USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

INTEGRITY DAYS
Spiritualitas Pembela Kehidupan - Dilema antara "Ya" dan "Tidak"

diupdate: 12 tahun yang lalu


Campus Ministry (CM) Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Jumat, 8 Mei 2015 menggelar acara berjudul “Integrity Days” di Hall Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Kampus 1 USD Mrican. Kegiatan yang setiap tahun diadakan ini mengundang dua pembicara yaitu Ayu Utami (seorang penulis, novelis, jurnalis dan spiritualis) dan Rm. Patrisius Mutiara Andalas, S.J., S.S., S.T.D. (Dosen dan Wakil Rektor III USD). Dalam Integrity Days ini, para pembicara diminta oleh panitia untuk berbagi pergulatan dan intelektual tentang “Spiritualitas Pembela Kehidupan” dari sisi seorang spiritualis awam dan dari sisi seorang spiritualis rohaniwan. Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 – 21.00 WIB ini tidak hanya dihadiri oleh civitas academica dan dosen USD saja, tetapi dari berbagai LSM kemanusiaan, dan berbagai civitas academica dari luar USD.
Tentu timbul dalam benak kita tentang arti Spiritualitas Pembela Kehidupan. Kiranya yang perlu kita garis bawahi di sini adalah di dalam dunia, kehidupan selalu berhubungan dengan kematian. Kematian tidak pernah lepas dalam perjalanan hidup manusia seperti hukuman mati, euthanasia, pembunuhan, ataupun aborsi. Kematian menjadi bagian hidup manusia yang menuntut pilihan sikap yang tepat. Lalu pertanyaannya, bagaimana kita memaknai kematian di dalam kehidupan? Memaknai kematian tidak pernah lepas dari penilaian moral dan penilaian etis. Penilaian moral lebih pada pembahasan persoalan-persoalan normatif tentang keadilan dan penilaian etis lebih pada pembahasan persoalan-persoalan evaluatif tentang hidup yang baik.
Hebohnya pemberitaan akhir-akhir ini di mana banyak kasus kriminalitas berakhir dengan penjatuhan hukuman mati atau pembunuhan di kamar kost mahasiswa atau aborsi yang disebabkan hubungan di luar nikah menjadi gambaran situasi ironi tentang pemaknaan arti hidup. Bahkan diungkapkan oleh Ayu Utami bahwa pernah ada pemberitaan di media massa yang mengatasnamakan dirinya mengkritik Anggun C. Sasmi yang menentang hukuman mati, padahal itu bukan Ayu Utami. Dia mengungkapkan bahwa secara moral, poligami, aborsi, hukuman mati, dan euthanasia adalah salah. Tetapi kita mudah jatuh dalam penilaian yang sepihak atau subjektif atau satu lapis sebagai bahasa dari Ayu Utami. Terkadang ada penilaian yang mendukung ataupun ada penilaian yang menolak. Dan persoalan ini menyentuh kehidupan manusia. Ayu Utami membebaskan pembicaraannya dalam hubungan dengan agama. “Penilaian moral yang satu lapis semakin menipiskan pengalaman dari banyak lapisan, padahal peristiwa ini dipengaruhi oleh banyak lapisan yang melingkupi. Penilaian hanya didasarkan pada kata Ya dan Tidak yang dalam artinya terjadi penyempitan kedalaman persoalan.” demikian ungkapnya. Kadang kita terjebak dalam pola pikir boleh atau tidak yang menyederhanakan secara kompleksitas.
Hal ini dicontohkan oleh Ayu Utami dalam persoalan aborsi. Persoalan aborsi menuai dua ketegangan antara kelompok yang pro-life (mendukung kehidupan dan menentang aborsi) dan pro-choice (mendukung perempuan dan setuju aborsi). Bagi kalangan feminis, sebagai bentuk emansipasi perempuan atas sikap partrialkis, para perempuan perlu dilindungi dan dibebaskan dari kekangan yang membelenggu dirinya lewat bentuk penderitaan kehamilan yang diterimanya. Maka aborsi membebaskan perempuan dari kekangan dan penderitaan batin dan sosial yang membelenggu dirinya secara langsung. Bagi kalangan agamis, aborsi menentang adanya kehidupan yang telah tercipta. Kehidupan kiranya perlu dilindungi, maka segala tindak peniadaan kehidupan itu harus ditentang. Maka aborsi ditentang oleh kalangan agamis.
“Mengapa kita harus bersyukur atas hidup atau untuk hidup? Kita tidak tahu jawaban yang pasti, maka di dalam ketidakpastian jawaban itu tidak sepantasnyalah kita mengambil kehidupan yang sudah dianugerahkan Tuhan kepada kita. Menjadi beriman berarti menjadi manusia yang religious, berarti menjadi semakin manusiawi dan mampu mengakar pada kehidupan. Kita tidak akan sampai pada kesimpulan tetapi sampai dalam tindakan.” demikian tutur Ayu Utami.
Menanggapi dilema moral dalam penilaian hidup, Rm. Mutiara Andalas, SJ mengungkapkan bahwa kematian sebagai tragedi adalah pengalaman yang dekat dengan kita atau bahasa yang lebih harafiah adalah tragedi adalah bagian yang ada dalam hati kita. Bahkan Henri Nouwen mengatakan bahwa tragedi adalah hati dalam kehidupan dan Tuhan adalah hati bagi manusia. Kita sebagai orang beriman kiranya harus menyadari dan merefleksikan hidup berdasarkan pengalaman konkret. “Kita terkadang mudah jatuh pada hal-hal yang urgen tetapi tidak mau masuk pada hal-hal yang esensial. Dari situ kita mudah jatuh pada satu lapis cara memandang peristiwa yang terjadi dari banyak lapisan yang melingkupinya.” demikian ungkapnya. Kita mudah disibukkan dengan keputusan penjatuhan hukuman mati dan tidak berfokus pada frame menangkap jaringan narkoba.
Di dalam penghayatan pembelaan kehidupan, kita perlu mendekati antara spirituality dan humanity. Kalau kita masuk di dalam spiritualitas, kita akan menjadi semakin manusiawi. Spiritualitas yang benar adalah menggerakkan diri pada hal-hal tragedi. Kita menjadi takut terlibat dalam tragedi karena di dalam keterlibatan itu menuntut komitmen yang sungguh-sungguh untuk terlibat. Lalu beliau menghubungkan artinya menjadi pembela kehidupan di tengah-tengah manusia dalam benturan generasi selfie sebagai situasi jaman saat ini. “Generasi selfie itu mengedepankan diri untuk menunjukkan identitas dalam rupa, materi dan sosialitas, tetapi penonjolan diri itu justru menyingkirkan tragedi dalam kehidupan bahkan tidak memperhatikan kehidupan di sekitarnya.” demikian ungkapnya. (FXAP)

  kembali