Menjadi seorang farmasis, tidaklah hanya terpaku pada obat-obatan dan pelayanan kesehatan. Berbagai produk untuk menambah estetika dan menjaga kecantikan yang kita ketahui sebagai kosmetik juga merupakan topik yang sangat esensial untuk diperhatikan dalam dunia kefarmasian. Dengan tujuan inilah Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma menghadirkan dua sosok yang sangat luar biasa untuk membagikan pengetahuan dalam bidang kosmetik. Pembicara pertama untuk subtema “Perkembangan Kosmetik Herbal” adalah Dr. Martha Tilaar, tentulah nama ini sudah tidak asing terdengar.
“Indonesia is rich, but it is poor”. Sebuah situasi di Indonesia, yang mengetuk hati Ibu Martha Tilaar dalam pencapaian mimpinya. Ibu Martha Tilaar, menyadari betul kekayaan alam Indonesia yang luar biasa. Indonesia adalah negara dengan biodiversitas tertinggi kedua di dunia, namun belum banyak dari kekayaan alam itu yang dipergunakan untuk memajukan bangsa ini. Indonesia juga kaya akan warisan leluhur yang khas di setiap daerahnya, di antaranya warisan turun-temurun untuk mempercantik diri. Warisan turun-temurun yang diyakini khasiatnya karena telah dibuktikan lewat pengalaman beliau sendiri adalah jamu. Berbekal kekayaan alam dan warisan leluhur inilah, Ibu Martha Tilaar menata mimpinya yakni mempercantik wanita Indonesia.
Ibu Martha Tilaar juga membagikan pengalaman beliau dalam memulai usaha, bagaimana beliau memulai semua usahanya sejak 0 dan dengan biaya yang tidaklah banyak. Bermula dari sebuah garasi pemberian orang tua, Ibu Martha Tilaar membuka salon kecantikan yang kemudian beliau kembangkan menjadi kursus kecantikan. Beliau membagikan, bahwa dalam keterbatasan tetapi dengan usaha yang besar maka akan berbuah besar. “Dream Big, Starts small, and act fast” demikian semangat yang selalu diyakini oleh Ibu Martha Tilaar. “Jangan takut bermimpi, bermimpilah. Tapi jangan hanya sekedar bermimpi, wujudkanlah mimpi itu segera”, kata beliau di tengah-tengah materi yang beliau sampaikan.
Ibu Martha Tilaar juga mengatakan “Saya tidak mau hanya mengandalkan cerita turun-temurun (empiris), oleh karena itu saya selalu memulai dengan sebuah tim yang memastikan sungguh bahwa nantinya produk kami dapat aman digunakan oleh orang lain.” Jika sebuah produk dibuat hanya berdasarkan “kata orang ini dapat berkhasiat” atau “ini sudah digunakan sejak dulu” tentulah produk itu tidak menjadi pilihan. Konsumen tentu memerlukan bukti yang dapat mebuatnya merasa aman dan percaya untuk menggunakan sebuah produk. Ibu Martha Tilaar mengajarkan bahwa di tempat usaha miliknya, terdapat tim RnD yang terus meneliti sumber daya alam yang dapat diformulasikan menjadi kosmetik dan memastikan bahwa kosmetik tersebut aman digunakan. Pengujian terhadap produk sangatlah penting, selain bagi pengguna, juga bagi perusahaan terkait dalam kompetisi produk. Produk-produk berkualitas baiklah yang dapat bersaing dengan produk impor yang terus menjamur.
Jika hanya mendengar ucapan atau pendapat orang lain, suatu usaha menjadi sulit berkembang: Ibu Martha Tilaar pernah mendapatkan komentar miring akan usahanya. Komentar miring beliau dapatkan di masa awal ia membuka usaha, karena produk yang beliau tawarkan adalah bahan alami yang diracik sendiri maka dianggap sebagai usaha yang mistik, kuno, tidak rasional, tidak ilmiah dan sebagainya. Tetapi waktu dan usaha telah membuktikan bahwa anggapan miring tersebut tidak benar. Pengalaman lain ia alami ketika beliau membuat produk untuk kulit berwarna gelap, seseorang menyangsikan produk itu akan laku. Ibu Martha Tilaar berpean lewat pengalaman ini, bahwa dalam proses berkembang, percaya dirilah dan jangan mudah mundur karena anggapan negatif dari orang lain.
Ibu Martha Tilaar juga mengampanyekan seruan “GLOCALIZATION”, yang mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai dan menggunakan produk-produk lokal. Sudah bukan zamannya everything from the west is the best tetapi mari menjadikan produk dalam negri berkualitas sebagai pilihan. Menanamkan kecintaan pada produk dalam negeri, bahwasannya kekayaan alam kita sangatlah cukup bagi perkembangan bangsa kita. Mencintai hasil karya lokal, berarti mencintai khasanah budaya yang telah ada sedari dulu, serta menunjukkan jati diri bangsa kita.
Pembicara kedua yang membawakan subtema “Peran apoteker dalam industri kosmetik” adalah bapak Robbyono, S.Farm., Apt. Beliau adalah salah seorang lulusan terbaik Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, saat ini beliau telah berkecimpung dalam dunia kewirausahaan kosmetik. Sebagai seorang praktisi, beliau sebagian besar berbagi tentang hal-hal praktik. Beliau membuka pikiran peserta akan “Menjadi wirausahawan lewat jejaring sosial”. Beliau berbagi kepada peserta bahwa beliau memulai usahanya dengan terlebih dahulu menyadari sumber daya yang ada di daerah beliau. Beliau memanfaatkan lidah buaya sebagai tanaman yang sangat mudah diperoleh di wilayah Pontianak, Kalimantan Barat.
Di awal memulai usaha, Pak Robby juga pernah mengalami kegagalan. Tetapi beliau bangkit kembali dan justru membuat terobosan baru bagi usahanya. Beliau menjual produknya ke luar negeri, terutama Filipina dan penjualan produknya terus menanjak. Metode yang beliau gunakan adalah penjualan lewat sosial media. Beliau menyadari betul bahwa kini peranan teknologi telah merambah berbagai bidang dan menghilangkan jauhnya jarak. Beliau mempromosikan produknya lewat website dan kemudian meminta feedback berupa kesan terhadap produk atau pemesanan lewat blog. Cara yang beliau gunakan terbukti efektif karena dapat menekan biaya promosi (lebih terjangkau jika harus dipromosikan lewat hardcopy misalnya) dan membuat jejaring dengan konsumen menjadi luas, lingkup internasional.
Tips lain yang Pak Robby tawarkan adalah dengan branding.Yang dimaksud dengan branding di sini adalah membuat brand atas produk. Brand yang telah dibuat, didaftarkan hak ciptanya kepada instansi yang berwenang. Setelah itu, produk yang dikehendaki dapat dibuat di mana saja, termasuk di luar negeri. Sejauh produk menggunakan brand yang telah terdaftar hak ciptanya, maka sang pemilik hak atas brand akan selalu mendapatkan royalty. Mari berani berwirausaha! (EEN)




