Mewakili Universitas Sanata Dharma (USD), Dekan Fakultas Sastra USD, Dr. F.X. Siswadi, M.A., menyambut Rainier A. Ibana, Ph.D. dari Ateneo de Manila University pada 5 Agustus 2015. Profesor Ibana datang ke Indonesia dalam rangka mengisi konferensi di Jakarta. Namun, sebelum benar-benar datang ke Jakarta, beliau menyempatkan diri untuk berkunjug ke USD sebagai salah satu bentuk kerjasama antara kedua belah pihak. Pada kunjungannya ke USD, beliau memberikan kuliah singkat untuk dosen-dosen USD dengan judul “Pedagogical and Administrative Implication of the Human Brain in a Knowledge-based Society”.
Pada kuliah yang berlangsung selama satu setengah jam yang dihadiri dosen-dosen dari berbagai program studi tersebut, Profesor Ibana berbagi cerita bagaimana seharusnya seorang guru atau dosen bersikap dan bertindak. Dalam pembukaannya, ia menjelaskan mengenai konsep otak manusia yang terdiri dari tiga bagian: reptil, mamalia, dan neo cortex. Setiap bagian berkontribusi dalam pengambilan keputusan seseorang. Seorang guru atau dosen harus mengerti bagaimana meningkatkan partsisipasi peserta didiknya di dalam kelas. Pada kuliah singkat tersebut, Profesor Ibana memberikan sebuah simulasi dengan benang. Para peserta kuliah diminta untuk membuat kelompok berisi lima orang setiap kelompok. Setiap kelompok lalu diberikan segulung benang. Benang tersebut harus berpindah tangan dengan cara diskusi. Orang pertama pemegang benang adalah ia yang memulai diskusi. Gulungan benang lalu berpindah tangan jika ada yang merespon. Pada akhirnya, bentuk yang dicari dari permainan tersebut adalah bentuk bintang. Bentuk bintang dalam simulasi tersebut adalah simbol keseimbangan. Selagi melakukan simulasi, Profesor Ibana meminta para peserta menganalisis apa yang terjadi pada kelompok mereka masing-masing. Pelajaran yang dapat dipetik dari simulasi tersebut adalah mengajar memerlukan kolaborasi antara guru dan murid, atau dosen dan mahasiswa. Beliau dalam kuliah tersebut menyatakan bahwa seorang guru atau dosen tidak seharusnya bertindak sebagai sumber ilmu pengetahuan. Seorang guru atau dosen seharusnya tidak memberikan jawaban langsung atas semua pertanyaan peserta didik. Para guru dan dosen harus membantu mereka menemukan jawaban atas pertanyaan mereka sendiri. “Guru bukanlah brankas pengetahuan,” kata Professor Ibana.
Pada akhir kuliahnya, ia mengarisbawahi bahwa otak manusia bekerja sangat
cepat. Otak manusia tahu apa yang akan dilakukan oleh satu anggota tubuh 5,5 detik sebelum gerakan sesungguhnya dilakukan. Oleh karena itu, sangatlah penting bagi seorang guru atau dosen untuk benar-benar mengontrol otak mereka terutama sebagai guru di kelas karena itu akan berpengaruh terhadap peserta didik mereka. Menjadi seorang guru atau dosen berarti mengetahui bahwa otak manusia sangat berpengaruh. Oleh sebab itu, memperkenalkan para peserta didik pada kebijaksanaan sangatlah penting.
Akhirnya, keduabelah pihak berharap akan ada bentuk-bentuk kerjasama lainnya yang nyata antara USD dan ADMU. (LLY)




