan di USD menekankan pendidikan yang bersifat curra personalis (pendampingan tiap person). Membuat orang pintar itu cukup diberikan kursus tiga bulan tetapi mengubah kebiasaan dan kesadaran perlu proses seumur hidup. (FXAP)




