USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Porticus Asia Kunjungi Mahasiswa Penerima Beasiswa

diupdate: 11 tahun yang lalu


Porticus sebagai sebuah organisasi yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan dengan salah satu caranya adalah memberikan beasiswa bagi para peserta didik di berbagai area di seluruh dunia termasuk Indonesia mengunjungi para mahasiswa di Universitas Sanata Dharma. Kunjungan tersebut dilakukan pada 14 Juli 2015 di Ruang Kadarman, Gedung Pusat Universitas Sanata Dharma. Hadir sebagai perwakilan dari Porticus cabang Asia adalah Raymond Chua dan Philip Booth sedangkan perwakilan dari Universitas Sanata Dharma adalah F.X. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D. Pada kunjungan tersebut, para mahasiswa di bawah naungan KBKK (Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan) Mentawai dan Baku Peduli Timor, NTT turut berbagi cerita mengenai suka dan duka selama menjalani kuliah di Universitas Sanata Dharma dan mengenai kampung halaman mereka.
Hidup jauh dari kampung halaman untuk menempuh pendidikan yang lebih baik di lingkungan yang sama sekali berbeda dengan lingkungan asal bukanlah hal yang mudah. Beradaptasi dengan makanan adalah salah satu tantangan yang harus ditaklukkan para perantau baik dari Mentawai maupun dari Timor. “Makanan di Mentawai itu rasanya asin dan pedas, sedangkan makanan di Jogja itu rasanya manis sekali,” ungkap salah satu mahasiswa dari Mentawai. Berada jauh dari rumah juga membuat para mahasiswa tersebut harus menemukan rumah untuk mereka tinggali selama perjuangan meraih mimpi di Kota Pelajar ini. Beberapa dari mereka tinggal bersama keluarga baru dengan adat dan budaya yang berbeda yang menurut Raymond Chua adalah hal yang baik karena mereka dapat belajar mengenai budaya baru. Namun, menjadi bagian dari Universitas Sanata Dharma adalah hal yang cukup dinikmati oleh mereka. “Di Sanata Dharma, dosen-dosennya disiplin, staf adminitrasinya juga baik-baik. Selain itu, ada banyak pelatihan yang diprogramkan oleh Kantor Wakil Rektor IV,” lanjutnya.
Cornelis, salah satu mahasiswa dari Timor dibawah naungan Baku Peduli menceritakan keadaan tanah kelahiran mereka. Jumlah penduduk di Timor tidak berbanding lurus dengan tingkat pendidikannya. Tingkat pendidikan tertinggi hanya sampai pada level sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sebagian besar masyarakatnya bermatapencaharian sebagai petani, guru, perawat dan TKI (Tenaga Kerja Indonesia) di berbagai negara seperti Arab dan Malaysia. Timor adalah daerah yang kaya tapi kekayaannya tidak dapat dioptimalkan karena minimnya SDM (Sumber Daya Manusia) di sana. Ariana, kakak Cornelis yang juga menerima beasiswa menutup cerita Cornelis dan ia dengan mengatakan “Semoga kami cepat lulus dan bisa menjadi orang yag lebih baik untuk menolong orang lain.”
Menutup pertemuan hari itu, pihak porticus memberikan nasihat dan semangat kepada para penerima beasiswa supaya tidak melupakan tanah kelahiran mereka dan menjadi kakak-kakak yang baik untuk adik-adik mereka di tanah kelahiran mereka. (LLY)

  kembali