USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Diskusi Pendidikan: Belajar untuk Total

diupdate: 11 tahun yang lalu


Asosiasi Sekolah Jesuit Indonesia bekerjasama dengan Universitas Sanata Dharma yang merupakan bagian dari komunitas Jesuit menyelenggarakan Diskusi Pendidikan dengan tema “Ki Hajar Dewantara dan Pendidikan Humanis” pada Sabtu, 8 Agustus 2015 di Ruang Driyarkara, Gedung Pusat Kampus II USD Mrican. Kegiatan diskusi pendidikan tersebut dibagi dalam dua bagian, yaitu sesi “Belajar dari Muntilan” yang diisi oleh Dr. Anton Haryono, M.Hum., Ketua LPPM Universitas Sanata Dharma dan sesi “Workshop Menulis di Koran” yang diisi oleh Ir. Cocong Arief Priyono, Redaktur Suara Merdeka. Kedua sesi tersebut dimoreratori oleh F.X. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D.
Pada sesi pertama, Dr. Anton Haryono, M.Hum., mengajak para peserta diskusi untuk melihat kembali sosok Romo Van Lith, SJ., yang banyak berkarya di Muntilan. Beberapa hal pokok yang coba diselami kembali adalah ketaatan, ketotalitasan, dan keterbukaan. Diskusi menjadi sangat hidup dengan tingginya antusias para peserta yang menyampaikan pendapat, pertanyaan, dan klarifikasi. Salah satu topik yang sangat mengundang perhatian adalah ketotalitasan. Pertanyaan bagaimana totalitas seorang pendidik itu diwujudkan dalam karya nyata mengundang jawaban beragam dari hampir semua peserta diskusi. Ada yang mengartikan totalitas sebagai penyediaan waktu di sekolah selama 24 jam yang jelas mustahil. Ada pula yang mengartikan totalitas sebagai kesediaan menerima konsultasi dan memberikan bantuan kepada peserta didik kapan saja. Namun, pada akhir diskusi, disepakati bahwa totalitas adalah kesediaan, kesanggupan untuk berbuat lebih secara tulus dengan semangat humanisme dan cura personalis seorang pendidik terhadap peserta didik. Sebagai institusi pendidikan yang berada di bawah naungan Komunitas Jesuit, disebutkan pula bahwa totalitas dapat diwujudkan dengan gerakan option for the poor. “Menerima orang-orang miskin di atas kertas adalah hal mudah. Namun menerima mereka dengan tangan terbuka, apakah kita sungguh siap dan sanggup?” kata moderator menutup sesi pertama.
Pada sesi dua, para peserta diajak mewujudkan totalitas dalam bentuk tulisan yang kemudian akan dibaca khalayak ramai. Tulisan, terutama di media massa adalah salah satu media untuk menyerukan suara hati sebagai bentuk kepedulian terhadap berbagai hal, salah satunya adalah pendidikan. Pada sesi tersebut, Ir. Cocong Arief Priyono memperkenalkan dunia penulisan di media massa. Beliau memaparkan cara-cara menulis yang sangat mudah dan membakar semangat para peserta untuk menulis di media massa. Sesi tersebut juga merupakan sesi yang hidup karena banyak peserta yang dengan semangat mengajukan beberapa pertanyaan untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang menulis di media massa. (LLY)

  kembali