USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pre-Service Learning Program USD 2015

diupdate: 11 tahun yang lalu


Peserta Service Learning Program 2015 (SLP 2015) Universitas Sanata Dharma (USD) pada tanggal 12 Juni 2015 melakukan kegiatan pembekalan. Pembekalan tersebut berlangsung selama 3 hari 2 malam di Wisma Pentingsari, Kaliurang. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai tema SLP yang diangkat tahun ini, yaitu “Social Engagement Based On Justice Through Serving and Caring”. Semua materi pembekalan diberikan dalam kerangka pedagogi pendidikan berbasis semangat Jesuit yang dikenal dengan Pedagogi Ignasian.  
Kegiatan SLP ini terdiri dari tiga tahapan yaitu Pre-SLP, SLP,serta Post-SLP. Kegiatan SLP akan dilaksanakan di Korea Selatan pada tanggal 5 Agustus 2015 hingga 16 Agustus 2015 dan akan didampingi oleh Ibu Fransisca Kristanti, S.Pd., M.Hum. selaku pembimbing dari kegiatan ini. Peserta SLP perwakilan Universitas Sanata Dharma pada tahun ini adalah Tiffany Chandra dari prodi Psikologi, Lenny Lawren dari prodi Psikologi, dan Dyah Ayu Kusuma Wardani dari prodi Pendidikan Bahasa Inggris. Kegiatan pembekalan ini difasilitasi oleh Tim P2TKP (Pusat Pelayanan Tes dan Konsultasi Psikologi) USD, dengan Bapak C. Wijoyo Adinugroho, M. Psi. selaku trainer.
Kegiatan pertama adalah penyampaian materi secara singkat terkait nilai-nilai Pedagogi Ignasian dan kaitannya dengan kegiatan SLP 2015.  Keesokan harinya, Sabtu, 13 Juni 2015, para peserta ditugaskan untuk berinteraksi langsung dengan orang-orang yang beraktivitas di Pasar Pakem dan sekitarnya. Peserta diberi tugas untuk mencari sarapan sendiri tanpa dibekali uang sepeser pun. Selain itu, para peserta juga harus membawa pulang bahan-bahan mentah dari pasar untuk dimasak sebagai lauk pauk saat makan siang. Aktivitas ini bertujuan untuk melatih peserta agar dapat beradaptasi dan bertahan di lingkungan asing serta menemukan nilai-nilai yang berkaitan dengan tema SLP 2015 melalui pengalaman praktis.
Aktivitas selanjutnya adalah para peserta ditugaskan untuk berjalan kaki kembali ke Wisma Penting Sari bersama dengan pendamping dengan berbekal peta serta petunjuk-petunjuk yang diberikan. Sepanjang perjalanan yang dilalui, banyak nilai-nilai yang kembali diperoleh peserta setelah melalui proses refleksi. Dalam refleksi mengenai perjalanan tersebut, para peserta menyebutkan bahwa aktivitas tersebut membantu mereka untuk mengenal satu sama lain semakin dekat serta belajar untuk saling melengkapi dalam berbagai situasi. Selain itu, para peserta juga mengaku mendapatkan nilai-nilai melalui interaksi dan dinamika antar peserta serta antara peserta dan pembimbing, maupun dengan warga sekitar, misalnya nilai tolong-menolong.
Siang harinya, para peserta diberi tugas untuk menyiapkan makan siang menggunakan bahan-bahan yang diperoleh dalam tugas pertama. Dalam aktivitas tersebut, para peserta dihadapkan pada keberagaman kemampuan setiap individu dan berbagai upaya untuk memberdayakan kelebihan masing-masing sehingga tugas dapat diselesaikan dengan lebih efektif dan optimal. Dalam refleksi, peserta mengaku bahwa mereka memperoleh sebuah pembelajaran di mana setiap tindakan yang diambil akan berdampak pada orang lain sehingga perlu dipertimbangkan dengan matang sebelum dilakukan. Selain itu, peserta juga diminta untuk memberikan penilaian terhadap peserta lainnya dengan berdasarkan dinamika yang telah mereka lalui.
Pada saat makan malam, peserta diajak untuk mengenal rekan satu tim melalui pelayanan. Para peserta diminta untuk berpasang-pasangan dan saling mengambilkan makanan, serta menyuapi pasangannya. Melalui aktivitas ini, peserta diharapkan dapat lebih mengenal kebutuhan dan preferansi pasangannya sehingga dapat mengakrabkan diri satu sama lain. Selain itu, aktivitas ini juga merupakan cerminan dari semangat program SLP, yakni melayani dengan cinta dan tulus hati.
Keesokan harinya, para peserta diajak untuk mendalami nilai-nilai Pedagogi Ignasian dan penerapannya secara sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Proses tersebut dilakukan dengan mula-mula mengenal Santo Ignatius Loyola secara lebih dekat. Kegiatan pendalaman materi mengenai Pedagodi Ignasian ini disampaikan oleh Romo Alb. Buddy Haryadi, SJ.
Aktivitas terakhir dalam pembekalan tersebut yakni sesi mengenai analisis sosial. Sesi ini didampingi oleh Bapak Antonius Febri Harsanto, S.Sos. Beliau membimbing para peserta dalam memahami suatu permasalahan berdasarkan kacamata sosial. Para peserta diajak untuk mendiskusikan kasus-kasus ketidakadilan sosial yang menarik di lingkungan sekitar dan menganalisa permasalahan tersebut dengan membaginya menjadi beberapa lapisan. Aktivitas tersebut dilakukan dengan tujuan agar para peserta dapat memandang permasalahan yang ada di sekitar mereka dengan perspektif yang lebih luas dan objektif. Kemampuan tersebut akan membantu para peserta dalam menyusun program pre dan post SLP yang tepat guna dan tepat sasaran. (LL)

  kembali