“Ada motivasi yang menarik untuk pindah agama dari Islam ke agama yang lain.” Itulah pernyataan yang dilontarkan oleh Dr. Waryono, salah satu pembicara yang hadir pada acara diskusi dan bedah buku, Menyintas dan Menyebrang: Perpindahan Keagamaan Massal Pasca 1965 di Pedesaan Jawa. Acara tersebut terlaksana berkat kerjasama antara Pusdep (Pusat Sejarah dan Etika Politik) Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan Penerbit buku Syarikat yang diadakaan pada hari Jumat, 22 Agustus 2008, bertempat di Ruang Palma, kompleks Pascasarjana, kampus II Mrican, Universitas Sanata Dharma. Lalu, pria yang juga berprofesi sebagai dosen UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), mengungkapkan bahwa agama pada saat itu mudah dijadikan sebuah alat perlawanan. Stigma atheis terhadap PKI yang beredar pada jangka waktu tahun 1965 menumpuk rasa takut yang mendalam bagi mereka yang tidak memiliki kepercayaan agama formal. Maka dari itu, situasi semacam ini telah mendorong sejumlah pengikut agama Islam untuk melakukan baptisan massal. Hal ini kemudian berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan jemaat Kristen di kawasan desa Tuntang, Ngampel. “Memang, motivasi perpindahan agama ini bukanlah awal dari rasa ketertarikan dan keimanan mendalam mengenai ajaran Kristen, melainkan satu naluri kemanusiaan mereka untuk melangsungkan hidup di tengah ancaman yang tengah dihadapi.” Begitulah ujar sang penulis buku Menyintas dan Menyebrang, Singgih Nugroho pada siang itu. Dijelaskannya lebih lanjut bahwa agama pada saat itu bukan hanya menilik internalnya saja, tetapi lebih kompleksnya merupakan dinamika eksternal yang rumit. Ada kepentingan politik, ekonomi, budaya dan aspek lainnya yang mempengaruhi fluktuasi agama. Meskipun ada umat Kristen “orisinil” yang menganggap tindakan itu sebagai sikap oportunistik, sekedar mencari aman. Namun ketika menghadapi batas antara hidup dan mati begitu tipis, strategi perpindahan agama pun menjadi satu pilihan realistis, bahkan mendesak. Lebih jauh lagi, jelasnya, meskipun ada umat Kristen “orisinil” yang menganggap tindakan itu sebagai sikap oportunistik, sekedar mencari aman. Namun ketika menghadapi batas antara hidup dan mati begitu tipis, strategi perpindahan agama pun menjadi satu pilihan realistis, bahkan mendesak. Dalam diskusi yang menghadirkan 3 pembicara utama, yaitu sang penulis, Singgih Nugroho, Bapak Sigit, tokoh GKJ, Dr. Waryono, dosen Universitas Islam Negri Yogyakarta. Sang penulis sendiri tercatat sebagai alumnus program pascasarjana Ilmu Religi dan Budaya, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Suasana diskusi dan bedah buku tersebut pun berjalan dengan sangat lancar. Banyak pengunjung yang antusias untuk mengajukan berbagai macam pertanyaan berkenaan dengan salah satu isu sejarah Indonesia yang selalu menarik banyak perhatian dari masyarakat luas tersebut. (Bunga)




