“Pameran seni ini dapat membuka peluang untuk menunjukan eksistensi budaya dan pendidikan.” Begitulah pernyataan dari Mieke Susanto, seorang kurator sekaligus dosen ISI (Institusi Seni Indonesia) yang hadir sebagai salah satu pembicara dalam acara diskusi Pameran Seni Membaca Ulang Driyakara: Kemanusiaan, Kebangsaan, dan Pendidikan. Acara tersebut berlangsung pada hari Sabtu, 20 Desember 2008, bertempat di Lantai 3, Gedung Pusat Administrasi, Kampus II Mrican, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Lebih lanjut, dikatakan memang pada kenyataannya masih belum banyak institusi pendidikan yang tidak memiliki fakultas seni budaya yang berani menyelenggarakan pameran seni rupa. Maka dari itu, pameran seni USD dapat dijadikan contoh yang baik. Diskusi tentang pendekatan yang digunakan, makna, serta tujuan dalam pameran seni kali ini juga menjadi topik yang menarik. Pameran seni yang diadaakan dalam rangka memperingati Dies Natalis USD ke 53 ini disebut sebagai pameran yang menggabungkan pendekatan aesthetic dan rekontruktif . Dalam artian lain, karya- karya yang dihadirkan oleh ke 44 seniman tersebut memang dibuat dalam wadah pola yang baru untuk menampilkan pemikiran-pemikiran Driyakara. Dr. ST. Sunardi, Kaprodi dan dosen Magister Ilmu Religi dan Budaya USD, memaparkan bahwa penampilan atau eksposure semacam ini dinilai baik untuk mengembangkan eksposure terhadap pengalaman visualisasi sehingga tidak berfokus pada pengalaman verbalisasi, seperti yang selalu kita alami. Selain itu, pada kesempatan yang sama, beberapa kritik juga disampaikan dalam diskusi yang dihadiri tidak hanya oleh mahasiswa USD, tetapi mahasiswa dari perguruan tinggi lain serta beberapa praktisi dan pemerhati seni lainnya. Kritik utama dialamatkan pada kurangnya keterangan awal tentang profil Driyakara, yang menjadi pusat inspirasi dalam pameran seni tersebut. Dari sudut pandang masyarakat umum, kurangnya informasi tentang Driyakara dan juga pemikiran-pemikirannya dapat menjadi hal yang membingunkan. Hal ini juga dapat terlihat dalam hasil karya para seniman yang kurang menggali detail-detail pemikiran Driyakara sendiri. Namun, diluar beberapa kritik itu, pameran seni USD kali ini menawarkan tingkat keberagaman obyek yang kaya dan sangat menarik. Pada akhirnya, harapan pun meluncur dalam diskusi agar pameran seni ini lebih jauh bisa membawa dimensi baru bagi penikmatnya, tidak hanya sekedar media propagandis dan ilustrator saja. (Bunga)




