USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Silent Rebellion: Membedah Sajak-Sajak Sahabat Sadhar

diupdate: 12 tahun yang lalu


“Kalau dibandingkan dengan hewan, manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Tuhan yang bisa bercerita. Itu adalah sebuah anugerah. Setiap orang punya cerita dan itulah yang membedakan manusia dengan hewan. Tapi, tidak semuanya bisa bercerita kembali kepada sesamanya.” tutur Novita Dewi.
Dari hal itulah Novita Dewi, dosen Program Magister Kajian Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma (USD), menulis buku “Sajak-Sajak Sahabat Sadhar”. Dan dari situlah adanya acara peluncuran dan bedah buku tersebut yang diadakan di Ruang Driyarkara, Gedung Pusat USD, Jumat (29/5). Acara ini diangkat dengan tema Silent Rebellion.
“Sajak-Sajak Sahabat Sadhar”adalah tulisan Novita Dewi yang mengapresiasi puisi-puisi yang ditulis oleh keenam sahabatnya. Mereka adalah G. Sukadi, I Dewa Putu Wijana, Ouda Teda Ena, Henny Herawati, Yoseph Yapi Taum, dan Bakdi Soemanto. “Buku ini adalah apresiasi saya terhadap para penulis yang sudah bercerita melalui puisi-puisi. Puisi menjadi pilihan saya karena puisi adalah yang paling ekonomis di antara genre sastra (dalam bercerita).” kata Novita.
Dalam acara bedah buku ini, para peserta dan pembicara dengan hangat dan sederhana berdiskusi tentang puisi dan kata sebagai ekspresi jiwa. In Nugroho Budisantoso, SJ yang menjadi penanggap melontarkan opininya mengenai penciptaan puisi sampai penerimaannya di tangan pembaca: Discovery, Recovery, dan Advokasi. Discovery adalah ketika penyair menemukan kata. Karena, meskipun puisi adalah luapan spontan manusia, tetapi kata adalah sesuatu yang harus dicari. Recovery adalah ketika pembaca bisa kembali ingat dan merefleksikan pengalamannya yang diwakili oleh kata-kata yang tertuang dalam puisi. Kemudian, tahap advokasi adalah saat tulisan tersebut bisa menyuarakan pesan untuk masyarakat yang lebih luas. “Waktu membaca buku ini, saya seperti ditarik kepada suasana yang ingin disampaikan penyair. Saya memasuki pengalaman para penyair yang berusaha menemukan kata, yang tidak serta-merta datang, tapi dilahirkan dengan susah payah, apalagi kalau kata itu ingin menyampaikan sesuatu,” jelasnya.
Silent Rebellion sendiri dipilih menjadi tema diskusi karena melihat puisi-puisi yang dikutip Novita Dewi dalam bukunya. “Kata-kata itu adalah kata-kata perlawanan terhadap situasi yang sedang berkembang. Meskipun lembut, meski seperti bukan perlawanan, tapi ada desakan dari  dalam yang ingin dibebaskan.” kata In Nugroho.
“Jika dikaitkan dengan penulis, bisa jadi ekspresi jiwa dalam puisi itu memiliki kesamaan visi”. Hal itu adalah compassion atau bela rasa. Isu yang dibebaskan (oleh penulis) bisa jadi adalah kemanusiaan yang sedang terancam, dan hal itu tidak bisa diucapkan sendiri.” jelas Novita Dewi (GMP)

  kembali