USD Akreditasi A English Version Alumni Email USD

Dr. Frans Susilo dan Dr. A. Sudiarja Dikukuhkan Sebagai Guru Besar

diupdate: 18 tahun yang lalu

Prof. Drs. Frans Susilo, S.J., Ph.D. dan Prof. Dr. A. Sudiarja, S.J. dikukuhkan sebagai Guru Besar masing-masing pada Fakultas Sains Teknologi dan Teologi Universitas Sanata Dharma di hadapan Senat USD, civitas akademika, dan tamu undangan Sabtu (18/10) di Kampus 3 USD Paingan. Pengukukan ini dipimpin langsung oleh Rektor USD Dr. P. Wiryono Priyotamtama, S.J. Dalam kesempatan ini pula kedua guru besar menyampaikan orasi ilmiahnya. Dr. Frans Susilo menyampaikan pidatonya dengan judul ”Sumbangan Matematika dalam Memadukan Keunggulan Akademik dan Nilai-nilai Humanistik”, sedang Dr. A. Sudiarja memberikan judul ”Mengapa Koruptor Bergeming dan Keyakinan Menjadi Keras: Telaah tentang Jatidiri Manusia di Era Global”. Menurut Dr. Frans Susilo bagi awam agak sulit memang untuk menghubungkan antara matematika dengan nilai-nilai humanistik. ”Apakah matematika juga mengandung nilai-nilai humanistik?”, tanya beliau. Menilik sejarah perkembangannya matematika merupakan ilmu yang senantiasa terkait dengan persoalan sehari-hari manusia, misalnya perhitungan dalam bidang pertanahan, pertaninan, perdagangan, astronomi dan lain sebagainya. ”Dari sisi humanistik matematika memiliki keindahan bak seni. Keindahan itu terletak pada terbuktinya teorema yang sudah terbukti kebenarannya, terungkapnya hubungan antara konsep-konsep yang tampaknya tak berkaitan, serta terungkapnya struktur, tampilan grafis yang menankjubkan dari himpunan titik-titik”, tegasnya. Menurut Romo Jesuit alumni The Catholic University of America Washington DC ini, Matematika bisa dipandang juga sebagai bahasa manusia karena matematika merupakan sekumpulan lambang, kata, dan makna untuk dapat dikomunikasikan. ”Meletakkan matematika sebagai sekedar sekumpulan rumus dan seperangkat alat kalkulasi dan penalaran saja akan mereduksinya dari konteks kehidupan dan menjadikannya tidak menarik”, ungkapnya. Untuk itu diperlukan aspek pembelajaran matematika secara manusiawi dan yang manusiawi. ”Belajar matematika sebenarnya berlatih untuk bekerja dalam kelompok, bersikap kritis, kreatif, berpikir logis dan sistematis, menghargai orang lain, bertindak jujur, dan bertanggung jawab”, tegasnya. Sementara itu Dr. A. Sudiarja menyatakan bahwa bergeraknya zaman yang begitu cepat menimbulkan kesulitan bagi sebuah jatidiri untuk meresponnya. Di era modern negara mengatur masyarakat dengan tata tertib, yang membuat individu terbiasa dengan pola hidup yang tersistem. Di era posmodern kedudukan jatidiri semakin problematik ketika negara tak mampu memberikan jaminan sosial dan keadaan zaman tidak mendukung otonomi individu. ”Dengan demikian jatidiri dapat begitu saja hilang karena ditelan arus zaman”, tegas dosen Teologi lulusan Universitas Gregoriana Roma Italia ini. (Atk)

  kembali