Universitas Sanata Dharma (USD) pada hari Sabtu, 11 April 2015 menyelenggarakan pagelaran wayang berjudul “Pandawa Membangun Pura Kencana” di Panggung Terbuka, Kampus 2 USD Mrican. Acara ini merupakan kolaborasi wayang kulit dua dalang dan tari serta terselenggara berkat kerja Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Karawitan USD. Acara ini juga menjadi road to Dies Natalis USD ke-60 tahun.
Secara khusus diungkapkan oleh Rm. Dr. Greg. Budi Subanar, SJ selaku pendamping UKM karawitan bahwa pagelaran wayang ini terlaksana sebagai suka parisuka atau wujud syukur atas terlaksananya kegiatan wisuda yang diadakan pada pagi dan siang hari di ruang Auditorium USD. “Ini menjadi proses yang perlu disyukuri telah menghasilkan sebanyak 901 orang yang telah lulus dan 781 orang yang ikut wisuda.” demikian ungkapnya. Sebagai bagian di dalam USD, UKM Karawitan ingin ikut memeriahkan rangkaian kegiatan wisuda melalui kegiatan seni yang mengakar pada budaya di kota Yogyakarta ini yaitu budaya Jawa.
Dalam pagelaran wayang tersebut, Panggung Terbuka USD dibentuk menjadi dua latar layar lebar (kelir) yang dimainkan oleh dua dalang, yaitu Bapak Apri Damai Sagita Krissandi, S.S, M.Pd, dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) USD dan Mas Wahono mahasiswa Pasca Sarjana Ilmu Religi dan Budaya (IRB) USD. Diiringi musik gamelan dan nyanyian sindhen oleh para wiraniyaga, wiraswara dan warangga dari teman-teman UKM Karawitan, para dalang dengan sangat lincah memainkan alur cerita lakon pewayangan Pandhawa yang berusaha untuk membangun Pura Kencana disertai dengan slenthingan-slenthingan jenaka yang mengundang gelak tawa penonton namun syarat makna yang mendalam.
Diceritakan bahwa lima lakon pewayangan dari anak Prabu Pandu Dewata yaitu Pandhawa ingin membangun Pura Kencana. Para Pandhawa ini harus mengikuti berbagai persyaratan untuk membangun pura Kencana tersebut, di antaranya memboyong Dewi Sri, anak dari Umba Rembakala, mengambil kayu jati di tlatah Himalaya dan menduduki tanah wanamarta, sebuah hutan angker yang ditempati oleh lima makhluk halus bernama Yudistira, Danduncana, Suparta, Sapujagad, dan Sapulebu. Pekerjaan Pandawa dalam membuka hutan tersebut mengalami banyak rintangan. Akhirnya setelah melalui suatu percakapan, para makhluk halus merelakan Wanamarta kepada para Pandawa. Berkat kesaktian dan rupawannya, Pandhawa berhasil mendapatkan tiga syarat tersebut untuk membangun pura kencana. Pura kencana dilambangkan di dalam dunia pewayangan sebagai Kerajaan Amarta, singgasana para Pandhawa. Untuk menghormati jasa lima makhluk halus tersebut, Puntadewa memakai nama Yudistira.
Para Pandhawa mencari tempat kerajaan baru karena mereka telah dicurangi oleh tingkat laku paman Sengkuni dan para Kurawa yang merebut seluruh harta warisan ayahanda mereka yaitu Prabu Pandu Dewata sebagai hak milik mereka. Pada babagan akhir di dalam cerita tersebut, dua dalang memberikan pemaknaan bahwa para wisudawan-wisudawati yang sudah lulus itu ibarat orang yang siap untuk mbabat alas pergi ke berbagai daerah baik dalam negeri maupun luar negeri dan menjadi pribadi yang berkualitas. Kualitas di sini bukan hanya terkait dengan kompetensi keilmuan sebagai sarjana tetapi juga menyangkut orientasi kehidupan demi keberhasilan hidup sendiri atau terlibat di dalam kehidupan masyarakat.
“Selain memberikan hiburan kepada keluarga wisudawan-wisudawati, pagelaran wayang ini juga ditujukan untuk masyarakat sebagai hiburan. Secara khusus, berangkat dari pikiran Driyarkara, pagelaran wayang sebagai seni itu menghaluskan rasa (laras roso). Kita berharap teman-teman yang ikut dalam UKM Karawitan dan Grisadha bisa mengasah rasa mereka. Mengasah rasa menurut masyarakat Jawa berarti mengasah diri. Pilihan tema ‘Pandawa membangun Pura’ dari panitia pun cocok dengan situasi negara Indonesia yang sedang berproses membangun negara yang sejahtera. Sebenarnya kisah ini memiliki penggambaran makna kisah yang bisa diinterpretasikan sesuai situasi yang sedang dialami. Yang bisa kita refleksikan, di manakah posisi kita untuk berperan serta apakah hanya omong saja atau menonton pasif. Kelebihan seni wayang atau seni tari adalah makna terbalut di dalam kisah sehingga kesan menggurui itu tidak dirasakan. Lebih dari itu, melalui seni kita bisa menanamkan nilai-nilai humanis seperti nilai-nilai kepribadian dan kemanusiaan sebagaimana menjadi motto USD yang tidak hanya unggul dalam nilai-nilai akademis tetapi juga nilai-nilai humanis.” demikian ungkap Rm. Patrisius Mutiara Andalas, SJ, SS, STD selaku Wakil Rektor III USD. (FXAP)




