Indonesia kaya akan sumber bahan obat alam dan obat traadisional yang telah digunakan sebagian besar masyarakat Indonesia secara turun temurun. Keuntungan obat tradisional dapat dirasakan secara langsung bila dapat ditanam di pekarangan sendiri dan dapat diramu di rumah. Keberadaan obat tradisional terancam dengan adanya obat modern atau obat instan karena dapat langsung dikonsumsi tanpa perlu diramu lagi. Namun, obat-obat modern memiliki efek samping bila dikonsumsi sehingga beberapa alternatif pengobatan kembali beralih pada obat tradisional.
Populasi manusia yang semakin padat serta pembangunan rumah yang semakin cepat menyebabkan lahan untuk menanam semakin sempit bahkan tidak ada ruang sama sekali. Masalah ini dapat diatasi dengan vertikultur. Vertikultur merupakan teknik budidaya tanaman secara vertical sehingga penanaman dilakukan secara bertingkat. Hal inilah yang membuat beberapa mahasiswa Universitas Sanata Dharma (USD) memiliki ide untuk membuat PKM-M yang berjudul “SOSPEN TOBAT Teknik Vertikultur”
Tim PKM-M SOSPEN TOBAT terdiri dari lima mahasiswa yaitu: Periskila Dina Kali Kulla (Pendidikan Biologi 2012) sebagai Ketua, Hisreidi Funome, Rointan Moris Sidabalok, Maranty Boy Rante Allo (Pendidikan Biologi 2012), dan Mario Yedi Mau (Farmasi 2012), dengan dosen pembimbing A. Tri Priantoro, M.For.Sc. Sasaran dari kegiatan ini adalah ibu-ibu di Dusun Denokan, Maguwoharjo yang berjumlah kurang lebih 40 orang.
Kegiatan pertama berupa pelatihan tentang teknik vertikultur dan macam-macam tanaman obat di Posyandu Rambutan, Dusun Denokan, Maguwoharjo. Ternyata, banyak diantara ibu-ibu yang belum mengetahui tentang budidaya tanaman dengan teknik vertikultur sehingga banyak pertanyaan dari ibu-ibu. Acara selanjutnya adalah membersihkan kebun samping Posyandu. Kebun tersebut ditumbuhi oleh bermacam-macam tanaman namun tidak terawat sehingga perlu dibersihkan terlebih dahulu.
Kegiatan kedua berupa penanaman tanaman obat di kebun yang telah dipasangi dengan rangka besi. Penanaman ini menggunakan botol bekas sebagai media tanam. Setelah diisi tanah dan bibit tanaman, kemudian botol tersebut diikatkan pada rangka besi secara vertikal. Setelah acara penanaman, masing-masing tanaman diberi label, serta disediakan katalog yang memudahkan ibu-ibu memanfaatkan obat-obatan yang ada di dalam rumah yang telah dibuat. Kemudian dilakukan monitoring dan pembagian tugas kepada ibu-ibu untuk merawat tanaman obat tersebut. Dari kegiatan tersebut, diharapkan ibu-ibu dapat memanfaatkan tanaman sebagai alternatif utama sebagai obat dan mereka juga dapat bertanam tanaman obat di rumah masing-masing dengan teknik vertikultur. (Ranthy)




