USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

DOSEN, KARYAWAN, DAN MAHASISWA USD PENTASKAN KETOPRAK "BREMANA KEMBAR"

diupdate: 18 tahun yang lalu

Dalam rangka memperingati Dies Natalis Sanata Dharma ke-53, pada hari Sabtu (22/11) bertempat di Kampus III USD digelar “Ketoprak Sadhar Budaya” dengan cerita “Sumilaking Pedut Kadipaten Bojonegara” dengan lakon “Bremana Kembar”, diiringi gamelan “Langen Budaya” yang anggotanya terdiri dari warga Sanata Dharma. “Ketoprak ini sebagai sarana warga Sanata Dharma (Dosen, Karyawan, dan Mahasiswa) untuk melestarikan budaya bangsa Indonesia, selain itu acara ketoprak dapat digunakan sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan atau suara hati tentang peningkatan yang ada di Sanata Dharma, misalnya bagaimana sikap pimpinan, kapan gaji akan dinaikkan, dll”, demikian disampaikan oleh Rektor USD Dr. Ir. P. Wiryono Priyotamtama, S.J. dalam sambutannya. Dalam cerita ketoprak ini Prabu Darmawasesa sedih karena putri Ambarawati menginginkan seekor burung Mliwis yang dapat berbicara. Bahkan ketika hal ini menjadi sayembara bagi para raja yang melamar, justru menjadi bahan perselisihan dan membuat peperangan antara kerajaan Bojonegara dan kerajaan-kerajaan lain. Sebenarnya burung Mliwis yang dapat berbicara memang ada. Burung ini dimiliki oleh Jaka Gedug, seorang anak yang celat, putera Ki Demang Klungsur. Atas nasehat Mliwis, Klungsur datang ke Kabupaten Bojonegoro untuk memperbaiki nasib keluarganya. Balika (gendruwo) bermimpi bertemu dengan seorang wanita yang menawan hatinya, namanya Bremani. Usut-punya usut, Bermani adalah istri Bremana. Karena ketertarikannya pada Bremani, Gendruwo Balika menyamar menjadi Bremana. Di sisi lain, saat itu Bremani sudah mengandung tiga bulan dan ingin minum madu tawon beserta tala-nya. Bremana yang memang sudah sangat mendambakan anak segera mencari madu tersebut ke hutan. Tak lama kemudian datanglah Bremana palsu (Balika) datang membawa madu tawon. Setelah madu diminum Bremani, mereka berdua berkasih-kasihan. Saat itu datanglah Bremana yang asli, juga membawa madu tawon. Terjadilah perkelahian antara dua Bremana. Pak Lurah yang datang melerai tidak dapat menyelesaikan persoalan dan membawa masalah tersebut kepada pemerintah Kabupaten Bojonegara. Raja Darmawasesa juga tidak dapat menyelesaikan persoalan, kemudian dibuatlah sayembara. Barangsiapa dapat memilih Bremana yang asli, akan diangkat menjadi Jaksa Negara. Atas bantuan burung Mliwis yang dapat berbicara, Ki Demang Klungsur datang melamar sayembara dan dapat menyelesaikan persoalan. Karena strategi yang digunakan Klungsur, Bremana palsu dapat dimasukkan ke dalam Kendi Pratala, dan segera ditutup. Setelah kendi dipecah, Bremana palsu (Balika) berubah wujud, kembali ke wujud aslinya sebagai Gendruwo Balika. Terjadi peperangan antara Balika dengan Klungsur yang dibantu oleh burung Mliwis. Balika dapat dikalahkan Mliwis yang sebenarnya adalah penjelmaan Prabu Angling Darmo, titisan Batara Wisnu. Balika adalah titisan dari Batara Kala. Akhir cerita, Balika diusir dari Bojonegara dan Ambarawati dinikahkan dengan Prabu Angling Darmo. (Budi)

  kembali