Perguruan tinggi harus memiliki pemahaman kontekstual atas kondisi generasi muda Indonesia dari sisi psikologi sosial. Pemahaman seperti ini sangat penting karena saat ini kaum muda mengalami pergeseran dalam mengkonstruksi identitas diri mereka. Demikian dikatakan oleh Dr. Christina Siwi Handayani, dosen Psikologi USD, dalam seminar Dies Natalis Sanata Dharma ke-53 di kampus 2 Mrican Sabtu (13/12). Menurut Dr. Christina Siwi praktek konsumsi sangat berperan dalam konstruksi identitas diri wanita muda perkotaan Yogyakarta. Gambaran identitas diri yang dominan pada wanita perkotaan Yogykarta adalah menilai pentingnya ruang gaul dan ekspresi gaul dengan memanfaatkan benda-benda konsumsi. Beliau lebih jauh menyatakan bahwa proses pembentukan identitas diri melalui konsumsi merupakan hasil proses dialektika saling mempengaruhi antara kekuatan masyarakat dan kreativitas individu. Untuk itu, menurut Siwi, adalah penting bagi wanita muda kota atau wanita pada umumnya untuk memiliki sikap kritis dan ketrampilan dalam mengambil keputusan yang tepat. Hal ini sangat diperlukan untuk menghadapi pengaruh budaya konsumsi yang semakin kuat dan tak terbendung sehingga mereka tidak larut di dalamnya. Dan yang juga penting untuk diketahui adalah orang tua dan masyarakat termasuk lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi, harus memiliki pemahaman yang lebih tepat dan kontekstual atas kondisi anak muda sehingga tidak terperangkap dalam pendekatan yang normatif. Sementara itu Dr. Yuliana Setiyaningsih dalam makalahnya yang berjudul "Menakar Kekuatan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan pada Abad ke-21" menegaskan bahwa sebagai salah satu alat penentu identitas bangsa, pemakaian bahasa Indonesia baku perlu dikembalikan kepada fungsinya sebagai alat komunikasi, sekaligus alat politik, budaya, ilmu pengetahuan, dan piranti berpikir. Dan perguruan tinggi memegang peranan penting dalam hal ini. Perguruan tinggi juga harus membuka hati dan pikiran mahasiswa, termasuk dosen, terhadap keadaan yang timpang dan kurang adil yang masih dirasakan oleh mayoritas manusia. Hal ini dikemukakan oleh Prof. Liek Wilardjo, Ph.D., D.Sc. Beliau menegaskan bahwa teknologi dan humaniora tidak perlu dipertentangkan karena keduanya berusaha mencari kebenaran. Perguruan tinggi, menurut Prof. Dr. Sofian Effendi, memiliki kewajiban terhadap situasi politk Indonesia yang memprihatinkan yan gditandai dengan peluruhan Pancasila, kegagalan konsolidasi demokrasi, "mismatch" antara sistem kepartaian dan pemerintahan negara, dan desentralisasi tanpa visi yang mengarah ke disintegrasi. (Tti)




