USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Doktor Baru Fakultas Psikologi: Cahya Widiyanto, M.Si., Ph.D

diupdate: 12 tahun yang lalu

Sebagai seorang tenaga edukatif yang bekerja disebuah perguruan tinggi, mendapatkan tugas studi dari lembaga dan menyelesaikan studi merupakan hal yang biasa, semua itu harus dijalaninya. Saya teringat ketika saya masih muda, dan mendapat tugas belajar studi S2, dan setelah selesai melapor ke atasan saya, namun laporan saya tidak direspon dengan ucapan selamat, tetapi justru mendapat respon sebuah pertanyaan di luar dugaan. Pertanyaan itu dilontarkan dalam bahasa Jawa “Yen sampun lulus sekolah S2 terus nopo, lan bade menopo?” sebagai orang Jawa, pertanyaan tersebut sungguh menukik!

Kebetulan sewaktu Bapak Cahya Widiyanto mempertahankan disertasinya, saya selaku Dekan Fakultas Psikologi juga harus bertemu dengan Prof. Sugiman di Jepang. Prof. Sugiman adalah pembimbing Bapak Cahya Widiyanto. Oleh karena itu saya bisa menyaksikan secara langsung bagaimana proses ujian doktor di Kyoto University Jepang. Ujian doktor di Kyoto University jauh dari formalisme pendidikan sebagaimana ditulis oleh Rektor Universitas Sanata Dharma di harian Kompas.

Sedikit gambaran bagaimana proses ujian doktor di Kyoto University. Mahasiswa diantar oleh tiga rekannya mencari ruang yang sudah ditentukan. Di ruang kelas sebagaimana ruang kelas di USD, tersebut tiga temannya dan si mahasiswa mulai menata layar LCD, mimbar ujian, dan kursi-kursi yang ada di kelas. Ketika layar LCD kurang pas, seorang penguji yang datang duluan ikut membetulkan sehingga layar LCD siap untuk digunakan. Saat waktu mendekati jadwal ujian, penguji lainnya, yaitu para profesor datang masuk kelas, dengan menenteng rangsel dan membawa minumannya sendiri-sendiri. Para profesor ini datang tanpa bertoga, dan di ruang ujian juga tidak ada minuman maupun snack. Proses ujian pun tanpa basa-basi, mahasiswa langsung diminta presentasi, selesai presentasi tanya jawab langsung dimulai.

Seluruh proses ujian doktor ini tidak ada pelibatan kepanitiaan. Coba bandingkan dengan ujian doktor di beberapa PTN/PTS di Indonesia. Setelah selesai ujian, promotor mendekati si mahasiswa dan mengajaknya untuk makan malam bersama di malam harinya. Di Indonesia, ketika ujian doktor maka mahasiswa sangat disibukkan oleh aneka asesoris yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan keilmuan, kesibukan itu antara lain, berias, mencari toga, mencari chatering atau rumah makan untuk pesta, dll. Pihak kampus pasti membentuk kepanitiaan yang melibatkan banyak orang, tentu semua itu berujung pada pengeluaran uang dan energi yang tidak sedikit.

Pengalaman melihat langsung ujian doktor Bapak Cahya Widiyanto di Kyoto University mungkin bisa menjadi refleksi bagi kita semua, bagaimana upaya kita di USD untuk semakin mampu meninggalkan formalisme dalam pendidikan yang dipenuhi oleh berbagai macam asesorisnya dan beralih pada subtansi dari sebuah kegiatan tersebut. Bila kita menukik pada substansi maka kita akan semakin mampu menyederhanakan ritual-ritual keilmuan yang sebenarnya tidak diperlukan dalam pengembangan ilmu, dan peningkatan kualitas keilmuan para ilmuan.

Namun, diakhir tulisan ini mungkin pertanyaan yang dilontarkan atasan saya sewaktu masih muda mungkin masih relevan, tidak hanya untuk Bapak Cahya, tetapi untuk kita semua :”Yen sampun lulus sekolah doktor terus nopo, lan bade menopo?”. Profisiat untuk Bapak YB. Cahya Widiyanto, M.Si., Ph.D.

-pw-

  kembali