USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Apa yang Salah dalam Masyarakat dan Bangsa ini?

diupdate: 18 tahun yang lalu

Apa yang salah dalam masyarakat dan bangsa ini? Barangkali itulah pertanyaan yang mengelayut di benak para partisipan yang datang menghadiri acara: “Nonton Bersama dan Diskusi Film: Tumbuh dalam Badai”. Acara ini digelar oleh PUSdEP Universitas Sanata Dharma dalam rangka peringatan Hari Hak Asasi Manusia Sedunia, pada Rabu 10 Desember 2008 dari pukul 15.00 sampai 18.00 WIB, di Ruang Seminar LPPM Universitas Sanata Dharma, Jl. Affandi-Gejayan, Mrican, Yogyakarta. Acara ini dihadiri oleh bebarapa anggota LPRKROB (Lembaga Perjuangan Rehabilitasi Korban Rezim Orde Baru), mahasiswa USD, mahasiswa UGM, UNY, UIN Sunan Kalijaga, komunitas film, aktivis dan penerbit buku. Kegiatan ini dimulai dengan nonton bersama film: Tumbuh dalam Badai, arahan Sutradara IGP. Wiranegara. Film dokumenter ini mengisahkan beberapa anak yang berjuang hidup dalam tekanan diskriminasi secara struktural karena orangtua mereka menjadi korban Tragedi Kemanusiaan 1965/66. Mereka pantang menyerah, tumbuh dalam berbagai kondisi untuk bertahan hidup dan mengembangkan dirinya menjadi manusia “baru”. Mereka adalah Wangi Indrya, dalang wayang kulit yang juga penari dan penyanyi di Indramayu. Dia anak salah seorang dalang wayang kulit yang pada zaman Orde Baru menjadi tahanan politik. Bondan Nusantara, anak ibu Kadariah, seorang primadona ketoprak Jogja tahun 60-an, yang ditahan beberapa tahun. Juga muncul dua anak Tapol dari Bali, selain Nani Nurahman, seorang putri Jendral Soetoyo yang diabadikan sebagai Pahlawan Revolusi. Acara dilanjutkan dengan diskusi. Hadir sebagai narasumber Bondan Nusantara (Pekerja Seni) dan IGP Wiranegara (Sutradara). Acara diskusi dipandu oleh moderator Mohammad Ridlo. Diskusi ini menjadi jalan masuk penting untuk mempelajari kembali keadaan korban kekerasan di masa lalu yang tertindas dan terdiskriminasi dalam sejarah negeri ini. Ketertindasan tiada habisnya terus menjadi permasalahan pelik kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu bentuk penindasan itu terus berlangsung dengan pembungkaman korban kekerasan masa lalu dan pengingkaran atas tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi. Hal tersebut menghalangi proses demokrasi yang sedang dibangun di negeri ini untuk menghargai hak dan martabat setiap manusia sebagai warga negara. Barangkali memang ada proses yang salah dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa yang selama ini terus berjalan dan coba diawet-awetkan. Terutama dalam hal politik di masa lalu yang dijalankan dengan tanpa mengindahkan etika dan moralitas berpolitik. Lebih khusus lagi dalam praktek politik di masa lalu yang acapkali selalu menggunakan cara-cara represi negara dan akar-akar kekerasan yang menjalar sampai ke ranah masyarakat sipil. Simak misalnya peristiwa 1965 kasus pelanggaran HAM berat di masa lalu hingga saat ini belum mampu dikuak secara baik, alih-alih dilakukan pengusutan, penelitian, penyidikan dan penyeledikan terhadap pihak-pihak yang melakukan atau memungkinkan atau membiarkan kekerasan terjadi. Memang kita layak terus bertanya: apa yang salah dalam proses bermasyarakat dan berbangsa yang terus terjadi hingga saat ini? (Pusdep)

  kembali