Lingkar Studi Universitas Sanata Dharma (USD) bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) USD mengadakan acara Hari Studi. Acara tersebut diselenggarakan di Ruang Driyarkara Kampus USD Mrican pada Kamis (28/5) dengan tema “Intoleransi, Agama, dan Kerentanan Pendidikan”.
“Intoleransi tentu terkait dengan konflik. Kalau kita sadari, manusia itu adalah makhluk yang paling cerdas untuk berkonflik. Bahkan, kalau kita membaca surat kabar, 90% beritanya itu tentang konflik. Konflik atas nama agama menjadi konflik
yang sungguh tidak bisa kita hindari. Bagaimana mungkin agama menjadi alasan bagi terjadinya konflik”, ujar Rektor USD, Drs. J. Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D., saat memberikan sambutan dalam acara Hari Studi.
Kondisi Indonesia yang masyarakatnya beragam tentu begitu sensitif dengan isu-isu intoleransi. Akhir-akhir ini, munculnya tokoh-tokoh agama yang terang-terangan mewartakan kebencian antarsesama manusia, serta terkuaknya materi gagasan intoleran pada buku pelajaran agama di beberapa daerah pada waktu lalu, dapat dibaca sebagai percik-percik peristiwa yang menunjukkan bahwa pendidikan yang berkehendak memuliakan manusia, berjumpa dengan hasrat-hasrat yang berkebalikan dengan kehendak mulia itu. Bahkan, melalui bahan-bahan pelajaran di sekolah, benih-benih yang berpotensi mengahancurkan persaudaraan antarumat manusia disemai dan mendapatkan tempat untuk tumbuh.
Sejumlah laporan penelitian beberapa tahun terakhir, misalnya oleh The Wahid Institute (2010), CSIS (2012), Setara Institute (2012), Majalah Tempo (2012), dan Human Right Watch (2014), yang memperlihatkan semakin meningkatnya intoleransi di tengah masyarakat Indonesia, boleh dikatakan semakin menambah gambaran suram dunia yang dihadapi oleh pemanggul misi pendidikan di Indonesia.
Itulah yang menjadi latar belakang diselenggarakannya Hari Studi dengan tema Intoleransi, Agama, dan Kerentanan Pendidikan. Dalam acara tersebut, tiga narasumber dihadirkan. Ketiga narasumber tersebut adalah (1) Allisa Wahid, (2) F.X. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D., dan (3) Dr. Karlina Supelli. Jalannya diskusi dipandu oleh I.Y. Kristio Budiasmoro, M.Si., sebagai moderator.
Pembicara pertama adalah Allisa Wahid. Allisa Wahid adalah puteri mantan Presiden RI K.H. Abdurracman Wahid, atau yang lebih dikenal dengan Gusdur. Sebagai informasi yang layak diketahui juga, beliau adalah Koordinator Nasional Gusdurian Network Indonesia. Dalam kesempatan itu, Allisa Wahid memaparkan fenomena intoleransi dari sudut pandang di dalam gerakan sosial. “Dalam sepuluh tahun terakhir, presentase insiden kekerasan dan intoleransi mengalami peningkatan. Selain itu, jumlah legislasi yang diskriminatif atas dasar mayoritas-minoritas juga mengalami peningkatan”, ujarnya. Beliau menuturkan bahwa di suatu daerah, ada sebuah tempat ibadah yang dilarang digunakan untuk beribadah hanya karena adanya alasan mayoritas dan minoritas penduduk setempat. Menurutnya, hal tersebut juga disebabkan karena hukum di Indonesia yang lemah.
Pembicara yang kedua adalah F.X. Ouda Teda Ena, M.Pd., Ed.D., yang juga merupakan dosen di Universitas Sanata Dharma. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan paparan mengenai Pertarungan Ideologi Kurikulum dan Kerentanan Pendidikan Indonesia. “Terkadang orang menganut agama yang berbeda, tetapi kadang ideologi yang mereka anut itu sama. Sebagian besar orang dapat dengan mudah menjawab pertanyaan tentang agama yang dianutnya. Akan tetapi, sebagian besar orang bingung menjawab apa ideologi pendidikan yang dianutnya”, ujarnya dalam sesi penyampaian materi. Berkaitan dengan hal tersebut, beliau memaparkan berbagai jenis ideologi pendidikan dan manifestasinya. Beliau menganggap bahwa kurikulum sebagai sebuah medan tempur bagi pihak-pihak yang memiliki ideologi yang berbeda. Selain itu, beliau juga menyampaikan berbagai kerentanan yang ditimbulkannya.
Pembicara yang ketiga adalah Dr. Karlina Supelli, yang juga merupakan dosen Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara Jakarta. Dalam kesempatan itu, Dr. Karlina Supelli memaparkan materi dengan judul Pendidikan Proses Kultural bagi Transformasi Sosial. Mengutip pendapat Bertrand Russell (1950), beliau menuturkan bahwa intoleransi adalah akibat dari ketidaktahuan (ignorant intolerance) tentang hal-hal yang asing serta berbeda dengan kebiasaan-kebiasaan. Oleh karena itu, jika kita masih menghendaki demokrasi, tugas seorang guru, di atas segalanya adalah membangkitkan toleransi yang muncul dari upaya untuk memahami mereka yang berbeda dengan kita. Menurutnya, intoleransi yang disebabkan karena ketidaktahuan itu hanya bisa diatasi dengan membangun cara berpikir.
Menariknya acara yang berlangsung tidak hanya dalam sesi penyampaian materi oleh ketiga narasumber, tetapi juga dalam sesi tanya jawab. Berbagai ide dan persoalan yang menarik juga dimunculkan para peserta diskusi. Acara tersebut diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan kepada para pembicara.
Ada berbagai tujuan yang hendak dicapai berkat berlangsungnya acara ini. Yang utama adalah, para dosen muda USD tergerak untuk meneruskan spirit dan falsafah Sanata Dharma, yaitu “sebuah kampus untuk dan bersama masyarakat”. Acara ini juga merupakan salah satu perwujudan nilai “menghargai keberagaman” yang juga menjadi semangat USD dalam menghidupi pendidikan di Indonesia. (DPTH)




