Pusat Demokrasi Masyarakat (Pusdema) Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Jumat, 17 April 2015 menggelar diskusi publik dengan tema strategi counter-narasi film di awal Orde Baru di Ruang Seminar LPPM, Kampus II USD Mrican. Film yang diambil dalam pembahasan tema tersebut berjudul “Bumi Makin Panas” dengan pemeran utama aktris Suzanna dan aktor Dicky Suprapto dan sutradara Ali Shahab.
Diungkapkan oleh Rm. Dr. FX Baskara Tulus Wardaya, S.J., M.A. bahwa narasi dalam film ini ingin melawan pemerintahan Orde Baru. Film “Bumi Makin Panas” merupakan film yang hadir di awal Orde Baru, tahun 1973, di mana menceritakan Maria (Suzanna) yang semasa kecil penuh dengan kepahitan hidup karena telah membunuh ayahnya dan masuk penjara, setelah dewasa menjadi pelacur. Maria kemudian berkenalan dengan Ari (Dicky Suprapto) seorang pelukis yang kemudian mengesampingkan tunangannya, Yanti. Karena kemarahannya tanpa sengaja, Yanti telah menabrak Ari hingga menemui ajalnya.
Diskusi Publik yang dimulai pukul 13.30 sampai dengan 17.30 WIB ini mengundang dua pembicara, yaitu Mr. Dag Yngvesson dari University of Minnesota, USA dan Bapak Alit Ambara dari Institut Sejarah Sosial Indonesia, ISSI dan dimoderatori oleh Ibu Dr. Novita Dewi. Diskusi Publik ini tidak hanya dihadiri oleh civitas academica USD saja tetapi para budayawan Yogyakarta, civitas academica UNY, dan UGM. Lalu pertanyaan yang bisa kita berikan adalah apa yang dimaksud dengan counter-narasi? Dan apa hubungan film tersebut dengan pemerintahan Orde Baru? Dua pertanyaan tersebut menjadi pembahasan bagi dua pembicara dalam diskusi publik tersebut.
Diungkapkan oleh Mr. Dag Yngvesson bahwa sutradara film ini, Ali Shahab bermaksud untuk menarasikan film atas kenyataan konkret pemerintahan Orde Baru awal di mana identik dengan eksploitasi ekonomi dan politik dalam mempertahankan kekuasaan. Sebuah film yang kisahnya sukar diikuti hingga sempat menimbulkan polemik, Ali Shahab menjawab dengan alasan-alasan yang masuk akal. “Filmnya sendiri lebih menonjolkan erotika: paha, dada, darah perawan dsb. Maria, yang masa kecilnya pahit dan sempat membunuh ayahnya dan masuk penjara, setelah dewasa menjadi pelacur. Lukisan dunia pelacur ini realistis sekali. Dan film Shahab pertama ini sempat menyentil-nyentil soal moral para bapak yang munafik.” demikian ungkapnya.
Mr. Dag Yngvesson sangat tertarik untuk memisahkan wacana politik dan kisah percintaan. Film itu menunjukkan bahwa janji-janji percintaan di rumah bordir tempat Suzanna bekerja menggambarkan janji-janji dalam Orde Baru yang tidak ditaati dalam kebijakan Pemerintah. Peran perempuan di dalam film itu tampak ironi di mana Orde Baru yang menggelorakan perlindungan perempuan dari pengaruh politik dan ekonomi, ternyata menjadi simbol yang mengalami tekanan dan pemuas nafsu kekuasaan. Sedangkan laki-laki digambarkan sebagai penguasa uang dan kekuasaan yang mempengaruhi sistem. Dan rumah bordir, tempat Suzanna bekerja menjadi simbol berkumpulnya para penguasa dengan balutan musik dan kesenangan-kesenangan pelepas penat dari riuhnya roda kekuasaan politik dan ekonomi. Suzanna menjadi saksi dari itu semua. Secara khusus, Ali Shahab mengangkat kesenian lukis yang digeluti oleh Arie, aktor film tersebut, karena kesenian menjadi simbol kesucian rakyat, di sini kesenian juga digambarkan sebagai mata-mata.
Hal yang senada diungkapkan oleh Bapak Alit Ambara bahwa bangunan Orde Baru bukan rezim yang fix. Maksudnya, Orde Baru dibangun pada situasi krisis demi krisis, terutama ekonomi sebagai panglima. Ada perubahan dari Orde Lama yang membangun character building sedangkan Orde Baru menjadi Orde yang menggadaikan, perekonomian dibangun dengan pondasi yang keropos. Artinya, Orde Baru yang menyerukan pembangunan perekonomian yang kuat hanya dilakukan dengan usaha eksploitasi besar-besaran. Tentu kita masih ingat Indonesia yang menjual sumber daya alam kepada Freeport hingga 2053 untuk mengeksploitasi kekayaan Indonesia besar-besaran. Dan perjanjian dengan Freeport menjadi cikal bakal perundang-undangan investasi sumber daya alam di Indonesia. “Hal ini sungguh sesuai dengan gambaran yang dinarasikan dalam film tersebut, dimana Bapak Maria secara sewenang-wenang menggadaikan seluruh harta benda istrinya, ibu dari Maria yang menjadi warisan orang tuanya demi memperoleh uang. Pemerintah ambil peran dalam penciptaan ekonomi rente yang lebih mementingkan eksploitasi sumber daya alam yang besar-besaran.” demikian ungkapnya.
Film ini muncul karena Orde Baru yang super body dengan institusi begitu kuat, menciptakan konflik demi benteng untuk stabilitasi kekuasaannya, seperti referendum di Dili. Kenapa Orde Baru makin panas, karena bumi makin panas juga. Asal usul persoalan ini ada pada keluarga dan masalahnya ada pada moralitas yang harus dididik dengan baik saat masa keluarga. Film ini laku pada masa itu karana menyesuaikan selera pada waktu itu yang menjual kemolekan dan kevulgaran tubuh perempuan. Selain itu, film ini juga mengangkat masalah kelas yang ditentukan oleh perekonomian. Tokoh Maria yang sudah hancur dari sisi keluarganya tidak memiliki apapun untuk bertahan hidup, maka pilihan untuk menjadi pelacur (lonte) digambarkan sebagai pilihan untuk mengangkat derajat hidup karena memiliki banyak uang. Orde Baru adalah lanjutan kolonialisme yang kental akan permainan sistem. Sistem ini menjadikan ideologi, ada kekuasaan dalam sistemnya, ada korban yaitu pelacur. Maria adalah Orde Baru, sebagai realitas Orde Baru seharusnya tidak dimainkan, menjadi transaksi politik.
“Pusdema tertarik pada dua hal dalam membahas tema ini, pertama aspek sejarah dan kedua bagaimana Orde baru punya ideologi tertentu yang coba mau disosialisasikan sebagai ideologi dominan. Film “Bumi Makin Panas” adalah film awal Orde Baru di mana aspek sejarah dan isi film ini sangat popular di masyarakat. Lalu narasi dalam film ini menggambarkan bagaimana Orde Baru itu merusak banyak hal termasuk image tentang perempuan, misalnya perempuan sebagai warga kelas dua, perempuan yang diharapkan tidak terlibat politik. Pusdema secara improvisasi juga ingin meninjau masalah perempuan, ini bagian wacana perempuan yang pada Orde Baru menjadi tema sentral misalnya, perempuan yang menjadi pelacur. Konteksnya justru ada pada laki-laki yang menekankan moralitas tetapi justru melanggar moralitas. Pusdema berharap ini membuka discourse lebih luas. Ideologi dominan yang muncul pada Orde Baru menekan perempuan, petani, dan nelayan, tetapi sisi lain membuka modal asing melalui perekonomian rente.” ungkap Rm. Dr. Baskara Tri Wardaya, SJ sebagai Kepala Pusdema USD. (FXAP)




