Salah satu Tim KKN Universitas Sanata Dharma (USD) membuat inovasi yang luar biasa dalam berkarya bagi masyarakat. Kali ini, inovasi tersebut berjudul “Fasion Show Batik Randu Alas” oleh tim yang terdiri dari Vinsen (Mahasiswa Teknik Mesin USD), Cherry (Mahasiswa Sastra Inggris USD), Jessica (Mahasiswa Psikologi USD), dan Vanesa (Mahasiswa Unpar). Fashion Show Batik Randu Alas ini diselenggarakan di LIPPOPLAZA Yogyakarta pada tanggal 21 Agustus 2015 pukul 18.00 hingga 20.00 WIB.
“Persiapan untuk acara ini sudah kami lakukan sejak awal Agustus, sejak penerjunan di dusun Tegalrejo. Lahirnya acara ini tidak lepas dari ide cemerlang dari kedua rekan KKN saya Cherry dan Jessica. Ide ini muncul ketika kami mendapati bahwa warga dusun Tegalrejo mayoritas dapat membatik. Akan
tetapi, meskipun kepiawaian telah mereka miliki, mereka masih memilih untuk bekerja sebagai pekerja bagi usaha milik orang lain (pekerja di industri batik). Kami menganggap bahwa hal ini merupakan kesempatan besar bagi kami untuk dapat mengkaryakan warga dusun, agar mereka dapat secara mandiri mengelola batik buah karya mereka sendiri. Demikianlah kiranya yang dapat kami persembahkan bagi mereka” ujar Vinsensius Tiara selaku Ketua Tim KKN yang ditemui sebelum acara berlangsung.
Randu Alas sesungguhnya merupakan nama perkumpulan para pembatik dari dusun Tegalrejo. Nama “Randu Alas” sendiri berasal dari pohon randu yang banyak tumbuh di daerah ini. Pembatik-pembatik dalam perkumpulan ini memiliki motif unik yang bernama serupa dengan nama perkumpulannya, yakni batik Randu Alas. Salah satu ciri khas dari batik ini adalah pohon randu yang menjadi unsur dalam guratannya. Selain mengandung unsur pohon randu, batik Randu Alas juga mayoritas menonjolkan suasana alam, terutama pepohonan dan dedaunan yang menjadikan batik ini istimewa.
Salah seorang warga bernama bu Sartini mengungkapkan “Batik baru mulai digiatkan sekitar satu tahun terakhir. Kami merasa sangat terbantu dengan adanya tim KKN yang telah membantu penggiatan ini. Tim KKN pertama yang kami terima telah merintis adanya ide ini, kemudian menjadi semakin matang dan gencar promosinya oleh tim KKN yang sekarang. Hingga saat ini, batik-batik yang telah dihasilkan oleh perkumpulan pembatik kami telah dipasarkan di berbagai daerah, termasuk dua kota besar yakni Yogyakarta dan Solo. Kami membuat batik-batik ini secara manual (batik tulis) dan dengan bahan alami sebagai pewarnanya.”
Fashion show berlangsung meriah, suasana tampak elegan dengan sajian musik oleh Vinda Billy. Para peraga busana, mulai dari peraga putri usia anak-anak, remaja, hingga dewasa mengenakan berbagai variasi batik indah yang dipadukan dengan atasan ataupun dijahit menjadi gaun yang menawan. Tak kalah pula para peraga pria menunjukkan berbagai stelan batik yang dapat diaplikasikan pada acara resmi ataupun santai. Hal ini menunjukkan bahwa batik Randu Alas ini dapat digunakan oleh berbagai kalangan dan di berbagai kesempatan. Tak hanya pakaian yang dipamerkan dalam acara ini, terdapat pula stand di samping panggung yang menyediakan berbagai barang-barang hasil modifikasi kain batik yang tak kalah menariknya. Batik Randu Alas juga hadir dalam dompet, syal, maupun tas.
Batik Randu Alas juga hadir dengan berbagai warna yang indah, sehingga tidak terkesan monoton dan tetap stylish. Uniknya, warna-warna ini berasal dari pewarna alami seperti warna merah yang berasal dari mahoni, biru (indigo) dari pohon top, serta warna cokelat dari akar-akar tanaman. Berbagai desain pakaian yang dipamerkan ketika fashion show adalah buah karya pak Riyadi. Beliau terinspirasi dari daerah tempat mereka tinggal, yakni di daerah pegunungan dengan banyak pepohonan. Pak Riyadi pula yang berperan dalam mengkoordinir warga, sehingga terciptalah batik Randu Alas. Semoga usaha bersama milik masyarakat seperti batik Randu Alas, dapat semakin dikenal dan digunakan produk-produknya oleh masyarakat luas. (EEN)




