“The world changes very quickly”. Itu merupakan salah satu pernyataan dari Dr. Yu-Fong Lin, salah satu pembicara yang dihadirkan dalam The 8th Global Leadership Program di Universitas Fu Jen, Taipei. Pernyataan tersebut pada dasarnya merangkum kondisi dunia saat ini dan mendorong banyak orang untuk berpikir bagaimana kemudian menghadapi dunia yang terus berubah. Mungkin inilah yang lalu menuntut masyarakat, khususnya anak muda yang membentuk lebih dari 50% populasi dunia, agar mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan dan bila perlu mampu menjadi perubahan itu sendiri. Keinginan untuk menjadi bagian dari perubahan inilah yang selanjutnya mendorong anak-anak muda dari lima negara di Asia Pasifik (Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Filipina, dan Indonesia) untuk berkumpul dalam The 8th Global Leadership Program yang dilaksanakan di Taipei, Taiwan.
Global Leadership Program adalah program tahunan Association of Jesuit Colleges and Universitites (AJCU) yang melibatkan lima universitas di Asia Pasifik; Universitas Fu Jen (Taiwan), Universitas Sophia (Jepang), Universitas Sogang (Korea Selatan), Universitas Ateneo de Manila (Filipina), dan Universitas Sanata Dharma (Indonesia). GLP tahun ini mengangkat tema “Youth Change the World’’ dan dilaksanakan pada tanggal 3 – 7 Agustus 2015. Terdapat tiga subpokok bahasan yang menjadi perbincangan utama tahun ini; Justice and Human Rights, Humanity and Social Concern, dan Creativity and Innovation.
Tahun ini Universitas Sanata Dharma mengirimkan enam delegasi; Erica Atnil (Pendidikan Matematika 2011), Febri Galih Adi Chandra (Pendidikan Bahasa Inggris 2012), Khariton Ade Nuansa Tjahjadi (Pendidikan Bahasa Inggris 2012), Alexander Ignatius Kaparang (Sastra Inggris 2012), Dian Windriani (Sastra Inggris 2013), dan Ineke Andrayani (Farmasi 2013). Keberangkatan keenam delegasi juga didampingi oleh FX. Risang Baskara, S.S., M.Hum. sebagai dosen pembimbing. Sebelumnya, keenam delegasi telah melalui proses seleksi dan menjalani masa persiapan selama kurang lebih dua bulan bersama dengan para pendamping, FX. Risang Baskara, S.S., M.Hum., Maria Ananta Tri Suryandari, S.S., M.Ed., dan Henny Herawati, S.Pd., M.Hum.
Program GLP ini dikemas dalam bentuk diskusi, presentasi, dan kunjungan lapangan. Melalui diskusi dan presentasi, para delegasi bertukar pikiran membahas masalah-masalah yang dihadapi di negara masing-masing. Sebagai contoh, delegasi Indonesia mengangkat isu LGBT, isu keragaman dan diskriminasi, serta aktifitas komunitas-komunitas sosial-budaya berbasis kreatifitas di Yogyakarta. Delegasi negara lain juga mengangkat masalah yang beragam, mulai dari diskriminasi berdasarkan garis keturunan sampai isu comfort women. Mulai dari peranan media sosial sampai isu martial law. Semua hal tersebut dipaparkan dalam diskusi dan presentasi. Sementara dalam kunjungan lapangan, para delegasi berkesempatan melihat langsung apa yang terjadi di Taiwan terkait dengan ketiga subpokok bahasan. Dalam kunjungan lapangan pertama, setiap kelompok mengunjungi lokasi yang berbeda sesuai dengan subpokok bahasan masing-masing. Kelompok Justice and Human Rights mengunjungi Taipei 228 Memorial Museum dan (Jing-Mei) National Human Rights Museum, tempat yang menyimpan cerita tentang peristiwa 228 dan sejarah perjuangan hak asasi manusia di Taiwan. Kelompok Humanity and Social Concern mengunjungi Good Shepherd Social Welfare Services, komunitas yang membantu wanita dan anak-anak yang menjadi korban kekerasan dan pelecehan, dan Wen-Mong Building, tempat bersejarah bagi legalisasi prostitusi di Taiwan.
Sementara kelompok Creativity and Innovation berkunjung ke Huashan 1914 Creative Park dan Songshan Cultural and Creative Park, keduanya adalah bekas pabrik anggur dan rokok yang kini diubah menjadi pusat rekreasi dan lokasi pameran seni. Selanjutnya dalam kunjungan lapangan kedua, seluruh delegasi mengunjungi lokasi yang sama yaitu Dadaocheng, sebuah tempat yang kaya akan sejarah, seni, budaya, dan keragaman arsitektur. Di area ini terdapat lima belas tempat yang dikunjungi oleh seluruh delegasi. Mulai dari rumah salah satu generasi tertua di area tersebut, teahouse, rumah sakit, hingga kuil. Walau demikian, diskusi, presentasi, dan kunjungan lapangan tidak menjadi satu-satunya hal yang dilakukan selama di sana. Dalam rangkaian kegiatan GLP, dilaksanakan pula Malam Budaya. Sebuah kegiatan yang memberi kesempatan bagi para delegasi untuk menampilkan pertunjukkan budaya dari negara asal. Pada malam itu, para delegasi berkesempatan untuk memainkan permainan tradisional dari Korea Selatan, menikmati keseruan aksi romansa seperti yang ada di komik-komik Jepang, melihat keberagaman budaya Filipina, menyanyi, dan menari bersama delegasi Indonesia serta menyaksikan pertunjukkan barongsai dari tuan rumah, Taiwan.
Pada akhirnya The 8th Global Leadership Program yang berlangsung selama lima hari ini menjadi satu pengalaman yang sangat menyenangkan. Pengalaman yang memberi kesempatan untuk belajar lebih banyak dan sadar akan masalah apa saja yang terjadi di luar sana. Kesadaran ini menjadi penting karena hal pertama yang dibutuhkan sebelum mengubah sesuatu adalah sadar akan apa yang perlu diubah. Hal inilah yang kemudian perlu dimiliki oleh anak-anak muda yang akan menjadi pemimpin di masa depan. (AIK)




