USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

PEMBELAJARAN SASTRA PERLU DIREVITALISASI

diupdate: 18 tahun yang lalu

Ilmu-ilmu humaniora perlu direvitalisasi agar mampu menyumbangkan perannya untuk pembangunan moral bangsa Indonesia yang sudah centang merentang dan amburadul. Humaniora selayaknya digiatkan dan dihidupkan lagi karena humaniora memberikan wawsan luas, kapasitas untuk berubah, visi yang kreatif, kepekaan untuk implikasi sosial dan kultural, serta kemampuan untuk melihat keselurahan gambar kehidupan. Demikian disampaikan oleh Drs. B. Rahmanto, M.Hum. dalam pidato Dies Natalis ke-53 Sanata Dharma di Kampus III USD Paingan Sabtu (20/12). Rahmanto secara khusus menyoroti salah satu ilmu Humaniora, dalam hal ini Sastra, yang mampu melihat realitas sosial masa kini maupun realitas peristiwa sejarah. "Obyek karya sastra adalah realitas", katanya. Dengan demikian sastra dapat berfungsi sebagai cara pemahaman, cara berkomunikasi, dan cara berkreasi. Menurut Rahmanto sastra mampu menerjemahkan peristiwa sejarah dengan bahasa imajiner untuk memahami peristiwa tersebut. Bahkan sastra dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan pkiran serta menciptakan kembali sebuah peristiwa sesuai pengetahuan penulisnya. Rahmanto mencontohkan bagaimana peristiwa korban pembantaian 1965, kerusuhan Mei 1998, dan peristiwa lain mampu diungkap dengan kaca mata pengarang sastra. Tidak banyak disiplin ilmu yang mencoba mengupas dan mencoba mengungkapkan realitas sosial semacam ini. Namun dengan kemampuan bahasa imajiner, sastra mampu mengungkapkannya. Namun Rahmanto prihatin bahwa akir-akhir ini ilmu-ilmu humniora semakin terpinggirkan. Peran humaniora juga semakin dikurangi. Para teknokrat pendidikan saat ini lebih menitikberatkan pada perkembangan ilmu dan teknologi. Bahkan saat ini dapat diamati bahwa ilmu-ilmu humaniora semakin hari semakin sepi peminat. "Untuk itu hal mendesak yang perlu dilakukan adalah merevitalisasi pembelajaran sastra di dunia pendidikan", tegas Rahmanto, yang dosen dan Ketua Jurusan Sastra Indonesia USD ini. Pembelajaran Sastra menurut Rahmanto harus dipisahkan dengan bahasa. Pembelajaran sastra adalah membaca teks sastra dan mengapresiasi sastra. "Kecakapan yang perlu dikembangkan justru indrawi, nalar, afektif, sosial, dan religius. Hal ini sejalan dengan mengasah, mengasuh, mengasihi nilai-nilai yang disajikan dalam karya sastra, yaitu personal, sosial, dan religius", tambahnya. (Tti)

  kembali