Dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ekonomi Universitas Sanata Dharma (FE USD) ke-22 dan road to 60th Dies Natalis USD, Pusat Pengembangan dan Pelatihan Kepariwisataan Universitas Sanata Dharma (P3K USD) bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa FE USD pada hari Sabtu, 28 Maret 2015 mengadakan gerakan moral pembersihan iklan liar lokasi-lokasi strategis Yogyakarta dan sekitarnya. Gerakan moral ini dibagi dalam dua sesi, yang pertama sesi talkshow yang diadakan pada pukul 10.00–12.00 WIB di Student Hall, Kampus I USD Mrican untuk menggugah kesadaran mahasiswa akan adanya fenomena-fenomena sosial yang berdampak pada munculnya iklan-iklan tersebut. Dan yang kedua adalah sesi aksi nyata berupa pembersihan iklan-iklan liar pada pukul 12.00–14.00 WIB di titik nol Yogyakarta dan sekitarnya. Gerakan moral pembersihan iklan liar dalam rangka meningkatkan citra destinasi wisata Yogyakarta mengangkat tema “bring people to change”. Gerakan moral ini mempresentasikan kepedulian mahasiswa FE USD sebagai warga Yogyakarta dalam menjaga citra Yogyakarta sebagai destinasi wisata sekaligus sebagai kota pendidikan.
Tidak bisa dipungkiri bahwa Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang memiliki citra Yogya Istimewa dikenal dengan wilayah yang sangat kaya dengan daya tarik wisata baik yang berbasis budaya, alam, kuliner, dan sejarah. Baik wisatawan nusantara maupun mancanegara, jumlahnya selalu meningkat. Selain itu, peningkatan jumlah kunjungan secara tidak langsung dipengaruhi oleh keragaman institusi pendidikan yang berada di wilayah DIY. Mahasiswa dari berbagai wilayah di Indonesia datang untuk menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta ini. Dalam perkembangannya, sadar atau tidak sadar citra positif DIY sebagai Yogya istimewa semakin ‘tercemar’ dengan banyak iklan-iklan liar yang mengkomunikasikan jasa-jasa, misalnya pembuatan skripsi dan iklan penawaran obat untuk keluhan terlambat haid. Iklan-iklan ini biasanya ditempel di fasilitas-fasilitas publik yang sangat mudah dibaca oleh masyarakat secara luas. Maka dalam talkshow ini, BEM FE USD mengundang dua narasumber untuk menanggapi dan menganalisa fenomena-fenomena sosial tersebut, yaitu Imam Priyono Dwi Putranto, S.E, M.Si (Wakil Walikota Yogyakarta) dan Yohanes Babtista Cahya Widiyanto, M.Si (Dosen Psikologi USD).
Sebagai pembicara yang pertama, Imam Priyono Dwi Putranto, S.E, M.Si mengungkapkan bahwa Yogyakarta sebagai kota kerajaan yang menjadi embrio pengembangan kota Yogyakarta, tentunya meninggalkan jejak budaya yang masih sangat kental. Keluhuran budaya intangible termanifestasi dengan jelas pada budaya tangible yang ada di Yogyakarta. Hal ini mengakibatkan setiap aspek budaya di Yogyakarta selalu sarat akan nilai filosofis sehingga bisa menjadi daya tarik wisata karena keunikan tersebut. Seperti misal Kotagede atau Kotabaru yang ditata dan terdiri dari bangunan dan arsitektur yang tetap eksis sosio kultural. Terkhusus terkenalnya universitas negeri serta suasana pendidikan yang sangat kental, Yogyakarta menjadi sasaran pendatang untuk belajar dan tinggal. “Mahasiswa atau pelajar bila tidak memahami filosofi Yogyakarta akan terjadi radikalisme pemikiran dan perilaku (intoleransi) terwujud dengan terjadinya vandalisme, eklusivisme kelompok, dll. Pendidikan karakter dalam hal ini memegang peran penting untuk bisa menahan laju permasalahan yang akan merusak citra kota Yogyakarta sebagai kota pelajar. Jadi karakter budaya Yogyakarta yang adiluhung itu bisa tetap terjaga dan menjadi daya tarik Yogyakarta sebagai Kota Pariwisata.” demikian ungkapnya. Penataan reklame di Malioboro bertujuan memperlihatkan wajah budaya Malioboro. Reklame yang menutup seluruh façade bangunan BCB wajib dibuka seluruhnya seperti bentuk aslinya. Posisi reklame sejajar jalan 1 muka tidak boleh posisi melintang.Tidak boleh menutup ornament atau arsitektural bangunan.
Hal senada diungkapkan oleh Yohanes Babtista Cahya Widiyanto, M.Si, bahwa kota Yogyakarta dengan berbagai brand image–nya menjadikan Yogyakarta, kota yang bernilai dalam marketisasi. Hal ini dipengaruhi oleh manusia dan masyarakat di dalamnya yang menciptakan tindakan dan melahirkan simbol yang melambangkan manusia dan masyarakat di dalamnya. Yogyakarta sebagai citranya mulai muncul marketisasi liar, bukan semata-mata menjadi tanggung jawab Pemerintah, tetapi perlu menjadi evaluasi sosial bagi masyarakat Yogyakarta. Pasar mengubah dari mode relasi menjadi mode transaksi, dari yang substantif menjadi material dan dari ruang privat menjadi ruang publik, termasuk pendidikan yang mulai berubah dari ‘padepokan’ menjadi ‘pasar’. “Perkembangan market modern yang tidak sehat adalah menonjolnya pleasure principle (prinsip kesenangan), menolak resiko dan mengagungkan keuntungan, permakluman segala cara dengan penciptaan jalan pintas (multi aspek).” demikian ungkapnya. Maraknya bisnis tidak etis dari barang sampai pendidikan, memanipulasi norma dan meminjam tangan otoritas demi kelangsungan bisnis. Hal ini ditunjang juga dengan maraknya eksternalisasi “cara hidup instan”. Lalu apa yang akan kita lakukan bila terjadi kehidupan yang demikian? Kiranya kita perlu menjadi revitalisator bagi diri sendiri dengan mempromosikan semangat dan integritas sebagai cendikia yang berpihak pada ‘citra kota Yogyakarta’. Kita juga perlu berani ‘melawan’ ide pasar’ sesat, dengan pemikiran yang membebaskan melalui publikasi, gerakan dan pendampingan. Kita juga perlu menghidupi dan memahami ‘kesederhanaan Yogyakarta’ di mana kita kritis terhadap perubahan dan berani untuk berprinsip. (FXAP)




