Magister Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Jumat, 22 Mei 2015 menggelar Seminar berjudul ASCOLTACI VII di ruang Driyarkara, Kampus 2 USD Mrican. Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian seminar bulanan hasil penelitian yang diselenggarakan Pascasarjana USD. Hasil penelitian yang coba dibagikan kepada para peserta seminar pada kesempatan ini membahas tentang “Batik dalam Ekonomi Politik dan Identitas”. Batik sebagai identitas digambarkan sebagai media yang menghadirkan banyak ekspresi di dalam karya yang tercipta. Mbatik itu lelaku, sebuah proses perjalanan yang membutuhkan keikhlasan dalam setiap prosesnya. Menjadi kontradiksi sekarang bahwa batik juga menjadi barang dagangan, pasar juga menentukan setiap nilainya. Bahkan pernyataan UNESCO yang mengungkapkan bahwa batik adalah sesuatu yang berharga, intangible dan oral menjadikan martabat batik ini mulai naik di level dunia dan dihargai nilainya.
Sebagaimana diungkapkan oleh Bpk. Yustinus Tri Subagya, M.A. dalam sambutan bahwa kita tidak pernah membayangkan sejarah batik yang begitu panjang dan dicatat dalam sejarah hingga sekarang batik bisa kita gunakan sebagai pakaian. Setiap motif batik punya cerita sesuai konteks sejarahnya. Bahkan batik dapat dianalogikan sebagai candi Borobudur yang besar dan mewah dan dirayakan terus menerus dalam nilai-nilai sejarah, namun kita tidak tahu “berapa korban yang mempengaruhi proses penciptaan ini”. Dari sinilah terjadi dilema batik sebagai identitas diri yang membudaya atau kuantitas yang mengejar keuntungan pasar guna mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Seminar yang dimulai pukul 09.00 – 12.00 WIB ini mengundang dua narasumber yang membahas hasil penelitian tersebut yaitu Karina Rima Melati M.Hum (alumni IRB USD) dan Agus Ismoyo (seniman batik).
Sebagai pembicara pertama, Karina Rima Melati, M.Hum memaparkan hasil penelitiannya tentang batik buketan Pekalongan terkait dengan masalah ekonomi politik dan identitas. Batik menjadi simbol dari sebuah keluhuran, kompleksitas sikap adati, kreativitas, artistik serta inovasi. Spektrum pengertian batik tidak hanya terbatas pada tekniknya namun dihubungkan dengan pengalaman estetis penciptanya dalam mengungkapkan kedalaman intuisi dan rasa untuk mewujudkan kreasi batik yang artistik. Dengan canting, pencipta batik tidak hanya menghasilkan batik tetapi juga menyelami bentuk-bentuk pengalaman dan perjumpaannya dengan imajinasi tentang diri dan lingkungannya yang dapat diwujudkan dengan simbol-simbol atau bentuk naturalis yang mewujud pada motif atau desain batik. “Supaya kita sampai pada pemahaman batik kita perlu mengetahui cara membatik, bukan sebagai trend tetapi tahu teknik dalam penggunaan lilin warna dengan canting. Disinilah motif tercipta sesuai selera pencipta yang memberikan perpaduan warna yang harmonis.” demikian ungkapnya.
Secara khusus akibat pengaruh kaum pendatang di daerah pesisir kemudian turut melegitimasi motif yang menjadi ciri khas batik pekalongan. Kaum pendatang seperti peranakan Eropa, Tionghoa dan kependudukan Jepang saat penjajahan sebagai kaum pemodal menjadikan orientasi pembuatan batik sebagai industri yang memenuhi setiap permintaan pasar yang ada. Penggunaan cap motif buketan atau printing yang mengarah pada percepatan hasil pembuatan kain batik berimbas pada pudarnya nilai ritual (pembuatan) batik, penurunan gaya artistic, khususnya karena pembatasan-pembatasan variasi dan ornamentasi motif yang ada sebelumnya. “Yang dulu konsumen batik hanya menjangkau kalangan atas karena batik tulis-canting motif buketan mahal, sekarang bisa dinikmati oleh konsumen baru dari kalangan menengah bawah dengan harga yang terjangkau.” demikian ungkapnya kemudian. Perkembangan pasar yang semakin besar memberikan banyak pemikiran baru dalam penciptaannya, sehingga muncul alternatif teknik yang sebetulnya bukan atau tidak dapat dikatakan batik karena tidak mengaplikasikan lilin pada pembuatannya.
Lalu bagaimana mempertahankan citarasa batik yang membudaya dalam kehidupan kita ? hal ini dibahas oleh Bpk. Agus Ismoyo dimana beliau memberikan gambaran tentang batik sebagai komoditi bisnis dan juga pelaku kesenimanan dalam dunia batik. Diungkapkan olehnya bahwa batik adalah bentuk seni yang menampilkan bentuk ekspresif dalam proses kreatif melihat kenyataan hidup. Maka batik berkaitan dengan nilai-nilai kehidupan yang mengakar dalam konteks kebudayaan. Walau begitu proses berbudaya ini tidak bisa dikomersialkan dalam proses bisnis. “Batik sebagai barang seni tidak bisa mengikuti trend untuk warna ataupun motif, tetapi justru dalam proses kreatif mbatik menggunakan naluri sebagai seniman.”, demikian ungkapnya. Dalam membatik, kita melibatkan tiga dunia jagad, yaitu jagad hidup dimana kita hidup, jagad alam yang memberi kita hidup dan jagat cahaya yang memberikan kreativitas yang membuat kita hidup. Maka proses kreatif di dalam membatik tidak melepaskan diri kita dengan komunikasi dengan alam.
Diungkapkan beliau bahwa bersama alam menjadikan dirinya semakin mengasah rasa dimana rasa dalam bahasa jawa merupakan kedalaman diri sebagai sumber kreativitas. Disinilah ditekankan bahwa batik menjadi media komunikasi dengan harapan batik mampu menjembatani perjumpaan bangsa-bangsa lain. “Penggunaan batik tidak hanya disahkan atau bermuara dalam proses atau upacara ritual saja tetapi justru batik mendapatkan kepenuhannya dalam pembuat batik itu sendiri. Batik sudah masuk dalam perubahan jaman tidak hanya berakar pada budaya lokal saja, tetapi batik adalah warisan budaya internasional. Batik yang mengakar dalam diri bukanlah batik yang mengikuti trend dengan kuantitas yang berlimpah tetapi batik menjadi identitas dalam perjumpaan.” demikian lanjutnya. (FXAP)




