USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Pagelaran 7 Oktaf Kidung Mesra Nusantara:
Partisipasi USD dalam Lestarikan Budaya Indonesia

diupdate: 12 tahun yang lalu


Panggung Terbuka Universitas Sanata Dharma pada hari Jumat, 24 April 2015 tampak berbeda. Selain panggung besar yang berdiri megah, ada beberapa benda-benda besar terbungkus koran yang bukanlah barang asing bagi yang melihat. Benda-benda tersebut adalah replika permainan tradisional Indonesia: Gasing, Kincir Angin, Egrang, Layang-layang, Mobil-mobilan, Perahu Kertas dan Burung Kertas. Replika permainan tradisional Indonesia dan panggung megah tersebut adalah sebagian dari properti Pagelaran Musik 7 Oktaf yang diselenggarakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Sexen.
7 oktaf adalah sebuah pagelaran musik yang diselenggarakan 2 tahun sekali oleh UKM Sexen. Penyelenggaraan 7 oktaf ini memiliki latar belakang keinginan untuk ikut turut serta melestarikan musik tradisi yang diwariskan oleh para pendahulu dan merespon fenomena banyaknya musik tradisi baru yang bermunculan, tidak hanya dari dalam negeri, maupun juga dari luar negeri. Sehingga, melalui pelestarian musik tradisi yang ada di Indonesia, musik tradisi kita akan mempunyai nilai yang lebih dan dapat memotivasi orang-orang di sekitar kita untuk turut serta melestarikannya. Untuk menjawab keinginan itu, pagelaran 7oktaf tahun ini hadir kembali dengan mengangkat tema “Musik Tradisional Anak” dan mengangkat judul “Kidung Mesra Nusantara”.
Acara pagelaran musik ini dibuka oleh Romo Patrisius Mutiara Andalas, S.J., S.S., S.T.D. selaku Wakil Rektor III USD. Setelah menyampaikan beberapa kata sambutan, Romo Andalas meresmikan dimulainya pagelaran 7 Oktaf dengan memotong pita yang diikatkan pada sepasang Egrang. Kemudian Egrang tersebut diberikan kepada Project Leader 7 Oktaf, Alexander Angga Pramudya. Selain itu, sebelum pagelaran dimulai, penonton yang hadir diberi arahan tentang pemberian tepuk tangan. Selama acara berlangsung, penonton harus mengganti tepuk tangan dengan membunyikan mainan otok-otok yang telah dibagikan oleh panitia sebagai souvenir.
Selanjutnya, setelah acara pembukaan, pagelaran musik 7 Oktaf pun dimulai. Dalam pagelaran musik ini, terdapat 13 lagu tradisional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang dikemas dalam pertunjukkan musik orkestra dan drama musikal. Seperti misalnya pada saat penampilan lagu Cublak-cublak Suweng, sebuah lagu dolanan dari Jawa Tengah. Penonton disuguhi sebuah pemandangan khas anak-anak zaman dulu ketika bermain dan bernyanyi Cublak-cublak Suweng: seorang anak yang dikelilingi oleh teman-temannya harus menutup mata selama teman-temannya menyanyikan lagu Cublak-cublak Suweng. Setelah nyanyian selesai, anak tersebut harus menebak dengan benar siapa orang yang menyembunyikan Suweng. Selain lagu dolanan ini, terdapat pula lagu-lagu dari luar pulau Jawa seperti Kampuang Nan Jauh Di Mato dari Padang, Sumatra Barat, Marendeng Parampa dari Toraja, Sulawesi Selatan, Meong-meong dari Bali, dan masih banyak lagi.
Di akhir pagelaran musik, setelah ke-13 lagu daerah ditampilkan, seluruh pemain pun kembali naik ke atas panggung untuk bernyanyi bersama lagu Zamrud Khatulistiwa dengan membawa bendera merah putih. Di akhir pagelaran ini pula, para penonton diminta untuk menerbangkan Kitiran yang juga merupakan souvenir 7 Oktaf. Yoga, selaku koordinator acara mengatakan, Kitiran  yang secara bersama-sama diterbangkan ini membawa harapan permainan tradisional Indonesia bisa tetap terbang tinggi dan bisa selalu dikenang.
Dalam penyelenggarakan pagelaran ini, ternyata UKM Sexen tidak bekerja sendiri. Seluruh penampilan, baik musik maupun drama, adalah sebuah hasil kolaborasi dari beberapa UKM, yaitu PSM Cantus Firmus, Teater Seribu Djendela, Grisadha, dan UKM Sexen sendiri. Secara keseluruhan, pagelaran musik 7 Oktaf tahun ini melibatkan 120 orang pengisi acara. Setelah tahun 2015 ini, pagelaran 7 Oktaf akan kembali hadir pada tahun 2017. (mdr)

  kembali