USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Bersepeda ke Bali ala Mahasiswa USD: Kampanye Tentang Autisisme dan Mangrove

diupdate: 11 tahun yang lalu


Wakil Rektor III USD, Romo Patrisius Mutiara Andalas, S.J., S.S., S.T.D. melepas tujuh orang mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) untuk berangkat menuju Bali. Kegiatan bersepeda ini mempunyai tema “Orang Muda sebagai Pelopor Perubahan untuk Semakin Cerdas dan Humanis”. Dalam melakukan perubahan di dalam masyarakat, tujuh orang mahasiswa yang terdiri dari Angga Dwi Putra sebagai Koordinator, Matias Rio Meilano, Gregorius Dwi K.P., Fransiskus Muliadi, Andreas Corsini Miguel Takimai, Andi Setianto, Yosephus Wahyu E.N. mencoba untuk mengkampanyekan tentang Autisisme dan Mangrove. Dua hal ini mereka kampanyekan karena mereka prihatin dengan cara pandang dan penerimaan masyarakat terhadap mereka yang autis dan kerusakan mangrove sehingga mempengaruhi cara bertindak masyarakat yang kurang tepat terhadap dua hal tersebut.
Dengan mengusung motto cerdas dan humanis, tujuh orang mahasiswa USD ini dapat mengaplikasikan di dalam kegiatan tersebut sebagai orang muda untuk bertransformasi dan peduli terhadap sesama dan lingkungan.  Tujuh mahasiswa USD ini berangkat pukul 08.00 tanggal 30 Juni 2015, diperkirakan akan sampai di pulau Dewata Bali tanggal 11 Juli 2015 dan kembali ke Yogyakarta tanggal 14 Juli 2015. Tujuh mahasiswa USD ini akan melalui kota Solo untuk singgah di rumah salah satu anggota bersepeda tersebut, kemudian melanjutkan perjalanan sampai ke kota Madiun (93 Km), Jombang (89,8 Km), Pasuruan (90,3 Km), Probolinggo (39 Km), sampai di Bali untuk pelestarian Mangrove.
Di dalam sambutan pelepasan ketujuh mahasiswa USD tersebut, Rm Mutiara Andalas, SJ mengungkapkan bahwa tujuh orang mahasiswa USD ini akan menjadi pelopor bagi perubahan di dalam masyarakat dalam mengkampanyekan kemanusiaan dan ekologi. Kemanusiaan tampak dari kampanye tentang autisisme. Dan ekologi tampak dari kampanye tentang mangrove. Mereka bertujuh mengajak masyarakat terutama komunitas dan individu untuk belajar kepada mereka yang autis. Bila kita ingin belajar inti kehidupan manusia, maka kita perlu belajar dan inklusif kepada mereka yang autis. USD sebagai bagian dari kota Yogyakarta, dan mereka sebagai mahasiswa USD, tentu mereka akan menjadi wakil kota Yogyakarta. “USD ingin memberikan kontribusi dalam membawa pesan kemanusiaan dan ekologi yang lebih ramah kepada masyarakat luas. Saya yakin perubahan dapat dimulai dan akan menjadi lebih baik bila dimulai dari hal-hal yang kecil. Dari tindakan-tindakan yang kecil bila dilandasi oleh cinta kasih akan berbuah perubahan yang besar.” demikian ungkapnya.
Sebelum memulai perjalanan, Angga Dwi Putra (Psikologi 2012) sebagai koordinator dari kelompok bersepeda tersebut mengungkapkan bahwa mereka bersyukur dan berterima kasih kepada USD karena USD telah mendukung dan menyemangati niat-niat dan harapan yang kami tumbuhkan di dalam kegiatan bersepeda ini. Kami sebagai orang muda merasa prihatin bahwa masyarakat begitu mudah mengatakan autis kepada sebagian kecil orang yang mengidap penyakit tersebut, sehingga berdampak pada perilaku tanggapan masyarakat kepada mereka yang menderita autis. Autis merupakan gangguan sel saraf otak (neurobiologis) yang menganggu fungsi dan perkembangan otak. Autisme mengakibatkan individu memiliki kekurangan dalam komunikasi, interaksi sosial, kemandirian, dan pengenalan emosi. Bertambahnya individu dengan autism di tengah-tengah masyarakat mengajak kita untuk dapat bersikap dengan tepat terhadap mereka. Mereka adalah karya Allah yang diciptakan istimewa dan lewat bentuk penerimaan diri mereka, mereka mampu berkembang untuk menempati ruang yang dapat mereka lakukan dan perbuat di dalam masyarakat. “Kita berkampanye dan memperkenalkan autisme kepada komunitas atau individu yang kami jumpai tentang autisme sebagai bentuk belarasa dengan manusia yang lain.” demikian ungkapnya.
Lebih lanjut Angga Dwi Putra mengungkapkan bahwa prihatin dengan kerusakan mangrove (hutan bakau) khususnya di pulau Bali. Bali menjadi destinasi bagi masyarakat lokal atau internasional untuk berkunjung dan menikmati keindahan alam di pulau tersebut khususnya kekayaan alam laut dan heritage lainnya. Bila ekosistem laut semakin lama rusak karena sampah dan dirusak oleh semakin banyak orang, apalagi yang bisa kita nikmati. Mangrove menjadi tempat berlindung dan menjaga ekosistem air yang terdiri dari ikan-ikan, burung-burung dan makhluk hidup lain. Mangrove juga menjaga daratan untuk terhindar dari abrasi gelombang laut yang menjadikan daratan semakin susut. Sebagai tempat persinggahan kami terakhir di pulau Bali, kami hendak melestarikan dan mensosialisasikan kepada masyarakat yang kami jumpai sebagai usaha untuk menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap mangrove. “Kami menyadari perubahan ini membutuhkan keterlibatan dari banyak orang, dan kami mengajak masyarakat luas untuk mau dan mampu terlibat bersama kami melakukan perubahan menuju lebih baik untuk menerima mereka yang autis dan merawat mangrove.” demikian ungkapnya. (FXAP)

  kembali