Nama Sri Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) tentunya merupakan nama yang sangat dikenal oleh masyarakat Indonesia, khususnya bagi masyarakat Yogyakarta. Beliau adalah mantan wakil presiden Republik Indonesia, yang juga merupakan ayah dari Ngarso Dalem Keraton Yogyakarta pada saat ini. Kiprah dan perannya dalam mewujudkan kemerdekaan sangatlah besar. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia patut berbangga memiliki tokoh besar seperti seorang Sri Sultan HB IX.
Kebanggaan tersebut tampaknya semakin lengkap ketika seorang akademisi dari Australia juga menaruh apresiasi yang tinggi terhadapnya. Apresiasi itu ditunjukkan dalam bentuk buku yang ditulisnya mengenai kehidupan Sri Sultan HB IX.
Senin (13/4), Universitas Sanata Dharma (USD) mendapat kehormatan sebagai tuan rumah penyelenggara diskusi dan peluncuran buku yang berjudul A Prince in a Republic (Seorang Sultan di dalam Sebuah Republik) karya Dr. John Monfries. Acara tersebut berlangsung di Ruang Drijarkara, Lantai 4, Kampus II, USD, Mrican.
Acara yang dikemas dalam bentuk diskusi tersebut mengahadirkan dua pembicara, yaitu (1) Dr. John Monfries sebagai penulis langsung buku A Prince in a Republic dan (2) Dr. St. Sunardi, dosen USD yang bertindak sebagai penanggap.
Sebagai informasi yang layak diketahui, Dr. John Monfries adalah seorang akademisi dari Australian National University (ANU). Selain itu, beliau juga pernah menduduki jabatan sebagai seorang diplomat di Australia. Tesisnya ketika mengambil studi Ph.D tentang sejarah Indonesia menjadi cikal bakal ditulisnya buku tersebut. Dengan kata lain, buku yang ditulisnya itu diangkat dari penelitian akademisnya. Oleh karena itu, buku tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Dalam sesi penyampaian materi, Dr. John Monfries menyampaikan kisah hidup Sri Sultan Hamengku Buwono IX mulai dari lahirnya beliau, pendidikannya di Netherlands, hingga perannya sebagai tokoh yang berjuang dan berperan penting bagi kemerdekaan Indonesia. Dr. John Monfries juga menyampaikan hal mendasar terkait posisi Sri Sultan HB IX yang unik. “Meskipun memiliki kedudukan sebagai raja, Sri Sultan HB IX mampu menunjukkan diri sebagai seorang tokoh yang demokratis ketika terlibat dalam berbagai kegiatan pemerintah saat itu”, ungkap Dr. John Monfries. Keunikan itulah yang melandasi rumusan judul dari buku yang ditulisnya itu.
Dr. St. Sunardi juga menyampaikan bahwa penelitian dan penulisan sejarah HB IX sangat pelik dan sensitif. Sosok yang ditulis tersebut bukan sekedar sosok historis melainkan sosok yang sudah melegenda. Bahkan, posisinya mendekati posisi wingit dalam bayangan orang-orang Yogyakarta.
Kepelikan sejarah HB IX itu muncul karena peran yang harus dimainkan oleh HB IX memang sangat pelik dan sensitif. Di satu sisi, Sultan mempunyai tanggung jawab untuk mempertahankan dinasti keraton Yogyakarta. Di lain sisi, ada komitmen yang sangat kuat untuk kemerdekaan Indonesia dan menjadi bagian dari Indonesia.
“Seorang Sultan di dalam sebuah republik” secara sepintas terkesan kontradiktif jika dilihat dari teori bentuk negara. Keduanya menggabungkan antara monarki dan sebuah bentuk negara demokratis. Buku ini menunjukkan bahwa apa yang tampak paradoksial itu ternyata bukan sebuah paradoks, melainkan benar-benar berjalan historis. Bukan hanya sekedar berjalan, melainkan bisa berjalan sangat indah terutama lewat peran HB IX.
Sesi diskusi berlangsung dengan menarik. Dalam sesi diskusi tersebut, para peserta diskusi tidak mau ketinggalan dengan penulis maupun penanggap yang menyampaikan materinya. Para peserta diskusi juga turut berbagi pendapat kritis dan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai tokoh Sri Sultan HB IX.
Penandatanganan buku A Prince in a Republic oleh Dr. John Monfries menjadi penutup acara. Buku-buku yang telah ditandatangani tersebut selanjutnya diserahkan kepada pihak Universitas Sanata Dharma.
Menurut Dr. St. Sunardi, buku berjudul A Prince in a Republic (2015) karya Dr. John Monfries ini kaya dengan data dan nuansa. Cara penafsirannya yang ditunjukkan dalam buku tersebut diolah dengan tidak terburu-buru, bahkan kadang-kadang hanya berhenti pada suspensi. Hasilnya, buku ini membuat kita untuk berfikir ulang tentang Sultan Hamengku Buwono IX, kalau HB IX selama ini dihormati, baik oleh masyarakat Yogyakarta maupun Indonesia, kita perlu tahu apa sebenarnya yang dihormati. Dr. St. Sunardi juga menambahkan buku A Prince in a Republic juga dapat digunakan sebagai sumber referensi tentang asal-usul keistimewaan Yogyakarta, yang akhir-akhir ini banyak diperbincangkan.
Drs. T. Sarkim, M.Ed., Ph.D., yang mewakili Rektor USD, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih terhadap semua pihak yang turut mendukung terselenggaranya acara tersebut. “Suatu kebanggaan Universitas Sanata Dharma dapat terlibat dalam event yang sangat penting ini, karena ini juga merupakan bagian dari pendidikan. Hari ini kita kembali belajar dari seorang tokoh besar.” ungkapnya. (DPTH)




