Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Sanata Dharma (USD) tidak pernah absen dalam menyelenggarakan Pagelaran Sastra di setiap tahunnya. Agenda tahunan tersebut merupakan bagian mata kuliah yang bernama Pagelaran Sastra yang diampu oleh Drs. J. Prapta Diharja, S.J., M.Hum. Melalui mata kuliah Pagelaran Sastra, Mahasiswa PBSI semester VI diberi tantangan untuk membuat sebuah pertunjukan, baik film, teater, maupun drama.
Pada tahun 2015 ini, acara Pagelaran Sastra diselenggarakan sebanyak dua kali, yaitu pada tanggal 22 dan 29 Mei 2015. Dua judul drama yang dipentaskan adalah (1) Orang Kasar dan (2) Jakarta Mei 1998.
Orang Kasar
Drama yang pertama berjudul Orang Kasar, yang dipentaskan oleh kelas Mahasiswa PBSI Semester VI Kelas A, pada Jumat (22/5), di Aula Universitas Sanata Dharma, Kampus I, Mrican. Drama berjudul Orang Kasar tersebut berkisah
tentang dua tokoh utama yang saling berlaku kasar, baik dalam tindakan maupun kata-katanya. Mereka adalah Nyonya Martopo (diperankan oleh Sesilia Pradita) dan Baitul Bilal (diperankan oleh Aji Pamungkas). Dalam cerita itu, Nyonya Martopo harus menanggung nasib sebagai seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya. Setelah suaminya meninggal, ia baru mengetahui bahwa suaminya itu ternyata tidak setia kepadanya. Walaupun demikian, ia berkabung terus-menerus untuk membuktikan bahwa ia tetap setia, tidak seperti suaminya itu.
Permasalahan menjadi semakin memuncak ketika ternyata suaminya itu memiliki hutang yang belum dibayar. Hidup sang janda terusik ketika sang penagih hutang bernama Baitul Bilal mendatanginya. Baitul Bilal memaksa Nyonya Martopo untuk membayar hutang-hutang suaminya yang telah meninggal. Akan tetapi, sang janda enggan membayar hutang-hutang suaminya. Ia menganggap bahwa hal itu bukanlah urusan dirinya. Sejak itulah perseteruan antara Baitul Bilal dan Nyonya Martopo terjadi. Perseteruan antara sang janda dan penagih hutang itupun terjadi dengan sangat histeris, humoris, sekaligus romantis. Pada akhirnya, si penagih hutang jatuh cinta kepada sang janda, begitu juga sebaliknya.
Jakarta Mei 1998
Konsep dan karakter yang berbeda ditampilkan oleh mahasiswa VI kelas B yang menampilkan drama dengan judul Jakarta Mei 1998 (29/5) di Aula Universitas
Sanata Dharma, Kampus I, Mrican. Drama tersebut terinspirasi dari cerpen Seno Gumira Ajidharma yang berjudul Clara. Jika kita melihat sejarah, Indonesia mempunyai cerita kelam pada tahun 1998. Kisah kelam itulah yang juga tergambar dalam drama tersebut.
Drama berjudul Jakarta Mei 1998 berkisah tentang tokoh wanita cantik bernama Clara (diperankan oleh Maria Rezty Dafrida). Clara adalah seseorang berdarah Tionghoa yang bekerja sebagai wanita karier. Karena kesibukannya dalam bekerja, ia tidak mengetahui perkembangan politik yang pada saat itu kondisinya sedang memanas. Krisis Indonesia pada tahun 1998 menyebabkan kerusuhan dan pemberontakan terjadi di berbagai daerah. Dalam suatu peristiwa, Clara terjebak dalam sebuah kerumunan massa yang pada saat itu terjadi. Ia menjadi korban tindakan asusila oleh beberapa orang yang saat itu rusuh.Peristiwa itulah yang membuat hidup Clara menjadi penuh dengan derita. Derita itu semakin memuncak ketika kejiwaannya terganggu karena terpisah dengan anaknya yang pada waktu kecil dibuangnya.
Proses yang panjang telah dilalui oleh para mahasiswa dalam menyelenggarakan acara tersebut, mulai dari latihan, pencarian dana, gladi bersih, hingga hari pementasan. Ditemui usai acara, Titto Ragil, selaku sutradara Jakarta Mei 1998 mengungkapkan rasa syukur atas terselenggaranya acara Pagelaran Sastra tersebut. “Saya cukup puas dengan terselenggaranya acara ini. Kerja keras dan kebersamaan yang terbangun di antara teman-teman terbayar pada malam ini”, ungkapnya. Ia menuturkan bahwa melalui kegiatan Pagelaran Sastra, seni drama dapat dibangkitkan, khususnya bagi kalangan muda. “Pentas ini tidak dapat berhasil tanpa dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya juga mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung acara kami”, tambahnya. (DPTH)




