Student Residence Universitas Sanata Dharma (USD) pada pertengahan bulan Juni melaksanakan kegiatan Live In bagi mahasiswa-mahasiwa yang berada di bawah naungan Student Residence. Sebanyak kurang lebih 158 mahasiswa mengikuti kegiatan live in yang terbagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama dilaksanakan pada tanggal 15 – 19 Juni 2015 dan gelombang kedua pada tanggal 22 – 26 Juni 2015. Kegiatan live in diadakan di Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul.
Dalam kegiatan yang bertemakan Trust, Acceptance, and Dialogue, masing-masing peserta live in akan tinggal bersama orang tua asuh mereka selama kurang lebih 5 hari. Selama tinggal bersama, para peserta diharapkan untuk dapat berbaur dengan kondisi lingkungan tempat mereka tinggal, hingga muncul rasa percaya, rasa diterima, dan komunikasi di antara mereka dan keluarga yang mereka tinggali. Selain itu, peserta juga diharapkan dapat menemukan kembali kekuatan kesederhanaan dan kerendahan hati dari para warga Gunungkidul, dapat memperbaharui dan menyegarkan kembali cara pandang peserta live in tentang kehidupan dan berani mengambil sikap tegas atas tawaran sesaat dari dunia, dapat memperbaharui kembali alasan, tujuan studi mereka lewat pengalaman perjumpaan langsung dengan keluarga di Gunungkidul. Juga agar peserta live in dapat menemukan kembali sosok-sosok sahabat ketika kembali ke Student Residence Universitas Sanata Dharma setelah melewati serangkaian pengalaman langsung itu.
Selama bersama orang tua asuh, para peserta live in juga diminta untuk mengikuti segala kegiatan yang dilakukan oleh orang tua asuh tempat mereka tinggal. Mereka mengikuti beragam kegiatan dari mulai mencari makan untuk sapi, panen padi, membuat sumur, membuat kandang sapi, pendampingan PIA dan PIR, pendampingan kegiatan TPA, sampai ikut kegiatan kerja bakti dengan warga sekitar.
Menurut beberapa peserta live in, bukan suatu yang mudah dalam mengikuti kegiatan ini. Ada berbagai macam hambatan dalam membangun tiga hal yang menjadi tema kegiatan ini. Salah satunya adalah bahasa. “Kadang saya tidak mengerti ibu ini bicara apa” ujar Sira, salah satu peserta live in yang berasal dari luar Jawa. Tetapi, walaupun dalam pelaksanaan kegiatan live in ini para peserta mengalami kendala, nyatanya kendala tersebut tidak menyurutkan minat mereka dalam ikut aktif dalam setiap kegiatan keluarga yang dilakukan.
Selama lima hari tinggal bersama orang tua asuh itu, para peserta live in mengakui menemukan obat dari kerinduan akan kampung halaman mereka yang lama ditinggalkan. Suka dan duka telah mereka bagi bersama keluarga baru mereka. Bukti bahwa mereka sudah dipercaya dan diterima sebagai bagian dari keluarga yang baru. Sebuah pelajaran yang akan sangat bermakna bagi mereka dalam melanjutkan cita-cita menuju masa depan mereka. (WNC)




