USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pergulatan Multikulturalisme di Yogyakarta dalam Perspektif Bahasa, Sastra, dan Sejarah

diupdate: 12 tahun yang lalu


Tepat pada 26 April 2015, Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma (USD) genap berusia 22 tahun. Dalam jangka waktu 22 tahun tersebut tentunya sudah banyak kontribusi yang dihadirkan oleh Fakultas Sastra USD. Sebuah seminar nasional dalam rangka peringatan dies natalis ke-22 diselenggarakan Fakultas Sastra USD. Seminar tersebut dihelat di Ruang Koendjono, Lt.4, Gedung Pusat Kampus 2 USD Mrican.
Seminar nasional yang diselenggarakan tersebut mengambil tema ‘Pergulatan Multikulturalisme di Yogyakarta dalam Perspektif Bahasa, Sastra, dan Sejarah’. Isu multikultural ini tentunya sudah sangat dekat dengan kondisi masyarakat Indonesia dalam kesehariannya. Terlebih ada predikat yang melekat pada Indonesia bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk. Kemajemukan itu ditunjukkan dengan tingkat keanekaragaman masyarakatnya yang sangat kompleks.
Tema yang diangkat tersebut mendapat apresiasi positif dari Rektor USD, Drs. Johanes Eka Priyatma, M.Sc., Ph.D. “Isu tentang multikulturalisme yang diangkat berkaitan erat dengan nilai dasar yang diikuti USD, yang salah satunya adalah menghargai keberagaman”, ujar beliau dalam sambutannya. “Kita selalu mengatakan bahwa Indonesia itu kaya raya, dan salah satu kekayaannya adalah keberagaman budaya. Seperti kita ketahui bersama, demografi mahasiswa, dosen, dan pegawai yang ada di USD sangat beragam, sehingga USD juga dikenal dengan miniaturnya Indonesia”, tambahnya.
Seminar nasional tersebut dikemas dalam dua sesi. Sesi seminar pertama menghadirkan dua pembicara. Kedua pembicara tersebut adalah (1) Dr. Hilmar Farid dan (2) Arie Sujito, M.Si. Sebagai sejarawan, Dr. Hilmar Farid selaku pembicara pertama dalam sesi pertama menyampaikan materi dengan judul ‘Multikulturalisme di Indonesia Menghadapi Warisan Kolonial’. Ia membedakan antara konsep multikultural dan multikulturalisme. Menurutnya, multikultural adalah realita kemajemukan masyarakat yang ada. Sementara itu, multikulturalisme diartikan sebagai cara pandang mengenai bagaimana kita sebaiknya menangani perbedaan dalam masyarakat majemuk seperti Indonesia. Ada pandangan bahwa multikulturalisme tidak terlepas dari sejarah. Dr. Hilmar Farid juga menghadirkan pemikiran-pemikiran Soekarno sebagai referensi menyikapi multikulturalisme.
Pembicara kedua pada sesi pertama adalah Arie Sujito, M.Si. Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada tersebut menyampaikan materi dengan tema ‘Keadilan dan Tradisi Sosial, Refleksi Ringan Kemajemukan Yogyakarta. Arie Sujito, M.Si., menyampaikan bahwa agendake depan,kita perlu memastikan bahwa antara pendekatan struktural dan kultural, dalam memahami dan membangun pluralisme maupun multikultural perlu dipadukan. Agenda penting yang perlu diwujudkan adalah perpaduan antara terciptanya keadilan sosial dan memperkuat tradisi “karakter keindonesiaan”.
Dalam seminar sesi kedua, tiga pembicara dihadirkan. Ketiga pembicara tersebut adalah (1) Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., (2) Dr. Lucia Juningsih, M.Hum., dan (3) Dr. Gabriel Fajar Sasmita Aji, M.Hum. Prof. Dr. I. Praptomo Baryadi, M.Hum., sebagai pembicara pertama dalam seminar sesi kedua menyampaikan materi dengan judul ‘Penggunaan Bahasa untuk Mengaransemen Hubungan Antarmanusia: Sebuah Pembicaraan tentang Pergulatan Multikulturalisme Masyarakat Yogyakarta dari Perspektif Bahasa’. Menurutnya bangunan dasar masyarakat yang multikultural adalah interaksi antaranggota masyarakat yang beragam dalam hidup bertetangga dan bermasyarakat. Penggunaan bahasa juga digunakan untuk mengaransemen interaksi antaranggota masyarakat.beliau mengibaratkan bahasa dapat mengaransemen “nada-nada” yang berbeda di antara anggota masyarakat, sehingga menjadi alunan lagu kehidupan bersama yang merdu dan indah. Satu hal yang juga penting dalam materinya adalah tentang masyarakat dwibahasawan yang seimbang. “Dengan menjadi dwibahsawan yang seimbang, setiap warga Yogyakarta dapat mengaransemen hubungan antarwarga yang beragam, antara lain melakukan alih kode dan alih tutur. Ketika berkomunikasi dengan sesama warga satu suku, warga menggunakan bahasa suku dan pada saat berkomunikasi dengan warga yang berbeda suku, warga menggunakan bahasa Indonesia”, jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Dr. Lucia Juningsih, M.Hum., juga berbagi ilmu dengan makalah berjudul ‘Multikulturalisme di Yogyakarta dalam Perspektif Sejarah’. Latar berlakang atas judul makalah yang dihadirkan adalah kembali tentang kemajemukan di Indonesia, khususnya di Yogyakarta. Dengan predikat kota pelajar, kota budaya, dan kota yang terbuka untuk semua perbedaan berdampak pada kekhawatiran munculnya gesekan-gesekan, konflik, SARA, kefanatikan pendukung sepakbola, dan berbagai kekhawatiran lainnya. Beliau menyampaikan bahwa gagasan multikulturalisme dapat mendorong lahirnya masyarakat yang demokratis, menghargai hak asasi manusia, menjunjung tinggi keadilan, dan patuh pada hukum. Sebaliknya, kurangnya pemahaman mengenai multikultural dapat menyebabkan hubungan antaretnis dalam masyarakat berlangsung kurang harmonis.
Pembicara terakhir adalah Dr. Gabriel Fajar Sasmita Aji, M.Hum., yang membawakan materi berjudul ‘New Eden dalam Perspektif Dunia Baru’. Menurutnya, Yogyakarta membutuhkan keberanian untuk tampil sebagai subjek perubahan dan bukan obyek perubahan. Identitas keistimewaan yang dimiliki Yogyakarta harus dijaga dengan penuh kesadaran. Yogyakarta harus menjadi New Eden bagi multikulturalisme yang memang memerlukan tempat untuk hidup.
Topik-topik yang dihadirkan para pembicara mendapatkan respon dari para peserta yang hadir. Para peserta seminar juga turut menyumbangkan berbagai pertanyaan dan tak jarang juga ide-idenya.
Dekan Fakultas Sastra USD, Dr. F.X. Siswadi, M.A., menyatakan bahwa USD sudah mempraktekkan semangat multikulturalisme. Meskipun USD berdiri di bawah yayasan yang digerakkan berdasarkan semangat Kristiani, USD sangat menghargai nilai-nilai keberagaman. Hal tersebut ditunjukkan melalui mata kuliah pendidikan agama yang mengajarkan pengetahuan tentang agama-agama yang diakui di Indonesia. 
Dr. F.X. Siswadi, M.A., juga menyatakan bahwa perayaan Dies Natalis ke-22 Fakultas Sastra USD juga merupakan momentum untuk bersyukur, karena masyarakat masih mempercayai peran Fakultas Sastra USD dalam membangun pendidikan. Hal tersebut terlihat dari jumlah pendaftar Fakultas Sastra USD yang tidak mengalami penurunan.
Guna mewujudkan visi Fakultas Sastra USD yaitu memperjuangkan terwujudnya masyarakat Indonesia yang semakin beradab, Fakultas Sastra USD juga mencanangkan mata kuliah Indonesian Culture Studies mulai pada kurikulum tahun 2015. Selain itu, Fakultas Sastra USD juga sedang mengupayakan adanya pendidikan S2 Magister Sastra. (DPTH)

  kembali