USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

IGNASIAN: Inilah Gairah Nyata berASaskan Iman dan pelayANan

diupdate: 12 tahun yang lalu


Pedagogi Ignasian (PI) telah akrab bagi hampir semua anggota civitas academica Universitas Sanata Dharma setidaknya dalam periode delapan tahun terakhir. Tiap semester, dibuka kesempatan bagi para staf pengajar USD untuk mengajukan hibah PI. Namun, sampai hari ini, pertanyaan mendasarnya tetap sama: adakah semangat dasar PI sudah benar-benar didaratkan dalam pola interaksi di kelas? Apakah semangat ini sudah mendarah-mendaging dan terinternalisasi dalam setiap pikiran, perkataan, perilaku, dan perbuatan?
Lokakarya Pembelajaran USD (28-29 Mei 2015, di Kaliurang) muncul dari kesadaran kritis yang terungkap dalam pertanyaan tersebut. Agenda lokakarya ini sendiri diinisasi dari Kantor Wakil Rektor I, dan dibantu pengelolaannya oleh Tim P3MP-LPM. Lokakarya menghadirkan Br. Y. Triyono, SJ, M.Sc., Kepala Sekolah SMA Loyola, Semarang, sebagai narasumber eksternal.  Sementara, fasilitator internal meliputi T. Sarkim, Ph.D., Dr. B. Widharyanto, tim RPS (Rishe Purnama Dewi, M.Hum., Cornelio Purwantini, M.S.A., dan Dr. Yuliana Setiyaningsih), dan moderator Markus Budiraharjo, Ed.D.
Menggairahkan semangat belajar untuk berbagi
Dalam sambutan pembukaan lokakarya ini, Rektor USD, Johanes Eka Priyatma, Ph.D., memberikan pesan yang lugas. Pergulatan untuk mendaratkan semangat PI tidak pernah akan berakhir. “Dewasa ini, para mahasiswa datang ke kampus dengan bekal yang sangat minimal. Banyak dari mereka yang belum tahu apa yang sesungguhnya mereka cita-citakan.”  Kondisi faktual macam ini, menuntut perubahan paradigmatis di dalam diri para staf pengajar. “Tantangan terbesar di kalangan para dosen adalah bagaimana senantiasa menghadirkan gairah belajar yang inspiratif.” lanjutnya.
Perbincangan selama lokakarya sebagian besar berorientasi pada kata GAIRAH ini. Gairah yang lemah, menurut Dr. D. Bismoko Mahamboro, Pr., disinyalir berawal dari kecenderungan masyarakat untuk membebankan proses dan disiplin belajar secara berlebihan di jenjang-jenjang awal pendidikan. Pada masa-masa awal pendidikan, anak-anak sudah mendapat penugasan yang berat, di luar kapasitas mereka. Akibatnya, justru ketika kuliah, mereka diduga merasa lepas bebas dari kungkungan. Kompensasi waktu bermain yang hilang ditemukan pada masa-masa kuliah tersebut. Gairah yang ada bukan lagi akademis, namun justru gairah bebas bermain di luar akademis.
Gairah yang salah sasaran, menurut Bruder Yustinus Triyono, SJ, sangat mungkin berasal dari kebiasaan untuk mementingkan diri sendiri. Orientasi belajar dengan target “achievement,” ditandai dengan (a) agenda untuk menguasai, (b) alat ukur keberhasilan didasarkan pada keyakinan hanya pada kemampuan dirinya sendiri, dan (c) tujuan untuk akuisisi dan akumulasi demi kepentingannya sendiri. Sangat sedikit gairah belajar ditempatkan untuk “fruitfulness.” Sebaliknya, orientasi belajar penuh gairah demi buah rahmat melimpah ini ditandai dengan (a) agenda belajar untuk mengagumi, (b) alat ukur keberhasilan diletakkan dalam sikap rendah hati karena ada bantuan dan dukungan dari berbagai pihak di sekitar dirinya, dan (c) tujuan utamanya adalah untuk berbagi bagi sesamanya.
Sumber-sumber kegairahan
Gairah belajar penuh makna muncul dari interaksi berkesan dengan pribadi teladan di masa lalu. Hery Antono, M. Hum, dosen Fakultas Sastra, mengenangkan legenda hidup, Prof. Soepomo Poedjasoedharmo, yang selalu memberikan tugas sederhana, namun menuntut keterampilan pemecahan masalah nyata. “Pak Pomo lebih sering melibatkan. Perintahnya sederhana. Misalnya,  dalam kuliah sosiolinguistik, gambarkan bagaimana orang marah, tulis dalam satu makalah,”  kenangnya. 
Gairah belajar tumbuh karena dipercaya. “Orang seperti saya tidak pernah diajar menjadi dosen. Yang kuliah di PTN lebih sering dibiarkan. Dosen memberi tugas. Mau tidak mau, para mahasiswa tergerak untuk bertanggung jawab,” Dr. Sri Mulyani, pengajar Sastra Inggris.
“Gairah belajar bukan karena dosen mampu memberi perintah. Motivasi tidak tumbuh dari nasehat.  Motivasi belajar tumbuh subur seiring dengan pengalaman terlibat. Prinsip dasar dari Lev Vygotsky berlaku di sini. Dosen yang menumbuhkan gairah adalah dia yang tahu apa kekuatan dan kelebihan para mahasiswanya. Sekaligus keterbatasan dan kekurangan yang dimiliki para mahasiswa. Keahlian sang dosen terletak dalam membuat proses pembelajaran unik, khas, dan tepat, sesuai dengan konteks Zone of Proximal Development macam ini” imbuh T. Sarkim, Ph.D.
Gairah dalam kacamata non-dikotomistik
“Haruskah 3 C (Competence, Conscience, and Compassion) dimunculkan dalam setiap pertemuan? Bagaimana dengan mata kuliah Akuntansi yang lebih banyak menuntut Competence? Misalnya, mata kuliah jurnal keuangan menuntut kegiatan kemampuan hitung-hitungan. Bagaimana Conscience dan Compassion bisa dimasukkan?” pertanyaan  ini diajukan oleh C. Wigati Retno Astuti, M.Si., M.Ed, pengajar program studi Pendidikan Ekonomi.
Slogan 3C memang akan lebih mudah diterjemahkan dengan pola berpikir holistik-menyeluruh. “Ilmu Akuntansi bisa ditempatkan dalam gambar besar, misalnya dalam tema kejujuran. Bisa juga, untuk mengangkat aspek conscience dan compassion, para mahasiswa diajak untuk saling membantu dalam memecahkan persoalan.  Pembelajaran berbasis proyek yang menuntut kolaborasi bisa dipakai,” jawab Br. Triyono, SJ.
Otokritik: PI yang tidak terjebak dalam instrumentalisme
Dostoyevsky pernah menulis. “Bila Yesus lahir di dunia pada masa Abad Pertengahan, maka Dia akan disalib untuk kedua kalinya. Bukan oleh orang Israel, tetapi oleh para petinggi Gereja sendiri!” Lima abad sesudah kelahiran Yesus, secara sistematis Gereja telah melanggar apa yang diajarkan oleh Yesus sendiri. Mihaly Csikzentmilhayi (1934-2010), ahli psikologi positif berdarah Hungaria, mengingatkan bahwa upaya untuk membangun kesadaran (conscientiousness) tidak bisa diterjemahkan ke dalam rangkaian prosedur tunggal. 
“Tiap kali kegiatan examen conscientiae dilakukan di SMP Kanisius Jakarta, para pesertanya menikmati waktu keheningan 15 menit untuk sebentar tidur siang, bukan untuk merenungkan pengalaman hidupnya pada hari itu. Pantas dicurigai bahwa para pendamping di masing-masing kelas bukan pelaku utama examen macam ini,” kenang Rm. A.Buddy Haryadi, SJ, mantan Kepala Sekolah SMP Kanisius Jakarta.
Kegiatan refleksi sebagai inti dari Pedagogi Ignasian justru mati ketika diterjemahkan semata-mata dalam serangkaian langkah prosedural. Adalah pertanyaan yang tampaknya tidak pernah mudah untuk dijawab: Adakah semangat PI sudah mendarat di dalam setiap gerak langkah interaksi dan relasi di USD? (MB)

  kembali