“Ketika globalisasi telah mengubah ikatan dan ruang sosial kita menjadi persaingan berbagai aliran keagamaan, bagaimana kita akan merangkai identitas komunal hari ini?” Pertanyaan tersebut mengajak kita untuk merefleksikan apa yang akhir-akhir ini kita terjadi, yaitu berupa munculnya berbagai aliran keagamaan yang berkembang di Indonesia, dan persoalan di mana kita harus memposisikan diri.
Berkaitan dengan hal itu, Jumat, 24 April 2015, Program Studi Pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya (IRB) Universitas Sanata Dharma (USD) menyelenggarakan seminar bertajuk ‘Ascoltaci: Dinamika Umat Islam Pedesaan dalam Kontestasi Ideologi-ideologi Islam Hari Ini’. Seminar tersebut berlangsung di Ruang Drijarkara, Lt. 4, Gedung Pusat, Universitas Sanata Dharma. Seminar yang diselenggarakan ini merupakan seminar Ascoltaci yang ke-6. Berbagai seminar yang telah dilaksanakan sebelumnya antara lain Backpacker dalam Imajinasi Etnografi, Bila Merauke Dijadikan Lumbung Pangan, dan Superhero di Tengah Pasar.
Dalam seminar tersebut, ada dua pembicara yang dihadirkan. Pembicara pertama adalah Saefudin Amsa, M.Hum., yang juga merupakan alumni Magister Ilmu Religi dan Budaya USD. Ia menulis tesis berjudul “Rekonstruksi Identitas Diri dan Masyarakat: Studi Kasus Anggota Majelis Tafsir Al-Qur’an (MTA) di Blora Jawa Tengah”.
Penelitian tersebut memberi gambaran tentang meningkatnya paham keagamaan puritan di Dusun Bengkarep, Kunduran, Blora, Jawa Tengah. Sebagian warga di dusun tersebut bergabung dalam Majelis Tafsir Al’Quran (MTA), sebuah organisasi dakwah yang berpusat di Surakarta. Yang menarik, masyarakat Blora selama ini dikenal dengan karakter abangan sinkretis, yang ditandai dengan masih banyaknya praktek-praktek tradisi seperti sedekah bumi, selametan desa, atau upacara-upacara siklus kehidupan (kelahiran, kematian, pernikahan). Sementara itu, MTA merupakan organisasi yang bertujuan untuk mengajak masyarakat untuk menuju pada kemurnian agama Islam dengan mempelajari Al-Quran dan menggunakannya sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Apa yang terjadi di Dusun Bangkerep merupakan gambaran dari suatu tatanan masyarakat yang mengalami perubahan sosial menuju kondisi-kondisi, yang mengarah pada memudarnya kepercayaan terhadap tradisi lama dan upaya sebagian anggota masyarakat, untuk beralih ke identitas baru sebagai Muslim yang taat dan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari secara ketat. Kondisi-kondisi modernitas dan persebarannya secara massif (globalisasi) berpengaruh terhadap kondisi masyarakat serta identitas diri individu di dalamnya. Perubahan sosial yang terjadi mengubah ikatan-ikatan kolektif tradisional di Bangkerep sekaligus pada saat yang sama memberi kepastian dan stabilitas, sehingga keputusan untuk bergabung dengan MTA menjadi upaya pencarian identitas diri yang baru di tengah persoalan hidup sehari-hari.
Pembicara kedua adalah Prof. Dr. Nasarudin Umar, seorang tokoh cendekiawan muslim. Beliau juga merupakan mantan Wakil Menteri Agama. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Nasarudin Umar menyajikan pembahasan mengenai aliran ideologi Islam di Indonesia. Beliau sekaligus juga mengkaitkannya dengan pengalaman selama berada di sruktur pemerintahan.
Pertukaran gagasan tidak hanya berhenti pada presentasi yang disampaikan oleh kedua narasumber. Dalam sesi tanya jawab, banyak peserta seminar yang antusias berbagi pikiran dan pendapatnya. Acara seminar diakhiri dengan pemberian kenang-kenangan Prodi IRB kepada kedua pembicara.
Ascoltaci yang diselenggarakan tersebut merupakan seminar bulanan hasil penelitian yang diselenggarakan di Pascasarjana USD. Ascoltaci (yang berarti “dengarkanlah kami”) mengajak para peserta seminar untuk mendukung para peneliti muda dengan mendengarkan mereka dan temuan-temuannya. Ascoltaci juga dimaksudkan untuk mengenali berbagai persoalan sosial dan budaya masyarakat kita dan mengembangkan gagasan-gagasan terobosan untuk kebaikan kita bersama berdasarkan hasil penelitian. Ascoltaci melengkapi kegiatan Ascoltate, sebuah resital musik bulanan yang diselenggarakan di Pascasarjana ISI Yogyakarta. (DPTH)




